Tribunners / Citizen Journalism
Quo Vadis Industri Sawit Indonesia?
Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo, semangat Visi Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045 masih menyala optimistis
Oleh: Algooth Putranto
Pengurus Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI), Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara
Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, semangat Visi Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045 masih menyala optimistis.
Dari kacamata makroekonomi, sinyal positif itu tampak jelas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Triwulan I-2026 mencatat pertumbuhan ekonomi nasional melesat sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY).
Angka ini tidak hanya melampaui target pemerintah di kisaran 5,4%–5,6%, tetapi juga melonjak signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang tertahan di angka 4,87%.
Namun, di balik kemegahan angka tersebut, terselip alarm merah yang mengkhawatirkan.
Terjadi penurunan tajam pada sejumlah lapangan usaha, dengan koreksi paling dalam menerpa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang anjlok hingga 18,33%!
Salah satu subsektor yang paling tertekan adalah industri kelapa sawit nasional.
Padahal, komoditas ini merupakan tulang punggung ekonomi yang menyumbang sekitar 4,5% hingga 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Mulai dari setoran pajak, Bea Keluar, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), semuanya bersandar pada industri ini.
Tak hanya itu, sawit menjadi urat nadi penghidupan bagi sekitar 8 juta tenaga kerja dan pemicu lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di lebih dari 200 kabupaten, sekaligus motor penggerak pengentasan kemiskinan di daerah terpencil.
Lebih strategis lagi, sawit kini berada di garda terdepan dalam mewujudkan salah satu dari 8 misi (Asta Cita) Prabowo-Gibran, yakni swasembada energi melalui program ketahanan bioenergi nasional.
Ironisnya, dengan kontribusi masif dan posisi krusial tersebut, industri sawit seolah dibiarkan bertarung sendirian di tengah jepitan tekanan dari dalam maupun luar negeri.
Di pasar global, sawit Indonesia terus dihantam kampanye hitam sebagai perusak lingkungan.
Pukulan terbaru datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendepak sejumlah emiten perkebunan sawit Indonesia dari indeks mereka.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dr-algooth-putranto-1.jpg)