Tribunners / Citizen Journalism
Gen Z Cerdas, Cermat dan Keberanian yang Tidak Kita Wariskan
Mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila justru mempertontonkan sila kelima masih bisa masuk ranah tawar-menawar.
Gen Z Cerdas, Cermat, dan Keberanian yang Tidak Kita Wariskan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suaranya tenang, bahkan tidak gemetar sedikit pun. Di hadapan juri yang jauh lebih tua, jauh lebih punya jabatan, dan jauh lebih terbiasa tidak dipertanyakan, seorang siswi SMA berkata dengan tenang: "Maaf, saya merasa jawaban saya sudah benar." Josepha Alexandra, atau Ocha, siswi kelas 11 SMAN 1 Pontianak — dan dalam hitungan jam, seluruh Indonesia menonton momen itu berulang-ulang di layar gawai masing-masing.
Pada 9 Mei 2026, final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat digelar. Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan tentang mekanisme pemilihan anggota BPK — lengkap, jelas, dan sesuai konstitusi. Namun juri justru memberi nilai minus lima.
Grup B dari SMAN 1 Sambas kemudian mendapat kesempatan menjawab pertanyaan yang sama, dengan substansi yang nyaris identik. Juri yang sama — Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI — memberi nilai plus sepuluh tanpa ragu.
Dan ketika Ocha meminta klarifikasi dengan sopan, juri itu tetap bersikeras dengan pendapatnya seolah kebenaran adalah domain eksklusif mereka yang duduk di kursi lebih tingginya di jajaran juri itu.
Di sinilah ironi yang harus kita catat dengan jujur. Lomba yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda justru mempraktikkan kebalikannya dan kejadian itu berlangsung di depan kamera pula, bahwa penilaian bisa berbeda untuk jawaban yang sama, tergantung siapa yang menjawabnya.
Kita tidak perlu menghakimi individu tertentu untuk mengakui satu hal sederhana: ada generasi yang terlalu lama terbiasa tidak ditanya balik, tidak terbiasa dikoreksi, dan tidak terbiasa mengakui kesalahan di depan publik.
Yang paling menggelikan, mereka yang berwenang atas lomba tentang Pancasila ini justru mempertontonkan bahwa sila kelima pun rupanya masih bisa masuk ranah tawar-menawar. Bukan sebagai serangan personal, hanya sebuah catatan struktural.
Karena ketika institusi yang bertugas mendidik generasi muda tentang keadilan justru tidak mencontohkannya, pertanyaannya jadi sederhana: edukasi macam apa yang sedang kita berikan?
Tapi sebelum kita terlalu larut merayakan Ocha, ada percakapan yang lebih penting untuk kita mulai dan percakapan itu boleh jadi tidak nyaman.
Generasi Z, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, sedang menanggung beban dan harus membayar harga dari keengganan generasi tua untuk jujur pada diri sendiri.
Baca juga: Eddy Soeparno Hormati Sikap SMAN 1 Pontianak yang Tolak Ikut Lomba Cerdas Cermat Ulang
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 remaja Indonesia mengalami gangguan mental emosional — dan angka itu kemungkinan besar lebih tinggi dari yang tercatat, karena banyak yang tidak pernah melapor.
Angka itu bukan statistik abstrak di atas kertas. Itu adalah teman sekelas Ocha, adik kita, atau seumur anak tetangga atau bisa jadi mereka orang-orang terdekat kita. Wajah mereka memang terlihat cerah, tapi kondisinya jauh dari kata sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa depresi dan kecemasan adalah dua kondisi paling umum di kalangan remaja global, dan pandemi COVID-19 memperburuk situasinya secara dramatis — terutama bagi mereka yang kehilangan masa transisi penting antara 2020 dan 2022.
Riset dari Yayasan Into The Light Indonesia (2022) menemukan bahwa lebih dari sepertiga anak muda pernah memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga melaporkan peningkatan kasus kecemasan klinis pada remaja pascapandemi, dengan sebagian besar baru terdeteksi justru setelah anak-anak itu terlambat ditangani.
Kita bicara tentang generasi yang tumbuh di era di mana semuanya terlihat sempurna di layar, sementara di balik layar faktanya sungguh rapuh dan semuanya bisa runtuh kapan saja.
Mereka dibesarkan oleh algoritma yang memang dirancang untuk menciptakan perbandingan sosial tanpa akhir — di mana validasi diri diukur dari jumlah likes, dan kecemasan datang dalam bentuk notifikasi yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Belum lagi tekanan ekonomi yang menggantung di atas kepala. Gelar sarjana tidak lagi menjamin masa depan, dan kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil.
Generasi yang masuk pasar kerja di tengah PHK massal sektor teknologi global dan stagnasi upah riil di banyak negara — termasuk Indonesia — tentu memikul kalkulasi hidup yang berbeda dari generasi orang tuanya.
Dan terlalu sering, migran digital yang generasi X ; generasi saya , menonton dari pinggir panggung lalu dengan cepat dan entengnya berkata: generasi sekarang lemah, manja, tidak tahan banting.
Kita lupa bertanya apa yang membentuk mereka, sebelum kita menghakimi siapa mereka sebenarnya.
Baca juga: Profil SMAN 1 Pontianak, Sekolah Top yang Viral karena Lomba Cerdas Cermat MPR
Gen Z tidak memilih untuk lahir di era ini, sama seperti kita tidak memilih untuk lahir di era kita atau lahir berlatar suku dan ras tertentu — dan setiap era punya tekanannya sendiri yang tidak bisa dibandingkan seenaknya begitu saja.
Karena itu, satu hal perlu digarisbawahi dengan tegas: Ocha tidak bisa dan tidak boleh dijadikan standar penilaian untuk semua Gen Z. Setiap perjuangan punya konteks dan medannya sendiri.
Seorang anak muda yang hari ini tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena depresi bukan lebih lemah dari Ocha — ia hanya sedang bertarung di arena yang berbeda, dan keberaniannya juga nyata, meski tidak tersorot kamera dan tidak viral.
Sejarah mencatat bahwa pemuda selalu menjadi titik temu antara keberanian dan perubahan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Pada 1928, anak-anak muda berusia belasan dan dua puluhan tahun berkumpul dan menyatakan satu identitas kolektif — di tengah tekanan kolonial yang jauh lebih nyata dari sekadar tekanan algoritma.
Pada 1966, mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan menjadi bagian dari pusaran yang akhirnya mengubah arah politik republik.
Pada 1998, generasi yang lahir di era Orde Baru turun ke jalan dan membuktikan bahwa kekuasaan tiga dekade pun bisa runtuh, manakala cukup banyak orang memilih untuk tidak diam.
Pemuda selalu punya cara untuk mengatakan cukup. Spiritnya tidak pernah benar-benar padam, hanya berganti bentuk dan medium. Apa yang dahulu disampaikan dari mimbar dan jalanan, hari ini disampaikan dari panggung lomba cerdas cermat yang direkam dan ditonton jutaan orang dalam semalam.
Ocha bukan aktivis dengan agenda besar. Ocha bukan pahlawan dengan jubah dan narasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia adalah siswi kelas 11 yang pada hari itu hanya ingin timnya diperlakukan secara adil — dan ia menyampaikannya dengan cara yang semakin jarang sekali kita lihat belakangan ini: berani sekaligus santun, kritis sekaligus bermartabat.
Rekam jejaknya pun berbicara sendiri. Ia pernah menjadi juara pertama LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional pada 2025 — sebelum kemudian justru mengalami ketidakadilan di lomba yang sama, setahun berikutnya.
Ironi yang tidak perlu dibuat-buat, dan justru karena itulah momen itu terasa begitu menohok bagi siapapun yang menontonnya.
Yang membuat peristiwa itu begitu kuat justru karena Ocha tidak melakukan apa-apa yang dramatis. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak, tidak menyerang secara personal — dan tetap mengemukakan pendapatnya dengan bahasa yang terukur serta logika yang jernih, ia mempertahankan posisinya di hadapan seseorang yang jelas memiliki otoritas jauh lebih besar dan terkesan otoriter.
Banyak orang berani tapi kasar, atau santun tapi akhirnya diam — Ocha memperlihatkan bahwa keduanya bisa hadir dalam satu napas.
Dan kemudian yang terjadi setelahnya adalah pemandangan yang juga perlu kita catat, dengan senyum tipis. MPR menonaktifkan dewan juri dan MC. Ketua MPR mengumumkan ajang final akan diulang. Anggota DPR menelepon SMAN 1 Pontianak langsung, menawarkan beasiswa S1. Wakil Presiden mengundang mereka ke Istana di Jakarta.
Semua ini terjadi setelah video viral — bukan sebelum peristiwa menjadi obrolan luas di ruang publik, bukan karena sistem bekerja dengan sendirinya, tapi karena jutaan pasang mata memaksa sistem untuk bergerak.
Maka pertanyaannya sederhana dan perlu diajukan pelan-pelan: ke mana semua perhatian itu sebelum ada jutaan tayangan?
Meski begitu, SMAN 1 Pontianak memilih jalan yang lebih elegan. Mereka menolak ikut final ulang, menghormati hasil yang sudah ditetapkan, dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Tidak ada dendam yang ditampilkan, tidak ada kemenangan yang diklaim berlebihan — dan itu bukan kelemahan, itu adalah kedewasaan yang tidak semua pihak mampu tunjukkan bahkan dalam situasi yang jauh lebih tidak menekan dari situasi ini.
Baca juga: Cerdas Cermat dan Erosi Zona Aman Intelektual Pendidikan Kita
Sebagai generasi X, jujur saja — kami tidak selalu mudah mengakui bahwa orang yang lebih muda bisa mengajari kami sesuatu yang penting. Kami terbiasa dengan pilihan sikap menjadi pihak yang lebih berpengalaman, yang sudah makan asam garam, yang selalu punya nasihat lebih bijak untuk diberikan.
Tapi malam pertama kali saya menonton video Ocha itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dada — sesuatu yang lebih dekat dengan rasa malu, sekaligus harapan.
Dan untuk Gen Z yang membaca opini sederhana saya ini — bukan hanya Ocha, tapi semua yang sedang berjuang dalam diam, yang merasa tidak ada yang benar-benar mengerti, yang lelah menjelaskan kenapa hidup terasa berat padahal dari luar terlihat "sudah cukup beruntung" — ada sesuatu yang perlu disampaikan dengan jujur.
Kamu Gen Z tidak lemah hanya karena kalian merasa lelah. Kamu tidak gagal hanya karena kamu butuh istirahat. Dan kamu tidak perlu viral dulu untuk layak didengar.
Generasi kami tidak cukup sering mengatakan ini, dan itu adalah utang yang sesungguhnya harus diakui.
Dunia yang kami wariskan tidak sempurna, dan kalian yang paling banyak menanggung konsekuensinya.
Setiap kali generasi yang lebih tua menyebut Gen Z sebagai "generasi strawberry" yang mudah hancur, kita lupa bahwa strawberry itu tetap tumbuh meski tanahnya tidak selalu subur — dan tumbuh itu sendiri sudah merupakan keberanian yang nyata.
Ocha tidak mewakili semua Gen Z, dan memang tidak seharusnya demikian. Tapi ia membuktikan sesuatu yang perlu terus-menerus diingatkan kepada siapapun yang tergoda meremehkan generasi ini: bahwa di tengah semua tekanan, semua label, dan semua ekspektasi yang saling bertentangan sesungguhnya masih ada anak muda yang berdiri tegak, bersuara dengan bermartabat, dan menolak diam hanya karena sosok yang di depannya memiliki jabatan dan otoritas lebih tinggi.
Tentu itu bukan sesuatu yang kecil. Itu adalah sesuatu yang bahkan oleh banyak orang yang mengaku dewasa, mereka yang mengaku sudah makan asam garam kehidupan justru gagal melakukannya di sepanjang karir mereka.
Wajar jika Ocha dan teman-teman segenerasinya meneriakkan : “Kami, generasi Z bangga. Bukan dengan cara yang menggurui, bukan pula dengan cara yang merasa lebih tahu, dan bukan karena Ocha pula satu-satunya yang layak dibanggakan. Tapi dengan cara yang — untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama — membuat kami merasa bahwa sebagai generasi yang akan meneruskan semua ini tidak perlulah kami diragukan, asalkan semua dari lintas generasi utamanya generasi sebelum Gen Z cukup bijak untuk berhenti meremehkan mereka sebelum sempat mendengarkan, dan cukup rendah hati untuk belajar dari mereka walau usianya jauh lebih muda.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/lomba-cerdas-cermat-viral.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.