Tribunners / Citizen Journalism

Ramadan 2020

Gus Miftah, Dai Nyentrik Teladan Generasi NU Milenial

Jejak perjalanan Gus Miftah yang malang melintang dan banyak manuver ini membuat ia memang jauh lebih moncer dibanding dai-dai NU lain

Surya/Ahmad Zaimul Haq
Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab dengan sapaan Gus Miftah, guru spiritual Deddy Corbuzier yang sempat viral karena dakwah di tempat hiburan malam, diserbu umat untuk bersalaman usai memberikan tausiah pada Tabligh Akbar bertema Spirit 1441 Hijriyah di Masjid Nasional Al Akbar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (6/9/2019). Dalam kesempatan tersebut, pria yang kerap kali menggunakan kacamata hitam ini mengungkapkan alasan yang membuatnya tidak takut dakwah di tempat-tempat hiburan malam. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

Gus Miftah, Dai Nyentrik Teladan Generasi NU Milenial

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

TRIBUNNEWS.COM - Namanya adalah Miftah Maulana Habiburrahman atau akrab dipanggil Gus Miftah. Anak muda yang sudah mampu mengelola pondok pesantren dengan nama yang unik: Ora Aji. Berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Ia keturunan ke-19 Kiai Ageng Hasan Besari, Ponorogo.

Kiai Ageng Hasan Besari ini hidup di abad 18 Masehi dan menjadi guru bagi maharaja Jawa. Menjadi terkenal pengaruhnya karena Kiai Hasan Besari mampu menggabung dua kutub: Islam dan Nasionalisme.

Almarhum Gus Dur (presiden Indonesia ke-4) merujuk figur Kiai Hasan Besari ini, sebagai teladan ulama yang mampu menggabung paham Islam dan nasionalisme. Gus Miftah adalah anak muda di generasi kita yang juga mewarisi darah perjuangan kakek buyutnya ini, yang nasionalis juga Islamis.

Gus Miftah sering menyebut dirinya "Pujakesuma", yang berarti Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Tepatnya di desa Adiluhur, Jabung, Lampung Timur, Agustus 1981. Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Jayasakti, Lampung Tengah. Tahun 1999, hijrah ke kota Yogyakarta.

Dari sekian banyak gus muda Nahdlatul Ulama, Gus Miftah terbilang paling moncer. Per tanggal 7 Mei 2020, ada survei tentang ustad-ustad dengan kategori followers, subscribers, dan viewers tertinggi. Channel yang dijadikan objek risetnya adalah youtube, facebook, dan instagram.

Di channel Instagram, Gus Miftah memiliki "jamaah" 1.1 juta (instagram). Ustad-ustad di atas Gus Miftah ada Hanan Attaki (8.2 juta), AA Gym (5.5 juta), Felix Siaw (4.6 juta), Abdul Somad (3.2 juta), Syeikh Ali Jaber (3 juta), Adi Hidayat (2.7 juta), Yusuf Mansur (2.6 juta), Zaidul Akbar (2.4 juta), Khalid Basalamah (1.8 juta), dan Syafiq Riza Basalamah (1.3 juta). Jadi, Gus Miftah ada di urutan ke-11.

Di channel facebook, jamaah Gus Miftah 155 ribu. Ustad-ustad di atas beliau ada Yusuf Mansur (6.8 juta), AA Gym (6.8 juta), Syafiq R Basalamah (648 ribu), Khalid Basalamah (469 ribu), Firanda Andirja (328 ribu), Salim A Fillah (275 ribu), Emha Ainun Najib (188 ribu). Jadi, Gus Miftah berada pada ranking ke-8.

Di channel youtube, Gus Miftah memiliki jamaah 401 ribu dengan 22 juta viewers. Ustad-ustad di atas Gus Miftah ada: Khalid Basalamah (1.35 juta dengan 51.5 juta viewers), Hanan Attaki (1.18 juta dengan 34 juta viewers), Abdul Somad (785 ribu dengan 30 juta viewers), Adi Hidayat (739 ribu dengan 19.1 juta viewers), Syafiq R Basalamah (645 ribu dengan 44.2 juta viewers), Felix Siaw (637 ribu dengan 33.6 juta viewers). Jadi, Gus Miftah ada pada ranking ke-7.

Hasil riset ini tidak untuk membanding-bandingkan satu ustad dengan ustad lainnya. Namun, data ini berfungsi sebagai informasi persebaran jamaah milenial yang akrab dengan teknologi dan media sosial. Kecenderungan generasi milenial pada konten dan figur ustad-ustad milenial.

Sementara variabel lain, seperti jamaah pedesaan dan kampung yang tidak akrab dengan teknologi, tetap tidak terhitung. Belum ada publikasi ilmiah yang menunjuk afiliasi mereka.

Ketenaran Gus Miftah dimulai sekitar dua tahun silam. Tahun 2018, ada video yang viral, berupa pembacaan solawat Nabi di diskotik. Nama Gus Miftah mulai didengar publik.

Lambat laun berlalu, tiba-tiba artis papan atas, Deddy Corbuzier, masuk Islam di hadapan Gus Miftah. Terakhir, almarhum Didi Kempot juga santer berita sering mengaji agama di Pesantren Ora Aji asuhan Gus Miftah.

Jejak perjalanan Gus Miftah yang malang melintang dan banyak manuver ini membuat ia memang jauh lebih moncer dibanding dai-dai NU lain. Salah satu alasannya adalah fleksibilitas. Sikap fleksibel beliau, yang mau bergaul dengan banyak orang, lintas profesi, membuat beliau diterima banyak kalangan.

Misalnya, ketika netizen viral menghujat Gus Miftah, mengatakan tidak pantas berdakwah di dunia remang-remang diskotik, maka muncullah pembelaan dari para pekerja malam itu. Mereka membalas hujatan orang yang pedas mengkritik Gus Miftah. Ada yang mengatakan, "apakah orang seperti kami tidak pantas mendapatkan pencerahan dan ilmu agama?!"

Pembelaan ini sangat merenyuhkan hati. Gus Miftah dibela oleh orang-orang yang memang membutuhkan. Mereka yang ingin menjadikan agama sebagai penerang kehidupan, ketika hidup mereka bergelimang dosa dan maksiat. Sementara kelompok penghujat ini menjadikan agama untuk menggelapkan orang lain. Kontras sekali.

Fleksibilitas manhaj dakwah Gus Miftah menginspirasi banyak orang, publik umum, pengamat, akademisi, bahkan politisi. Bahkan tahun 2019, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, sempat memuji peranan sosial-religius dan kebangsaan Gus Miftah. Anies mengatakan, "rumah boleh di kampung, pengaruh ke seluruh dunia".

Dari sini, fleksibilitas Gus Miftah mengantarkannya mampu bergaul dengan semua pihak, mulai orang-orang di klub malam, para artis, hingga pejabat publik. Da'i NU yang seperti ini dibutuhkan oleh generasi milenial. Metode dakwah yang terus memosisikan diri dengan perkembangan zaman.

Dengan perkembangan sosial media, seperti instagram, Gus Miftah pun tidak ketinggalan. Bukan saja bermain dari panggung ke panggung, tetapi "positioning" dirinya di media sosial sangat menarik. Konten-konten dibuat disesuaikan dengan karakteristik media sosial; renyah, singkat, padat dan jelas.

Alhasil, paham keislaman, nasionalisme, fleksibilitas manhaj dakwah, penguasaan teknologi, aktivisme di media sosial, membuat Gus Miftah adalah gambaran figur ideal seorang da'i NU hari ini. Tidak berlebihan jika sekiranya kita berharap muncul gus-gus lain yang meneladani Gus Miftah.

Akhir kata, NU adalah gudang ulama. Kehadiran para kiai dan gus NU dibutuhkan publik. Karena karakteristik publik itu variatif-majemuk, sosok-sosok yang fleksibel seperti Gus Miftah sangat penting. Mendesak dan urgen sekali.[]

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

 

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved