Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Nadir, Tokoh Milenial Islam dan Kemanusiaan

Sebagai intelektual profesional, Gus Nadir mengelola satu website pribadi yang mempromosikan “Islam Kemanusiaan”.

FACEBOOK.COM
Nadirsyah Hosen akrab disapa Gus Nadir 

Sebagai intelektual profesional, Gus Nadir mengelola satu website pribadi yang mempromosikan “Islam Kemanusiaan”.

Bahkan, pada tahun 2010, beliau sudah menerbitkan buku berjudul "Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era", (Republic of Letters Publishing, Dordrecht, The Netherlands, 2010).

Karya-karya lain Gus Nadir yang juga fenomenal berjudul "Shari'a and Constitutional Reform in Indonesia" (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2007) dan “Modern Perspectives on Islamic Law" (Edward Elgar, UK, 2013 dan 2015).

Tidak berlebihan bila menyebut beliau sebagai intelektual muslim tradisional yang telah menaklukkan Barat.

Tentu tidak dalam rangka mengecilkan intelektual muslim lain yang berkarir di Barat, tetapi Gus Nadir adalah representasi yang patut diacungi jempol.

Tentang Islam Kemanusiaan yang diperjuangkan Gus Nadir, salah satunya, dapat dibaca melalui artikelnya yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan (2018)” dan “Kemanusiaan Mendahului Sikap Religius (2019)” dalam https://nadirhosen.net.

Secara garis besar ada kesinambungan gagasan dengan karya-karya beliau sebelumnya, di antaranya “Islam in Southeast Asia,” 4 volumes, (Routledge, London, 2010) maupun “Law and Religion in Public Life: The Contemporary Debate, (Routledge, London, 2011 dan 2013).

Yang paling mengesankan dari pikiran Gus Nadir adalah perlawanannya terhadap gerakan Hizbut Tahrir Indonesia, sebagai salah satu ormas agama yang menetang NKRI dan Pancasila. Bukunya yang luar biasa berjudul “Islam Yes, Khilafah No!” (Yogyakarta: Suka Press, 2018).

Sebelum buku ini terbit, sudah jauh hari Gus Nadir menguliti penyelewengan-penyelewengan makna sejarah khilafah, seperti yang bisa diikuti dari artikel “Tiga Khilaf dalam Memahami Khilafah,” (nadirhosen.net, 21 Mei 2017).

Gus Nadir pantas disebut sebagai “Pahlawan Islam Kemanusiaan” dengan mengkritik Hizbut Tahrir. Sebab, pada saat bersamaan, Hizbut Tahrir Internasional memang menentang Human Rights dengan menuduhnya sebagai praktik sekularisasi (www.hizb-ut-tahrir.info, 25 Februari 2019). Padahal, sejak era Imam Asy-Syathibi, Maqashid Syariah sudah menjadi embrio perumusan ilmiah persenyawaan Islam dan Kemanusiaan. Asy-Syathibi sendiri intelektual muslim Granada, Spanyol, dari abad 8 Hijriyah (1388 M).

Halaman
1234
Berita Populer
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved