Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Prof T Jacob dan Usulan Hari Paleoantropologi Indonesia

Prof Dr T Jacob mengusulkan ekskavasi awal di Wajak 9 Juni 1890 oleh Dubois dapat dianggap permulaan penelitian paleoantropologi di Indonesia

TRIBUN PEKANBARU/Theo Rizky
Museum Manusia Purba Sangiran dengan tema The Homeland of Java Man resmi diselenggarakan di Sadira Plaza Pekanbaru, Rabu (1/11/2017). Pameran yang menampilkan patung rekonstruksi Homo Erectus, fosil manusia dan berbagai hewan purba ini akan digelar hingga tanggal 5 November 2017 mendatang. Kota Pekanbaru merupakan satu dari lima Kota di Indonesia yang disinggahi dalam pameran yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran tersebut. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

OLEH : RUSYAD ADI SURIYANTO, Lab Biopaleoantropologi  FKKM UGM

Ahli biopaleoantropologi FKKM UGM, Rusyad Adi Suriyanto saat kunjungan kerja ke sebuah universitas di Tokyo, Jepang
Ahli biopaleoantropologi FKKM UGM, Rusyad Adi Suriyanto saat kunjungan kerja ke sebuah universitas di Tokyo, Jepang (Koleksi Pribadi RA Suriyanto)

INDONESIA telah mencatatkan tinta emas untuk seorang pionir Eugène Dubois. Eugène Dubois dilahirkan pada 28 Januari 1858 di Kota Eijsden, Belanda.

Sejak masa anak-anak, beliau sudah sangat tertarik pada sejarah alam – sebenarnya minat ini hasil enkulturasi ayahnya.

Beliau telah belajar ilmu kedokteran dan lulus sebagai dokter pada tahun 1884. Dua tahun kemudian beliau telah diangkat sebagai dosen anatomi di Universitas Amsterdam, dan selanjutnya menikah di tahun yang sama.

Baca juga: Teknologi Komputer Tiga Dimensi Bisa Munculkan Sosok Manusia Purba Secara Akurat

Baca juga: Apakah Manusia Purba Jawa Sudah Mampu Berbahasa?

Setahun berlalu, dan jenuh dengan pekerjaannya sebagai dosen anatomi terutama tugas mengajar, tiba-tiba obsesi lamanya tidak mampu untuk dibendung, yakni berkeinginan untuk membuktikan hasil penelitian dan teori evolusi Charles Darwin, Alfred Russel Wallace dan Ernst Haeckel.

Eugène Dubois memutuskan untuk pergi ke Hindia Belanda (Indonesia) dengan membawa keinginan kuatnya untuk mencari fosil-fosil nenek moyang manusia.

Eugène Dubois berargumentasi manusia tentu bermula di daerah tropis karena anggota primata masih banyak hidup, dan wilayahnya tidak banyak mengalami perubahan-perubahan iklim sepanjang masa.

Eugène Dubois juga berobsesi manusia terkait erat dengan owa (Hylobates sp) yang terdapat di Indonesia.

Sebuah fosil kera (Ramapithecus) yang telah ditemukan di India juga turut mendorong obsesinya itu Asia akan menjadi tempat yang menjanjikan untuk mencari fosil-fosil leluhur manusia.

Indonesia yang merupakan sebuah koloni Belanda waktu itu tentu merupakan prioritas utama untuk tinggal dan bekerjanya.

Halaman
1234
Editor: Setya Krisna Sumarga
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved