Tribunners / Citizen Journalism

Pemilu 2024, Malaise Partai Politik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia

Direktur Center of Democracy Studies (CDS) M Tahir Wailissa memberikan catatannya soal Malaise Partai Politik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia.

Editor: Adi Suhendi
Istimewa
M Tahir Wailissa, Direktur Center of Democracy Studies (CDS) memberikan catatan soal Pemilu 2024. 

Oleh M Tahir Wailissa, Direktur Center of Democracy Studies (CDS)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Center of Democracy Studies (CDS) M Tahir Wailissa memberikan catatannya soal Malaise Partai Politik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia.

Ia memulai catatannya dengan dongeng Aesob: Persekutuan Penentu Nasib, How Democracies Die.

Pertengkaran terjadi antara kuda dan Rusa, jadi kuda mendatangi pemburu untuk meminta bantuan membalas dendam kepada Rusa.

Pemburu setuju tapi berkata: “kalau kamu mau mengalahkan rusa, kamu harus memperbolehkan aku menaruh pelana di punggungmu supaya aku bisa duduk disana selagi kita mengejar musuh."

Kuda setuju dengan permintaan itu, dan pemburu kemudian memasang kekang serta pelana.

Lalu dengan bantuan pemburu, Kuda mengalahkan Rusa dan berkata pada Pemburu: "Sekarang turunlah dan lepaskan benda-benda ini dari mulut dan punggungku."

"Jangan buru-buru kawan," kata Pemburu.

"Aku sekarang sudah mengendalikanmu dan lebih suka mempertahankanmu seperti sekarang”.

Tepat 10 April 2022, kita bersama mengetahui bahwa Presiden RI, Jokowidodo, telah menyampaikan Pemilu 2024 akan berlangsung pada 14 Februari 2024 dan tahapan Pemilu akan berjalan pada pertengahan Juni 2022 lalu.

Baca juga: Gugatan Pemilu Serentak Ditolak MK, Anis Matta: Ini Sangat Merugikan!

Halaman
1234

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved