Tribunners / Citizen Journalism

Pseudo-science Islam dan Salah Kaprah UAS

Di dalam nalar akademik, tindakan yang terpuji hanyalah tindakan saintifikasi segala persoalan. Alam semesta ini, mulai dari langit, bumi, isi bumi

Pseudo-science Islam dan Salah Kaprah UAS
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Pseudo-science Islam dan Salah Kaprah UAS

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Penulis sangat bersyukur melihat adik kelas selama di Universitas Al-Azhar, Mesir, maupun di Universitas Kebangsaan Malaysia, Ustad Abdul Somad (UAS), telah meraih gelar doktor. Terakhir viral ia menjadi Visiting Profesor (Dosen Tamu) dari salah satu kampus di Brunei Darus Salam. UAS bukan saja akademisi tetapi juga seorang da'i.

Penulis mengakui bahwa nalar dan amanah yang terkandung dalam gelar akademik sebagai "doktor” berbeda dengan nalar dan amanah yang berlaku dalam gelar kultural sebagai "da'i". Di dalam nalar akademik, tindakan yang terpuji hanyalah tindakan saintifikasi segala persoalan. Alam semesta ini, mulai dari langit, bumi, isi bumi yang terdiri dari manusia, hewan, dan bintang, semua itu harus dirumuskan menjadi ilmiah. Inilah kerja saintifikasi.

Agama (Islam) juga bisa jadi objek saintifikasi. Karenanya muncul ulumul Quran, ulumul hadits, fikih, kalam, dan tasawuf. Semua disiplin ilmu ini membuat agama Islam semakin terpahami secara lebih rasional. Sejarah sudah membuktikan bahwa Islam pernah berjaya di muka bumi Inilah pekerjaan saintifikasi Islam yang berhasil di zaman lampau.

Pekerjaan membuat agama rasional (saintifikasi) adalah tugas ilmuan Islam. Namun, ada perkara lain yang jadi anti-tesa dari pekerjaan akademis (saintifikasi Islam) tersebut. Yakni, Islamisasi sains. Sebenarnya, ini sudah wacana lawas dan sangat usang dalam kajian keislaman. Islamisasi sains adalah pekerjaan yang sangat ringan sekali. Tanpa perlu riset dan penelitian ilmiah, siapa pun bisa melakukannya. Bahkan, seorang yang tidak berpendidikan pun bisa melakukannya. Cukup bermodal klaim buta.

Di titik ini, penulis sedikit menyesali UAS yang menyebut persebaran virus corona di Wuhan China sebagai tentara Allah (Hajinews.id, 11/2/2020). Tentara Allah yang tidak akan membunuh Muslim Uyghur. Karena Muslim Uyghur terpelihara kebersihannya karena wudhu'.

Penulis rasa, tidak perlu seorang bergelar doktor untuk berbicara seperti itu. Seorang artis pun tinggal kita beri teks ceramah/pidato, lalu suruh bicara di depan publik, kemudian upload ke media sosial. Dia pun pasti fasih bilang virus corona adalah kutukan dari tentara Tuhan atas manusia Wuhan, China.

Penyebaran virus corona adalah satu fenomena. Perilaku hidup muslim Uyghur di Xinjiang adalah fenomena lain. Dua fenomena ini diringkus ke dalam satu sudut pandang: kutukan dan serangan tentara Tuhan. Sehingga muncul satu penarikan kesimpulan, walaupun sesat dan menyesatkan, yang berbunyi: "virus corona tidak akan menyerang hamba Tuhan yang makan makanan sehat, suci, bersih, tak ada bakteri."

Nalar sesat seperti di atas dapat berlaku dalam kasus-kasus lain tanpa terbatas. Misalnya: 1) merebaknya korupsi di lingkaran pejabat pemerintah, 2) sistem demokrasi dan Pancasila yang disepakati mayoritas, dan 3) ideologi khilafah yang diyakini sebagai solusi persoalan umat dari hulu ke hilir. Jika tiga variabel ini digabung maka akan tampak tersusun begini: "khilafah harus ditegakkan demi mengatasi segala problem umat, termasuk korupsi dan kegagalan sistem demokrasi maupun Pancasila." Ini nalar palsu, pseudo-science.

Islamisasi sains dapat dibilang “pseudo-sciences,” kebenaran yang menipu, terlebih di mata kaum akademisi. Tetapi, bagi sebagian orang, Islamisasi sains sangat entertain, menghibur, memberi motivasi dan semangat. Bukan saja dalam kasus virus corona saja, ketika teori Big Bang sulit dibantah maka berbondong-bondong umat muslim mencari dalilnya dalam al-Quran. Sudah pasti mereka ketemu, dan bangga dengan kecocokan tersebut.

Contoh lain, ketika teori energi ditemukan dan manusia bisa terbang ke luar angkasa, maka umat muslim bergembira karena lagi-lagi menemukan ayat-ayat al-Quran yang cocok. Padahal, mereka yang mengaji al-Quran tidak terlibat aktif dan berkontribusi besar pada penemuan-penemuan saintifik tersebut.

Sebaiknya, UAS belajar membatasi diri dan cukup mengatakan bahwa penemu virus corona pertama kali adalah umat muslim, bukan orang China. Sebab pernyataan begini dapat divalidasi, difalsifikasi, yang merupakan ciri utama sains. Berbeda bisa tafsir UAS terlampau jauh dengan mengatakan bahwa virus corona sebagai tentara Allah. Ini mustahil difalsifikasi, dan karenanya ia otomatis tidak ilmiah.

Rasulullah saw. ingin umat muslim menggunakan akal sehatnya dalam beragama. Dalam kitab Faidhul Qadir Syarhul Jami' as-Shaghir, Abdurrauf al-Munawi mencatat riwayat yang berbunyi: "Qawwamul Mar-i 'aqluhu, wa la dina liman la 'aqla lahu, pemimpin seseorang itu adalah akalnya. Tidak ada agama bagi orang yang tidak punya akal," (al-Munawi, Faidhul Qadir, Juz 4, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1972: 528).

Umat muslim generasi Salafus Soleh paham betul apa maksud dari hadits di atas. Karena itulah, muncul tokoh-tokoh besar di dalam sejarah Islam. Sebut saja Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar yang terkenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (691-751 H.). Beliau mengarang kitab kedokteran yang didasarkan pada sunnah Nabi, berjudul kitab At-Thibb An-Nabawi. Jika dipelajari sungguh-sungguh, isi kitab ini adalah ilmu kedokteran yang rasional, empiris, positivistik, kuantitatif.

Kemampuan umat muslim untuk berpikir rasional, menciptakan sains pengetahuan, sembari tetap berpegang pada al-Quran dan Hadits, melahirkan banyak ilmuan. Dr. Subhi al-Mazini mengarang sebuah kitab berjudul Rawa'iu Tarikh at-Thibb wal Athibba' al-Muslimin, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971.
Di sana terdapat penjelasan historis pencapaian-pencapaian prestisius di bidang kedokteran oleh umat muslim di masa-masa awal kebangkitan Islam. Andaikan mereka masih hidup di zaman kita, tentu mereka tidak akan menyebut "virus corona" sebagai kutukan pada orang China yang telah berlaku kejam pada muslim Uyghur. Pasti salafus soleh kita itu akan melakukan riset ilmiah dan menciptakan obat penangkalnya.

Penulis rasa, Islamisasi pencapaian prestisius sains dalam berdakwah lebih banyak mengandung unsur mudaratnya dari pada manfaatnya. Mungkin sebagian audiens akan terhibur dan puas, tapi dampak negatifnya akan panjang. Yakni, rusaknya mentalitas umat muslim dan pembodohan publik yang mengarah pada kemunduran umat Islam. Semoga UAS paham atas dampak konten ceramahnya itu.[]

*Penulis adalah Alumni pesantren Lirboyo, Kediri; alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

 

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved