Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Siswa SD di NTT Meninggal

Jangan Main-Main dengan Pendidikan, atau Akan Lahir Generasi Mainan

Tragedi anak SD di Ngada jadi alarm keras: pendidikan tanpa gizi & ketahanan pangan melahirkan keputusasaan sunyi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi
HO/IST-Dok. Universitas Pertahanan
DUNIA PENDIDIKAN - Kolase foto Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si. Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logistik Militer Universitas Pertahanan RI dan potret Unhan RI. Hikmat Zakky Almubaroq menilai, pendidikan bukan sekadar urusan kurikulum, gedung sekolah, atau angka partisipasi, tapi pendidikan adalah mesin pembentuk kualitas manusia. 

Ketiganya membentuk satu rantai sebab-akibat yang tidak dapat dipisahkan. Negara dengan sistem pangan rapuh akan mudah terguncang oleh krisis global, pandemi, atau konflik geopolitik. Negara dengan pendidikan lemah akan menghasilkan sumber daya manusia yang sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi dan ekonomi dunia.

Keterkaitan ini menjadi semakin krusial ketika Indonesia memasuki fase bonus demografi. BPS mencatat bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia masih berada di kisaran 9 tahun, setara jenjang pendidikan menengah pertama.

Artinya, mayoritas penduduk usia produktif belum menyelesaikan pendidikan menengah atas. Dalam lanskap global yang menuntut literasi tinggi, penguasaan teknologi, dan kemampuan berpikir kritis, kondisi ini menjadi alarm serius. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan jika ditopang kualitas pendidikan yang memadai, bukan sekadar jumlah usia produktif yang besar.

Sebagai pembanding di kawasan ASEAN, rata-rata lama sekolah di Malaysia dan Vietnam telah melampaui Indonesia, dengan proporsi lulusan pendidikan menengah dan vokasi yang lebih besar. Dampaknya terlihat nyata, kedua negara tersebut bergerak lebih cepat dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan daya saing industrinya. Perbandingan ini menegaskan satu hal penting, tanpa percepatan kualitas pendidikan, bonus demografi berisiko menjadi ilusi statistik.

Indonesia jika berhasil mengelola bonus demografinya dengan Pendidikan yang berkualitas serta pemenuhan gizi yang baik, maka ini bukan hanya kabar baik bagi rakyatnya, tetapi juga sinyal pergeseran kekuatan global.

Negara sebesar Indonesia, dengan populasi produktif, terdidik, sehat, dan berdaulat pangan, akan menjadi pemain strategis di kancah global, bukan lagi sekadar pasar, bukan lagi objek, melainkan subjek. Pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan bahwa investasi serius pada pendidikan dan kesehatan adalah mesin utama transformasi ekonomi dan kekuatan nasional.

Justru karena itulah, potensi kebangkitan Indonesia tidak selalu disambut dengan kegembiraan oleh semua pihak. Dalam politik global, setiap negara yang naik kelas akan mengubah peta kekuatan. Indonesia jika berhasil memaksimalkan bonus demografi berarti Indonesia yang lebih mandiri secara ekonomi, lebih berpengaruh secara politik, dan lebih sulit ditekan secara strategis. Bagi sebagian aktor, kondisi ini tentu dibaca sebagai potensi ancaman.

Tidak mengherankan jika keseriusan negara dalam membenahi Pendidikan, gizi, dan ketahanan pangan kerap dihadapkan pada resistensi, distorsi informasi, atau upaya pelemahan. Bangsa ini dibuat sibuk bertengkar soal isu remeh, terjebak dalam debat dangkal, dan berpotensi gagal membangun kualitas manusianya.

Karena itu, pendidikan tidak boleh diperlakukan sebagai proyek jangka pendek, apalagi sekadar komoditas politik. Pendidikan adalah proyek peradaban. Kesalahan kebijakan hari ini baru akan terasa dampaknya dua atau tiga dekade ke depan, ketika generasi yang dididik sekarang memegang kendali ekonomi, politik, dan keamanan nasional di masa depan.

Jika pendidikan dipermainkan, gizi diabaikan, dan bonus demografi disia-siakan, maka yang lahir bukan generasi emas, melainkan generasi mainan yang mudah digiring oleh opini, algoritma, dan kepentingan luar. Sebaliknya, jika pendidikan dijaga dengan serius, gizinya dipenuhi, dan bonus demografi dikelola dengan benar, Indonesia tidak hanya akan maju, tetapi juga disegani.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh slogan yang ramai diucapkan, tetapi oleh keberanian negara untuk berpikir jauh ke depan. Keberanian itu tercermin dari kesungguhan Pemerintah saat ini dalam mengurus pendidikan, memastikan gizinya tidak dikorbankan oleh kelalaian, serta menjaga ketahanan pangan agar kecerdasan dan kedaulatan bangsa tidak tumbuh di atas fondasi yang rapuh.

Tugas kita sebagai warga negara bukan sekadar menjadi pengamat yang lantang berkomentar, melainkan berdiri di sisi kepentingan jangka panjang bangsa, mengawal kebijakan yang benar, mengkritik secara jernih bila keliru, dan tidak ikut merusak ikhtiar nasional dengan kebisingan yang miskin tanggung jawab.

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved