Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Seruan Demokratisasi dan Profesionalisme Pemilihan Rais 'Aam dalam Muktamar NU

AHWA itu sendiri, berdasarkan Bab XX Pasal 72 ayat 2 huruf f, dibentuk dan ditetapkan pada saat muktamar.

Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

SERUAN DEMOKRATISASI DAN PROFESIONALISME PEMILIHAN RAIS ‘AMM DALAM MUKTAMAR NU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Muktamar Nahdlatul Ulama selalu dinantikan, bukan hanya karena dinamika kekuasaan di dalamnya, melainkan juga logika hukum dan manajemen keorganisasiannya. Berdasar Bab XX tentang Permusyawaratan Tingkat Nasional Pasal 72 ayat 1 dikatakan bahwa muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi di dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Dengan diselenggarakannya muktamar, setidaknya ada dua kabar yang dinantikan: siapa yang terpilih jadi Rais ‘Amm dan siapa yang jadi anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Dua kabar ini selalu saja mendebarkan bagi siapapun yang berada di luar dan tidak ikut campur di dalamnya.

Anggaran Dasar Rumah Tangga (ART), misalnya, menyebutkan dalam Bab VI tentang Susunan Pengurus Besar Pasal 21 ayat 2 bahwa Pengurus Harian Syuriah terdiri dari Rais ‘Amm, Wakil Rais ‘Amm, beberapa Rais, Katib ‘Amm, dan beberapa Katib. Melalui Pasal ini, Rais ‘Amm adalah salah satu unsur Pengurus Harian Syuriah.

Berdasarkan Bab XIV tentang Pemilihan dan Penetapan Pengurus Pasal 40 ayat 1 huruf a mengatakan bahwa Rais ‘Amm dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat dengan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Dengan demikian, Pasal 21 ayat 2 belum bisa eksis sebelum Pasal 40 ayat 1 huruf a berjalan terlebih dahulu.

AHWA itu sendiri, berdasarkan Bab XX Pasal 72 ayat 2 huruf f, dibentuk dan ditetapkan pada saat muktamar. Bunyi pasal ini: “muktamar membicarakan dan menetapkan Ahlul Halli wal ‘Aqdi”. Alhasil, muktamar melahirkan AHWA, dan AHWA melahirkan Rais ‘Amm. Dari segi proses, nilai-nilai demokrasi berjalan maksimal pada setiap muktamar.

Jumlah anggota AHWA untuk menentukan Rais ‘Amm ini adalah sembilan orang di tingkat Pengurus Besar, 7 orang di tingkat Wilayah, 5 orang di tingkat cabang, Majelis Wakil Cabang, Ranting, dan Anak Ranting. Dengan kata lain, seluruh warga Nahdliyyin hanya memiliki 9 orang yang secara simbolis adalah yang terbaik di antara yang terbaik.

Sembilan anggota AHWA ini harus memilikiki akidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, bersikal ‘adil, ‘alim, memiliki integritas moral, tawadhu’, berpengaruh dan memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin yang munadzdzim dan muharrik, serta wara’ dan zuhud. Semua kriteria ini berbasis nilai-nilai moral. Dengan begitu, Rais ‘Amm terpilih diharapkan memiliki kualitas ideal seperti yang dibayangkan para anggota AHWA.

Sampai di titik ini, kita dapat bersama-sama menyebut lembaga AHWA sebagai lembaga demokratis sekaligus lembaga moral. Sebagai lembaga demokrasi, karena anggota AHWA dipilih secara berjamaah di dalam muktamar. Disebut lembaga moral, karena anggota AHWA adalah orang-orang yang secara moral adalah tauladan kita semua.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved