Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Menimbang Intelektualitas Zuhairi Misrawi Sebagai Calon Dubes Indonesia untuk Arab Saudi

Gus Mis begitu ia disapa memulai pengembaraan intelektual di Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat.

Tribunnews.com/Y Gustaman
Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, saat mengunjungi kantor Tribunnews.com, Jakarta, Kamis (9/7/2015). 

Menimbang Intelektualitas Zuhairi Misrawi Sebagai Dubes Indonesia untuk Arab Saudi

Oleh Agusman Armansyah

TRIBUNNEWS.COM - Saya mengenal dekat Zuhairi Misrawi sejak 26 tahun yang lalu, sejak kami berdua menjadi mahasiswa al-Azhar, Kairo, Mesir. Kami kuliah di jurusan Akidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar. Lebih kurang dua dekade jalinan pertemanan direnda. Selama itu bangunan intelektualisme dipatri di bawah tonggak-tonggak pemikir-pemikir Islam kontemporer melalui karya-karya monumental gerakan pembaruan Islam semisal Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Ridha dan lain-lain. Mereka adalah ‘Muslim Prometheus’ yang tetap percaya dengan tradisi keislaman namun juga obyektif mengkritisi hal-hal yang menghambat kemajuan Islam. Di institusi pendidikan Islam tertua; Universitas Al Azhar kami dan Zuhairi Misrawi atau Gus Mis begitu ia disapa memulai pengembaraan intelektual di Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat.

Sebagai institusi Islam yang otoritatif, Al Azhar membekali kami dengan ragam disiplin ilmu sebagai alat untuk menghadirkan Islam yang sesuai dengan konteks zaman agar terus relevan menjawab tantangan mutakhir. Kami terbiasa dengan bineka pemikiran dan ragam pandangan mazhab selama ia didasarkan kepada dalil-dalil naqli dan aqli. Pendidikan formal ini memberikan kesempatan bagi kami untuk mengetahui dan mengkaji langsung sumber-sumber keagamaan yang asli dengan metodologi dan penyampaian yang mencerahkan dan transformatif.

Tidak berhenti di di situ, dengan beberapa sahabat Gus Mis memprakarsai berdirinya Lembaga Studi Filsafat Islam [LSFI] di Mesir sebagai wadah untuk mendealektikan gagasan-gagasan filsuf besar dari Islam dan Barat. Kehausan atas ilmu dan semangat mencari kebenaran adalah terang kami untuk menggali mutiara-mutiara kearifan intelektual yang terkubur lama dalam tidurnya.

Gus Mis adalah potret paripurna dari pertemuan tradisi keilmuan keislaman dan gerakan aktivisme sejak menjadi mahasiswa. Ia aktif di berbagai kelompok kajian dan dunia jurnalisme. Tidak sulit untuk menelusuri jejak intelektualismenya selama belajar di Al Azhar dan media massa nasional. Tulisan-tulisannya adalah refleksi kritis dan kontribusi adekuat terhadap dilemma dan tantangan Islam walau sering disalah persepsikan. Bukan asal ‘beda,’ kemampuannya mengartikulasikan gagasanya dengan baik dan jernih menjadikan semua tulisannya istimewa.

Selain sebagai seorang intelektual dia juga adalah seorang aktivis. Baginya, semua manusia memiliki hak yang sama apa pun kelamin dan keyakinannya. Ia aktif mengampanyekan hak-hak minoritas dan kelompok-kelompok marjinal sebagai manusia dan ciptaan Tuhan. Tidak seorangpun dapat diperlakukan secara diskriminatif atas dasar perbedaan apa pun. Tuhan menciptakan manusia berikut hak-hak inheren yang melekat pada kemanusiaannya. Penghormatan dan penegakkan Hak Asasi Manusia [HAM] adalah harga mati sebagaimana implementasi 4 [empat] pilar berbangsa dan bernegara sebagai pedoman berkeindonesiaan.

Perhatian Gus Mis tidak hanya terbatas pada disiplin keislaman tapi juga menjangkau permasalahan-permasalah politik dan studi kawasan Timur Tengah. Sejak menjadi mahasiswa di Al Azhar, laporan tentang konflik di Libanon dan negara-negara Arab lainnya menjadi suguhan tetap yang kami konsumsi melalui televisi. Pengalaman tersebut menyisakan pertanyaan sekaligus upaya untuk menjawab akar permasalahan kawasan yang terus terjadi. Alih-alih selesai, konflik kawasan Timur Tengah terus bergelora dan melebar ke beberapa negara seperti Yaman, Syria, Sudan lainnya.

Gus Mis aktif mencermati perkembangan di Timur Tengah dengan menyuguhkan tulisan dan tinjauan bernas sebagai analis dan pemerhati yang diterbitkan di banyak media massa nasional. Kajiannya sangat tajam dan berbasis data-data yang akurat seperti yang terjadi di lapangan. Gagasan-gagasannya solutif memberikan arah bagi penyelesaian permasalah kawasan untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung lama. Sebagai pengamat dan analis, Gus Mis harus obyektif melihat permasalahan yang terjadi dan bersikap transparan dalam menyampaikan gagasan dan solusinya. Gus Mis tumbuh dan berkembang sebagai pemikir yang independen dan kritis.
Intelektualisme plus aktivisme yang dimiliki Gus Mis adalah modal besar untuk melaksanakan pekerjaannya sebagai Dubes di Arab Saudi.

Arab Saudi adalah salah satu dari sekian negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan historis antara Arab Saudi sebagai negara lahirnya Islam dianggap sangat penting bagi Indonesia yang berpenduduk mayoritas Musllim. Dengan potensi yang sangat besar dan melimpah, kedua negara dapat memainkan peran penting dan kritis terhadap hal-hal yang mengganggu dan merugikan kepentingan kedua negara dan umat Islam. Berada di Kelompok 20 [G20] menegaskan posisi strategis kedua negara untuk berkontribusi bagi penguatan peran negara-negara berkembang khususnya negara dengan penduduk Muslim. Arab Saudi dan Indonesia harus menggalakkan hubungan diplomasi yang berbasiskan ‘mutual respect’ dan ‘mutual interest’ untuk kepentingan kedua negara yaitu; saling menghormati dan saling menguntungkan. Kerjasama kedua negara harus terus digalakkan dengan meningkatkan portofolio perdagangan, energi, pariwisata, keuangan, pendidikan, tenaga migran dan sektor-sektor strategis lainnya.

Di bidang urusan haji dan umroh misalnya, disebutkan kurang lebih 230 ribu jamaah haji Indonesia datang setiap tahunnya dan diharapkan Saudi Arabia terus meningkatkan jumlah kuota tersebut mengingat animo dan hasrat umat Islam Indonesia untuk berhaji. Belum lagi jumlah rombongan Umrah yang mencapai 1,5 juta setiap tahunnya dan diperkirakan akan terus meningkat. Kurang lebih 20 juta jamaah dari seantero dunia yang mengunjungi Arab Saudi setiap tahunnya. Jumlah dan potensi yang cukup besar untuk dikelola bagi peningkatan sektor ekonomi dan pariwisata yang sangat menjanjikan.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved