Tribunners / Citizen Journalism

Kaum Sufi dan Dakwah Islam

Para Sufi tersebut menyebarkan Agama Islam ke pelosok negeri lewat cara dakwah Sufi yang teduh dan penuh dengan welas asih.

Editor: Husein Sanusi
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. KH. Imam Jazuli intens menggeluti kajian Tasawuf dengan para tokoh Sufi. 

Kaum Sufi dan Dakwah Islam

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Hutang budi umat muslim kepada para Sufi dan jama'ah tarekat-tarekat mu'tabarah sangatlah besar. Para Sufi menjadi tonggak sejarah dakwah Islam yang mempesona, Para Sufi mengubah dari strategi penaklukan pada strategi persuasif dan kebijaksanaan. Islam tersebar ke penjuru dunia dengan damai tidak lepas dari gaya dakwah yang dilakukan oleh para sufi. Hutang budi ini baru terbalaskan bila kita tetap melanjutkan jejak para Sufi

Islam tersebar ke benua Afrika seperti Senegal, Mali, Niger, Nigeria, Gana, Guinea, dan Chad tidak bisa dilepaskan dari kontribusi para Sufi dari tarekat Tijaniah, Sanusiah, dan Syadziliah. Zawiya-zawiya dan ribat-ribat menjadi pusat para syeikh Sufi untuk menyebarkan Islam di tengah-tengah masyarakat pagan. Di negeri-negeri ini, Islam datang dengan wajah yang teduh nan sejuk. Bukan dengan perang dan kekerasan.

Negeri-negeri Afrika ini adalah negeri yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang miskin. Para Sufi hadir di tengah-tengah mereka dengan menawarkan suri tauladan, mengajarkan ketakwaan dan kezuhudan. Para Sufi mendorong umat muslim untuk mengerjakan segala jenis kebaikan sosial, tolong-menolong, dan mempererat tali persaudaraan. Ajaran Sufi ini sangat tepat sasaran bagi mereka yang ditimpa penderitaan, terutama secara ekonomi.

Para syeikh tarekat juga tidak segan untuk belajar bahasa lokal mereka, kemudian bercampur baur dengan kehidupan masyarakat. Berkat penguasaan bahasa lokal itulah, umat dengan rela memeluk Islam, tanpa ada fanatisme untuk belajar bahasa asing (Arab). Pembelajaran bahasa Arab tidak dipaksakan, melainkan karena kesadaraan personal mereka yang ingin lebih dalam belajar Islam.

Bukan hanya di Afrika, peran kaum sufi dan tarekat dalam dakwah Islam juga bisa dilihat dari pengalaman anak benua India. Tarekat-tarekat yang berperan besar antara lain Chisytia yang didirikan oleh Khwaja Muinuddin Chishti (w. 930 M.), Kubrawiyah oleh Syeikh Najmuddin Kubro (w. 1221), Naqsyabandiah oleh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi (w. 1389), dan Syaththariah oleh Syeikh Sirajuddin Abdullah Syattar (w. 1406).

Kehadiran tasawuf Islam di India ini tidak saja mampu merangkul umat muslim, tetapi juga mempengaruhi paham keagamaan lain. Misalnya, Guru Nanak Dev (w. 1539), pendiri Sikhisme, menggabungkan antara ajaran tasawuf Islam dan kearifan lokal Hindu, seperti dalam bukunya yang berjudul "Adi Granth", kitab suci agama Sikh (Louis Massignon, Paris, 1954: 86-7).

Tidak hanya India dan Afrika, Nusantara juga menjadi saksi mata para Waliyullah yang juga Kaum Sufi itu mengajarkan ilmu-ilmu tasawuf, dengan perdamaian, bukan penaklukan militer. Dewan Walisongo menyebarkan Islam dengan pendekatan kebudayaan, kesenian wayang, musik gamelan, dan pendidikan pesantren. Dewan Walisongo tidak pernah menyebarkan Islam dengan kekerasan, peperangan militeristik.

Ada anggapan yang salah ketika sebagian orang mengatakan Dewan Walisongo memanfaatkan Raden Fatah, Putra Mahkota, menyerang kerajaan Hindu Majapahit, kemudian mendirikan kerajaan sendiri, Kesultanan Demak Bintoro. Padahal, Demak berdiri tahun 1481 M., sedangkan Majapahit runtuh tahun 1527. Dengan kata lain, ada rentang waktu 46 tahun di mana Majapahit dan Demak Bintoro hidup berdampingan secara damai.

Serangakan Raden Fatah yang didukung oleh Walisongo hanya terjadi ketika Ranawijaya Giriwardana mengalahkan Bre Kertabhumi (Brawijaya V), dan memindahkan ibu kota Majapahit ke Dhaha, Kediri. Kudeta Giriwardana terhadap Kertabhumi ini terjadi pada tahun 1478, atau 3 tahun sebelum Kesultanan Demak Berdiri. Kertabhumi adalah ayah kandung Raden Fatah. Jadi, otomatis seorang anak memiliki hak atas warisan ayahandanya sendiri. Serangan Demak berlangsung berkali-kali, dan baru dimenangkan pada tahun 1527.

Tentu saja, perlawanan Demak terhadap Majapahit di bawah kepemimpinan tidak sah Ranawijaya Giriwardana ini sah-sah saja. Itu juga terjadi di belahan dunia, ketika umat muslim menghadapi ancaman dari luar. Kita bisa melihat para syeikh Sufi yang terlibat dalam perang membela Islam, seperti Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi (w. 158 H.), Hammad bin Salamah al-Bashri (w. 167 H.), dan Bisyr al-Hafi al-Baghdadi (w. 227 H.).

Dalam membela Islam, para sufi tidak gentar menghadapi kematian, bahkan di abad modern ini. Misalnya, Tarekat Mukhtariah, cabang dari Tarekat Qadiriah, di Aljazair di bawah kepemimpinan Amir Abdul Qadir mengobarkan perlawanan terhadap kolonial Prancis. Tarekat Sahiliyah di bawah kepemimpinan Syeikh Muhammad Abdullah Hasa melawan kolonialisme Ingris dan Italia di Somalia. Atau, Tarekat Sanusiah di Libya yang menjalin kerjasama dengan Turki Usmani untuk melawan kolonialisme Ingris dan Itali pada tahun 1911.

Di Nusantara, para sufi dari tarekat Syatthariah menjalin kerjasama dengan kiyai-kiyai dan santri-santri di pondok pesantren sej-Jawa Madura untuk bergabung dengan gerakan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1925-1930). Keterlibatan para sufi dan tarekat dalam politik dan peperangan pasti terjadi selama dalam rangka menyebarkan Islam, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Perang pasti terjadi jika itu terkait dengan kolonialisme asing atau kejahatan yang dilakukan pribumi.

Alhasil, dakwah Islam tersebar luas di seluruh penjuru dunia berhutang budi kepada para syeikh sufi dari berbagai macam aliran terekat. Kaum Sufi sangat tahu cara menyebarkan Islam dalam wajah yang sejuk, damai, dan harmonis. Tetapi, pada saat yang sama, kaum sufi terjun ke medan perang bila terkait dengan kolonialisme. Begitulah kontribusi mereka dalam dakwah Islam.{}

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved