Tribunners / Citizen Journalism

Tragedi Wuhan dan Ironi “Manusia Suruhan” : Islam Tanpa Kemanusiaan

Keputusan pemerintah lokal untuk mengisolasi kota Wuhan sudah sangat tepat. Keputusan semua negara untuk memutus kontak dengan Wuhan juga tepat.

Tragedi Wuhan dan Ironi “Manusia Suruhan” : Islam Tanpa Kemanusiaan
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Tragedi Wuhan dan Ironi “Manusia Suruhan” : Islam Tanpa Kemanusiaan

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Tragedi Wuhan tragedi kemanusiaan. Bukan saja senjata nuklir, penyakit juga mampu membunuh secara massif. Menyebar dalam satu momen. Melanda dalam skala internasional. Seluruh kota diisolasi. Seluruh kontak ditutup. Semua penerbangan ke dan/atau dari Wuhan dicancel.

Penanganan wabah corona dalam sejarah mirip dengan model penanganan wabah tha’un. Imam Bukhari merekam sebuah sabda Nabi saw : “jika kamu mendengar wabah di satu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari, no. 5728).

Hingga artikel ini ditulis, jumlah korban corona 1.013 orang meninggal dunia, dan 42.763 orang terinfeksi (Kompas, 11/2/2020). Tapi itu masih terhitung kecil bila dibanding cacatan sejarah korban Tha’un pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. Muhammad Ahmad Muhammad Assayyid mencatat, 70.000 pasukan muslim meninggal dunia di desa Amwas, 20 kilometer dari kawasan Baitul Maqdis (Assayyid, Hadza Huwa an-Nabi shal’am, hlm. 73).

Keputusan pemerintah lokal untuk mengisolasi kota Wuhan sudah sangat tepat. Keputusan semua negara untuk memutus kontak dengan Wuhan juga tepat. Dalam kitab Thibb an-Nabawi, Ibnu Qayyim al-Jauzi juga menyarankan, wajib hukumnya menetap dan menenangkan diri, sebab tidak mungkin keluar dari wilayah wabah (al-Jauzi, Thibb an-Nabawi, Beirut: t.t., 33).

Namun, fenomena dr. Ali Wari berada di luar nalar. Seorang dokter asal Palestina itu menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Dengan membuat grup WeChat yang diberinya nama “Wuhan 2019-nCoV” tersebut mengubah seluruh skenario. Animo masyarakat tidak terkendali. Mereka menyatakan siap jadi sukarelawan asalkan mendapat izin dari pemerintah lokal.

Ali Wari merupakan fenomena kemanusiaan. Di tengah ganasnya virus corona, sebagai seorang dokter ia optimis mampu mengendalikan penyebaran dan peningkatan korban nyawa. Dan berhasil. Orang-orang Arab berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi relawan untuk Wuhan. Muhammad Asad (kandidat doktor asal Mesir), Ba Baintolle (pengusaha kuda asal Uyghur), adalah contoh kecil keberhasilan Ali Wari menggugah kemanusiaan.

“Fenomena Ali Wari”, penulis menyebutnya begitu, menandai era kemanusiaan kita. Sebab, di belahan dunia lain, sebut saja sebagian orang yang berdemo di Pulau Natuna, mereka menolak pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat tinggal di Wuhan. Mereka terlalu banyak bicara dan menuntut, tanpa menunjukkan kepedulian atas nama kemanusiaan seperti yang dicontohkan Ali Wari dan orang-orang pendukungnya.

Fenomena demo di Natuna menunjukkan adanya rasa takut ikut terdampak virus corona. Ini mengubur rasa kemanusiaan yang diperjuangkan dr. Ali Wari dan kawan-kawan. Orang-orang muslim garis kanan pun, yang dulu berteriak-teriak membela Muslim Uyghur, kini bungkam terkait manusia Wuhan. Kepedulian pada manusia China dibatasi oleh sekat keagamaan. Manusia di luar komunitas muslim seperti para korban virus Wuhan diisolasi dari kesadaran keagamaan kita.

Rasulullah saw dan para sahabat Nabi tidak pernah mengisolasi manusia lain sekalipun berbeda agama. Dalam kitab Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, pada bab Kitab al-Janaiz, Ibnu Khatib Assyarbini mengatakan bahwa “seorang muslim tidaklah masalah mengiringi jenazah tetangganya yang kafir, karena Rasulullah memerintah Ali bin Thalib mengiringi jenazah Abu Thalib seperti riwayat Abu Daud,” (Assyarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut: Dar al-Ma’rifah, juz 5, 1997: 543).

Islam sangat menekankan pentingnya menghormati, memuliakan, dan berbuat baik pada orang lain, bahkan orang asing, manca negara, dan kafir; baik berhubungan karena tempat tinggal atau karena profesi (Majalah Ad-Dak’wah, Masalah No. 1762-1772, tahun 2000). Dengan tetap menjalankan nilai dan memegang teguh aspek kamanusiaan, Islam betul-betul terasa sebagai rahmatan lil alamin, berkah bagi semesta jaga. Bukan pada kelompok terbatas saja.

Dalam ajaran Islam, tragedi Wuhan sudah masuk dalam bab ziyaratul maridh (menjenguk orang sakit). Hasan Ayyub dalam al-Suluk al-Ijtima’i fi al-Islam menyebutkan bahwa mengunjungi orang sakit kafir non-harbi adalah boleh (yajuz). Bahkan, Ayyub mengutip Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 149 bahwa mengunjungi kerabat yang musyrik diperbolehkan (Ayyub, al-Suluk al-Ijtima’i, Dar al-Buhuts al-Ilmiah, 1979: 134).

Karenanya, berislam tanpa kemanusiaan jauh lebih ironis dibanding kematian karena virus. Sebab, ketidakpedulian pada dimensi kemanusiaan akan dilegitimasi dengan dalil-dalil agama. Sementara agama mengajarkan kebaikan universal, cinta kasih, penghormatan, dan persaudaraan. Makna keberislaman inilah yang ditangkap oleh dr. Ali Wari (Palestina), Muhammad Asad (Mesir), Ban Baintolle (Uyghur), dan kawan-kawan yang tulus mendaftarkan diri jadi relawan.[]

*Penulis adalah Alumni pesantren Lirboyo, Kediri; alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-20

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved