Tribunners / Citizen Journalism
Pesantren Bina Insan Mulia, Pesantren Cetak Ulama dan Cendekiawan
Visi yang luar biasa itu disusun dengan kurikulum yang khusus. Istimewanya, Kiai Imam Jazuli sendiri yang menyusunnya
Pesantren Bina Insan Mulia, Pesantren Cetak Ulama dan Cendekiawan
Oleh: KH. Zuhairi Misrawi, LC. MA
(Duta Besar RI untuk Tunisia)
TRIBUNNEWS.COM - Betapa indahnya persahabatan. Ya, persahabatan saya dengan Kiai Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia melintasi zaman dan dekade. Dulu, saat kami kuliah di Universitas al-Azhar, Mesir punya mimpi yang sama, yaitu menjadi ulama dan pemikir yang memberikan pencerahan pada umat dan bangsa. Sebab itu, saya dan Kiai Imam mempunyai pilihan jurusan yang sama saat kuliah, yaitu Jurusan Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.
Perjumpaan kami berdua adalah perjumpaan dua sahabat. Lama tak bersua, tapi selalu ada kehangatan saat berbincang-bincang santai. Tidak terasa, hampir 4 jam kami membincangkan masa depan peradaban bangsa. Saya memilih jalur pemikiran dan politik, sedang Kiai Imam Jazuli memilih jalur pemikiran dan pendidikan. Kedua-duanya berada pada titik-temu yang sama, yaitu kita harus bawa negeri ini pada kejayaan dengan melahirkan generasi ulama dan cendekiawan.
"Saya akan mencetak 3.000 doktor", ujar Kiai Imam. Ide ini sangat cemerlang dan spektakuler. Menurut saya, ide ini bisa diimplementasikan, karena bukan sekadar gagasan belaka. Kiai Imam Jazuli dan timnya sudah membuat peta jalan yang terukur. Para santri memang dipersiapkan dengan perangkat akademis dan moral untuk itu.
Jika kita tanyakan pada setiap santri perihal jenjang S1 yang akan ditempuh, maka para santri sudah tahu ke mana mereka akan kuliah. Setiap santri memiliki kepercayaan diri untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu persatu para santri sudah memilih negara tujuan kuliah: Amerika Serikat, Australia, Jepang, China, Mesir, Turki, Tunisia, dan lain-lain. Mereka dipersiapkan untuk menjadi doktor dan profesor di masa memdatang. Saya sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia berkomitmen agar para santri bisa melanjutkan kuliah di Universitas Zaitunah, dan beberapa kampus lainnya.
Visi yang luar biasa itu disusun dengan kurikulum yang khusus. Istimewanya, Kiai Imam Jazuli sendiri yang menyusunnya dengan menggabungkan kurikulum dari Finlandia, Australia, Mesir, dan Pesantren. Sebab itu, jika kita berkunjung ke pesantren ini, kita bisa merasakan adanya modernitas dari segi kurikulum dan fasilitas, tetapi tradisionalitasnya masih terasa. Para santri ditempa agar berakhlak mulia, tetapi juga berwawasan luas.
Saya diminta Kiai Imam Jazuli untuk sekadar menyapa para santri/wati memotivasi mereka. Saya sampaikan kepada para santri/wati, bahwa mereka harus berbahagia dan bersyukur bisa mondok di Pesantren Bina Insan Mulia, karena mereka sudah dipersiapkan untuk menjadi ulama dan cendekiawan. Dan para santri/wati akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa mendatang. Kepada mereka saya menyampaikan tiga kunci sukses: bersahabat, belajar, dan berdoa. Dan satu hal saya tekankan, yaitu jangan lupa tertawa. Akhirnya, ribuan santri pun tertawa.
Di Pesantren ini, para santri akan senang dan terhibur. Meskipun pesantren ini terletak di kampung, tetapi ada kolam renang, kamar Ber-AC dan bersih, ruang kelas modern, serta restoran yang unik dan menyenangkan. Kabarnya chef di pesantren ini dipilih dari hotel bintang lima, sehingga makanan yang disantap santri akan memanjakan lidah mereka.
Dari Pesantren Bina Insan Mulia ini, saya bisa belajar bahwa pelan tapi pasti, pesantren terus berkembang mempersiapkan ulama dan cendekiawan masa depan. Di pesantren Bina Insan Mulia, para santri hafal al-Quran, menguasai bahasa Arab, Inggris, Mandarin, dan ilmu pengetahuan lainnya. Kiai Imam Jazuli masih seperti dahulu yang saya kenal, tidak pernah lelah berpikir untuk membangun peradaban umat dan bangsa. Ia akan dikenang sepanjang masa melalui Pesantren Bina Insan Mulia, karena ia dapat melahirkan para ilmuan Muslim, seperti Ibnu Rushd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Imam al-Ghazali, dan lain-lain.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kh-zuhairi-misrawi.jpg)