Tribunners / Citizen Journalism

Polemik Ucapan Kepala BPIP, KH Imam Jazuli: Bukan Agama Saja, Kemanusiaan Juga Musuh Pancasila

Maksud Profesor Yudian itu, dengan pilihan diksi "agama musuh Pancasila", adalah kaum ekstrimis-radikalis yang mengatasnamakan agama.

Polemik Ucapan Kepala BPIP, KH Imam Jazuli: Bukan Agama Saja, Kemanusiaan Juga Musuh Pancasila
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Prof. Yudian, "Bukan Agama Saja, Kemanusiaan Juga Musuh Pancasila!"

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Pertama sekali, penulis ucapkan selamat atas Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D, atas dilantiknya sebagai Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara 5 Februari 2020 kemarin. Ini kesempatan sekaligus tantangan bagi mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga alumni Harvard University itu, untuk bekerja demi bangsa dan negara.

Pada hari-hari pertama masa jabatan di BPIP, karakter khas intelektual UIN tampak pada diri bapak Yudian. Kontroversial yang bermodalkan wacana agama. Ucapan Yudian yang viral sekarang kira-kira berbunyi:

"agama musuh besar Pancasila". Penulis rasa ini hanya "gimmick"; suatu cara yang digunakan para pesulap di atas panggung untuk menipu penonton. Sebab, pada saat bersamaan, Yudian mengatakan: "sebab agama ditemukan dalam setiap poin Pancasila." Artinya, agama bukan musuh.

Maksud Profesor Yudian itu, dengan pilihan diksi "agama musuh Pancasila", adalah kaum ekstrimis-radikalis yang mengatasnamakan agama. Bukan agama sejati yang mengajarkan kebaikan, kemanusiaan, cinta kasih, dan rahmatan lil alamin. Jadi, ini bukan perkara asing lagi di telinga kita. Hanya saja, karena baru menjabat posisi tinggi di Ibu Kota, maka intelektual dari lokal Jogja itu sedikit gelagapan dalam menyusun ucapan dan keterangan.

Penulis hargai itu hanya keseleo lidah. Sebagai sebuah pelajaran bahwa di masa depan tidak boleh terulang lagi. Sebab pemimpin harus diuji oleh rakyatnya yang dipimpin. Ini bagian dari semangat demokrasi di satu sisi, dan semangat kritis intelektualisme di sisi lain.

Selama ini Profesor Yudian terkenal di kalangan akademisi sebagai intelektual mumpuni dengan segudang prestasi, bahkan di kalangan sebagian santri, Prof. Yudian sampai menjadi "mitos" tersendiri. Salah satu bunyi mitos itu: "santri-santri harus mampu menembus pintu gerbang Harvard". Inilah momen paling berharga untuk membuktikan bahwa santri yang tembus ke kampus Harvard betul-betul berguna bagi bangsa dan negara.

Penulis masih terngiang pesan KH. Musthafa Bisri (Gus Mus) kepada Prof. Mahfud MD yang sekarang jabat Menko Polhukam. Kata Gus Mus: "hati-hati, jabatan bisa mengubah orang!". Pesan Gus Mus ini penulis rasa masih cocok untuk Prof. Yudian. Sebab, sudah bukan rahasia lagi bahwa Ibu Kota Jakarta itu kadang kala memang beringas, mengubah seseorang yang dulu idealis tiba-tiba pragmatis dalam sekejap mata.

Kembali lagi ke topik yang dilontarkan Ketua BPIP yang baru itu bahwa "agama musuh Pancasila", penulis rasa tidak saja agama. Musuh Pancasila juga bisa datang dari dimensi kemanusiaan. Artinya, kemanusiaan sama dengan agama berpotensi menjadi musuh besar Pancasila. Mengapa? Sebab Pancasila itu bukan saja agama dan bukan saja kemanusiaan, melainkan di dalam Pancasila itu terpilin antara inti agama dan inti kemanusiaan.

Misalnya saja, seseorang yang teguh memegang agama dan melupakan kemanusiaan maka dia akan jadi ekstrimis-radikalis. Itu yang terjadi pada kelompok ekstrimis-radikal hari ini, sehingga mereka berpikir di luar agama Islam tidak ada hak untuk eksis dalam bingkai pro dan ko-eksistensi. Lebih sempit lagi, di luar ajaran Islam versi kelompok mereka sendiri juga tidak punya hak untuk eksis. Karenanya mereka membabi buta; baik sesama umat muslim apalagi kepada non-muslim.

Sebaliknya juga begitu, seseorang yang teguh memegang kemanusiaan dan melupakan agama maka dia akan jatuh pada sekularisme bahkan puncaknya ateisme. Jika sebatas pemikiran masih mending dibanding bila kelak menjelma kelompok dan gerakan politik. Bahayanya tidak akan terbendung. Contohkan saja beberapa tahun silam soal legalisasi praktik LGBT secara hukum, politik, sosial dan kebudayaan. Atau, belakangan ini muncul wacana legalisasi pertanian ganja sebagai produk ekspor. Kemanusiaan tanpa agama tidak cocok untuk kita yang berpegang pada Pancasila.

Di dalam Pancasila, agama dan kemanusiaan bagaikan mata rantai yang saling sambung menyambung dan memperkuat satu sama lain. Agama turun dari langit dan kemanusiaan tumbuh berkembang seiring perjalanan historis kita sebagai manusia. Agama itu mutlak dan kemanusiaan itu relatif. Di antara agama dan kemanusiaan terdapat manusia yang hidup, kreatif, subjek yang otoritatif untuk menafsir, sehingga agama dan kemanusiaan dapat diramu dalam satu formula yang komprehensif.

Profesor Yudian bila tidak paham ini maka otomatis akan melihat agama sebagai musuh Pancasila. Agama dibayangkan olehnya sebagai subordinat Pancasila. Jika begitu nalarnya, maka kemanusiaan juga bisa jadi subordinat Pancasila. Sebab di negara-negara maju yang menghapus agama dari konstitusi mereka telah melegalkan LGBT atas nama nilai kemanusiaan. Di Indonesia, kemanusiaan semacam itu akan bertabrakan dengan Pancasila.

Membayangkan agama dan kemanusiaan sebagai subordinat-subordinat Pancasila adalah contoh sesat pikir. Jika ia terlalu mencintai agama maka ia akan membenci Pancasila. Menganggap Pancasila sebagai ideologi Thoghut. Kelompok ekstrimis-radikal contohnya. Sebaliknya, jika membenci agama maka ia akan menghapus agama atas nama Pancasila. Bahkan menganggap "agama sebagai musuh besar Pancasila". Dua macam sesat pikir dan keseleo nalar begini disebabkan menempatkan agama sebagai subordinat Pancasila.[]

*Penulis adalah Alumni pesantren Lirboyo, Kediri; alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.





Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved