Rabu, 27 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Utak Atik Ketua Umum PP PBSI 2020-2024

Jagat Bulutangkis nasional diramaikan perbincangan seputar rencana pergantian kepengurusan di organisasi olahraga terpopuler kedua setelah sepak bola

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro
dok pribadi
UTAK-ATIK KETUM PP PBSI 2020-2024 

OLEH: Adhi Tb

Jagat Bulutangkis nasional diramaikan perbincangan seputar rencana pergantian kepengurusan di organisasi olahraga terpopuler kedua setelah sepak bola ini. Sejumlah nama kondang menghiasi pemberitaan dalam beberapa hari terakhir.

Agung Firman Sampurna, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), bisa ditempatkan diurutan teratas. Nama Agung sementara melejit "mengungguli" beberapa public-figure lainnya. Termasuk Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Kapolri Jenderal. Pol. Idham Azis, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Ari Wibowo, Ketua Pengprov PBSI Banten.

Bisa lebih ramai jika Icuk Sugiarto juga bersedia mencalonkan diri. Juara dunia 1983 ini sudah beberapa kali masuk bursa bakal calon ketum PP PBSI beberapa periode terakhir. Tampaknya Icuk kini lebih siap menjadi "penyeimbang": mengkritisi para kandidat.

PARA BALON

Dengan persyaratan pengajuan bakal calon (balon) ketum PP PBSI 2020-2024 minimal didukung oleh 10 suara (pengprov), maka bisa saja akan ada tiga calon. Itu dengan mempertimbangkan masing-masing balon mendapat dukungan 10 atau 11 suara, dari total 34 pengprov di seluruh tanah air.

Alex Tirta dan Agung Firman Sampurna
Alex Tirta dan Agung Firman Sampurna

Jika di atas disebutkan nama Agung Firman Sampurna yang ketua BPK disebut-sebut layak diterakan diurutan pertama, itu karena adanya klaim dari pendukungnya. Agung Firman disebut-sebut mendapat dukungan dari mayoritas pemilik suara. Tak tanggung-tanggung, ketua BPK mengklaim memperoleh dukungan dari 26 pengprov.

Dengan perolehan suara mayoritas itu Agung Firman mestinya sulit untuk tidak tampil ke singgasana "PBSI-1". Tidak mengejutkan juga jika pendukungnya tengah memperjuangkannya untuk dapat ditetapkan secara aklamasi. Cara yang sama dengan saat Wiranto menggulingkan Gita Wirjawan di Munas PBSI 31 Oktober 2016 di Surabaya.

Empat tahun silam, Wiranto yang kala itu menjabat Menkopolhukam, hingga saat-saat menjelang Munas di Surabaya masih mendapatkan perlawanan dari Gita Wirjawan. Namun, Wiranto dengan bantuan Alex Tirta dan kawan-kawan akhirnya berhasil menundukkan Gita Wirjawan. Gita, yang pernah menjadi anggota Exco PSSI itu, melemparkan handuk putih sebelum Munas dibuka.

MENGAPA BPK?

Saat ini, effort serupa coba diulangi oleh Alex Tirta. Bukan rahasia lagi jika pengusaha hiburan yang pemilik Grup Alexis itu menjadi penyokong utama Agung Firman. Sudah menjadi pengetahuan umum pula jika Alex Tirta di support oleh Wiranto. Patut diduga pula jika kolaborasi Wiranto-Alex Tirta dalam memajukan nama Agung Firman sebagai ketum PP PBSI 2020-2024 didukung pula oleh tokoh-tokoh yang bersama mereka saat berjuang merebut kursi "PBSI-1" periode 2016-2020.

Yang masih menjadi rahasia adalah bagaimana kolaborasi Wiranto-Alex Tirta bisa bersinergi dengan Agung Firman. Orang nomor satu di BPK itu ditampilkan sebagai satu-satunya sosok yang mampu "menyelamatkan" bulu tangkis nasional. Melalui pemberitaan yang impresif dan masif, Agung Firman dicitrakan sebagai tokoh yang mampu membuat PP PBSI lebih profesional dan mandiri secara keuangan

Klaim ini sangat debatable. Bisa dipertentangkan. Agung Firman bukan dari jajaran pengusaha. Dia adalah birokrat yang saat ini menjadi tokoh penentu atau kunci dari sebuah institusi yang memiliki tanggungjawab besar dalam tatakelola keuangan negara.

BPK adalah salah satu institusi negara yang vital. Pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan yang dilakukan BPK tidak terbatas pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Akan tetapi juga organ-organ strategis seperti Bank Indonesia (BI), lembaga-lembaga negara, BUMN, BUMD, serta Badan Layanan Umum (BLU), dan semua lembaga yang mengelola keuangan negara.

BPK menyerahkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara kepada DPR dan Presiden.

Sampai di sini, agaknya masih sulit diterima oleh nalar bagaimana bisa terjalin kolaborasi antara Wiranto yang kini menjabat ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), dengan Alex Tirta yang pengusaha hiburan dan Agung Firman, birokrat yang memiliki tanggungjawab besar dalam penilaian pengelolaan keuangan negara yang bersih.

Peranan vital Agung Firman dalam tatakelola keuangan negara, di pusat, daerah, serta lembaga-lembaga strategis lainnya itulah yang dikhawatirkan menimbulkan conflict of interest. Apalagi, mayoritas pimpinan organisasi bulu tangkis di daerah adalah birokrat atau "orang pemerintah".

ISU-ISU LAIN

Figur ketua umum memang selalu menjadi isu yang paling sensitiv setiap kali menjelang gelaran Munas. Tak berlebihan jika menuju Munas PBSI 2020, yang jika tak ada aral melintang dilaksanakan November mendatang di Jakarta, pro-kontra para balon ketum PP PBSI 2020-2024 tetap mengemuka.

"PBSI memang organisasi yang seksi. Tidak kalah dengan sepak bola. Jadi apa pun terkait ketua umum PP PBSI pastilah menarik," ungkap Ari Wibowo.

Ketua Pengprov PBSI Banten ini mengaku siap all-out di perebutan ketum PP PBSI 2020-2024. Meski menyadari akan menghadapi pertempuran yang berat, namun ia mengaku tidak gentar. Bicara soal dukungan, ia mengaku memperoleh support dari 12 hingga 14 pengprov.

Kendati demikian, Ari Wibowo juga menyadari jika dukungan yang diperolehnya sudah mutlak. Dia bilang, tak ada yang bisa menjamin suara-suara pendukungnya bisa bergeser. Begitu juga dengan klaim balon ketum lainnya.

"Ya saya memang baca kalau Pak Agung Firman disebut-sebut sudah memperoleh dukungan dari mayoritas pengprov. Tetapi, apakah itu benar?" Ari Wibowo mempertanyakan.

Pemilik klub Ardes (Cikupa, Tangerang) ini juga menyebut nama Moeldoko, ketua KSP, sebagai figur yang layak diperhitungkan. "Yang diam-diam seperti ini bisa membahayakan," kata pengusaha perkayuan kelahiran Semarang 44 tahun lampau itu.

"Saya menghargai semangat teman-teman yang mendukung saya," ujarnya, ketika disinggung kemungkinan berkolaborasi dengan balon lainnya, Agung Firman atau Moeldoko.

"Untuk saat sekarang saya siap fight," seru Ari Wibowo.

Di sisi lain, Ari Wibowo menyebut jika persyaratan dukungan minimal 10 pengprov untuk mengajukan balon ketum terlalu besar. Dia mengusulkan lima pengprov.

"Jadi bisa memunculkan lebih banyak bakal calon. Semakin banyak, makin demokratis, itu harapannya," Ari Wibowo menegaskan.

*Adhi Tb, wartawan senior dan pengamat Bulutangkis 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved