Senin, 13 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Mengenang Hari Kemerdekaan Tunisia

Dari masuknya Islam di abad ke-7 hingga perjuangan Habib Bourguiba bersama rakyatnya, jalan menuju kemerdekaan Tunisia penuh tantangan.

Editor: Tiara Shelavie
Pexels
BENDERA TUNISIA - Bendera Tunisia dengan latar belakang kota tua tepi laut 

Oleh: Muhammad Rasyid Lubis, Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunisia

Kemerdekaan suatu negara merupakan pencapaian yang lazim diperjuangkan oleh para proklamator. Untuk meraih kemerdekaan yang hakiki, bangsa harus mengusir penjajah atau kolonial serta memperjuangkan kedaulatan dengan keberanian dan kegigihan para pemuda.

Kali ini saya akan membahas kemerdekaan Tunisia. Sebelum itu, kita harus mengetahui apa itu negara Tunisia. Tunisia adalah negara yang terletak di benua Afrika bagian utara. Negara ini juga termasuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Tunisia merupakan negara yang kaya peradaban, memiliki peninggalan situs sejarah, pendidikan, dan ekonomi yang memadai, serta mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, bagaimana Tunisia bisa merdeka?

Dari sini kita akan mengetahui apakah kemerdekaan negara ini terjadi secara instan atau melalui proses yang panjang, serta bagaimana keadaan Tunisia sebelum dijajah oleh kekuatan kolonial Eropa.

Baca juga: Indahnya Ramadhan di Bumi Tunisia

Tunisia sebelum masa penjajahan

Menurut versi Arab, Tunisia disebut Ifriqiyya. Negara ini memiliki posisi strategis untuk perdagangan, kemaritiman, dan kebudayaan. Di balik semua itu, Tunisia menyimpan kekayaan sejarah, peradaban, keilmuan, dan pendidikan yang merupakan kontribusi berbagai dinasti atau kerajaan Islam maupun Kristen dari berbagai penjuru dunia.

Pada tahun 27 H, Islam berhasil masuk ke wilayah Tunisia dengan mengalahkan Bizantium. Kemudian pada tahun 50 H, Islam kembali masuk ke Tunisia dengan menaklukkan kota Kairouan di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah.

Selanjutnya, Dinasti Aglabiyah membawa mazhab Hanafi dan Maliki pada akhir abad ke-2 H; kemudian muncul Dinasti Fatimiyah dengan mazhab Syiah Ismailiyah pada akhir abad ke-3 H; dan dilanjutkan oleh Dinasti Shanhajiyah pada abad ke-4 H.

Pada abad ke-6 H/12 M, lahirlah Dinasti Hafshiyah yang berkuasa selama kurang lebih tiga abad dan memberikan kontribusi dalam bidang keilmuan dan pendidikan. Pada abad ke-16 M, muncul pengaruh Turki Utsmani yang menguasai Tunisia dan membawa mazhab Hanafi.

Pada masa ini juga mulai muncul era kolonial, termasuk masuknya kolonial Spanyol ke wilayah pesisir Tunisia. Akhirnya, dinasti setempat berhasil mengusir kolonial Spanyol yang dipimpin Don Juan de Austria.

Di abad yang sama, Dinasti Utsmaniyah memberikan kontribusi bagi peradaban Tunisia, antara lain dengan membangun masjid dan madrasah. Pada abad ke-17 M berdirilah Dinasti Muradiyyah yang dipimpin oleh keluarga Bey. Pada abad ke-18 M peradaban di Tunisia dilanjutkan oleh Dinasti Husainiyah yang dipimpin Husain bin Ali. Akhirnya, pada tahun 1881 M dimulai penjajahan oleh Prancis.

Bagaimana Prancis menduduki Tunisia

Sebelum menjadi wilayah protektorat Prancis, Tunisia merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, lebih tepatnya berada di bawah Dinasti Husainiyah. Tunisia memiliki otonomi yang cukup besar di bawah pemerintahan lokal yang dipimpin seorang Bey. Namun pada akhir abad ke-19, kondisi politik dan ekonomi Tunisia melemah sehingga membuka peluang bagi negara-negara Eropa untuk memperluas pengaruh mereka.

Pada tahun 1881, Prancis memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Tunisia melalui Perjanjian Bardo (Treaty of Bardo), sehingga secara resmi Tunisia menjadi protektorat Prancis.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved