Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Hagia Sophia, Sandi 'Penaklukan' Politik Domestik Turki

Kebijakan Hagia Sophia dipilih Erdoğan karena memang punya magnet sebagai kekuatan pemersatu dari sekian ragam simbol bersejarah di Turki.

Ozan KOSE / AFP
Foto diambil pada tanggal 26 Juni 2020 di Istanbul, seorang turis mengambil foto bagian tengah utama Hagia Sophia melalui "Gerbang Kaisar". Pengadilan tinggi Turki pada 10 Juli 2020 mencabut status Hagia Sophia abad keenam sebagai museum, 

Penulis: Arya Sandhiyudha, Ph.D
Pengamat Politik Internasional,
Direktur Eksekutif The İndonesian Democracy Initiative (TİDİ)

TRIBUNNERS - Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki, mengonversi Hagia Sophia menjadi masjid pada 10 Juli 2020 dan mengucapkan kalimat yang menggelegar, "Ini adalah saat-saat paling kami nantikan, yaitu mendengar suara-suara azan di Hagia Sophia!"  

 Lebih Kepada Proyeksi Domestik Daripada Internasional

Merespon kebijakan tersebut, sangat menarik disimak misalnya, polling MetroPOLL Araştırma di Turki yang menunjukkan bagaimana sikap warga para pemilih parpol di Turki mengenai kebijakan Hagia Sophia.

Betapa mengejutkan melihat ada 50% pemilih MHP yg setuju mempertahankannya sebagai museum; dan sekitar 21% pemilih CHP menginginkan pengembaliannya sebagai fungsi masjid. Jadi elemen politik domestik Saya duga tetap menjadi pertimbangan utama Erdoğan.

Kebijakan Hagia Sophia dipilih Erdoğan karena memang punya magnet sebagai kekuatan pemersatu dari sekian ragam simbol bersejarah di Turki.

Itulah yang dipilih di tengah kondisi popularitas nya yang melemah di Turki, terutama di dua kota terbesar: Ankara dan Istanbul.

Hagia Sophia seperti "bubuk mesiu" terakhir dan digunakan dalam upaya mempertahankan kekuasaan dan menambah sumber-sumber dukungan baru untuk kemenangan politik.

Tema ini memang terus menjadi pro-kontra setiap kali diangkat sejak 1950-an, dimana ia selalu efektif sebagai perekat kelompok-kelompok Islam-Turki.

Setelah dimuseumkan oleh Mustafa Kemal Ataturk pada 1934, kini telah "ditaklukkan" lagi dan "dikembalikan" ke Islam dan Turki.

Halaman
1234
Editor: Malvyandie Haryadi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved