Rekam Jejak MA Si Kapten Maling dengan Segudang Akses
Apabila kelompoknya sedang kekurangan personel, dia hanya perlu mencari kabar dari dalam penjara.
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Seorang 'kapten' (pimpinan) komplotan maling motor asal Lampung, ditembak mati polisi karena melawan usai diringkus, Jumat (21/7/2016).
Dia adalah MA alias MD (33), warga Desa Suka Maju Timur Negara Batin, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Bandar Lampung.
Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Hendy Febriyanto Kurniawan, mengatakan MA ditembak polisi karena melawan saat dilakukan penangkapan di sekitar Pasar Nangka, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (21/7/2016) pukul 01.00.
"Dia punya rekam jejak berbahaya. Selalu memegang senjata api dan tak segan melukai lawannya. Makanya kami lakukan tindakan tegas begitu melihat dia melawan," kata Hendy, saat jumpa pers di Polda Metro Jaya.
Menurut Hendy, MA sudah sering keluar masuk penjara. Makanya dia punya banyak kenalan di penjara. Sehingga tak sulit baginya mendapat anak buah baru.
Apabila kelompoknya sedang kekurangan personel, dia hanya perlu mencari kabar dari dalam penjara. Bila ada seorang penjahat 'nganggur' hendak keluar, maka MA tinggal menampungnya.
Selain itu, MA juga termasuk 'kapten' yang sudah punya banyak jaringan. Artinya sudah banyak membentuk orang menjadi maling dan masuk kelompoknya.
Makanya, Hendy yakin MA memimpin lebih dari satu kelompok maling motor.
Senpi Mulus
Selain itu, MA juga punya akses bagus ke para pembuat senjata api yang bertebaran di Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.
"Sebab MA ini juga memang orang asli Jabung. Makanya akses ke pembuat senjata api amat terbuka," kata Hendy.
Bahkan komplotan MA berjumlah 4 orang termasuk MA yang baru saja ditumpas, tiga anggotanya memegang senjata api.
Ini kebiasaan agak berbeda di kelompok maling motor. Biasanya yang memegang Senpi hanya 'kaptennya' saja.
Senjata api rakitan jenis revolver milik MA termasuk bagus. Gagangnya dari kayu, berulir, serta besi-besinya dikrom.
Sementara tiga anak buahnya memiliki senjata api jenis revolver berwarna kusam, berkarat, dan kecil. Serta dibuat dengan cara yang tak sempurna. Masih ada besi-besi melintang yang kurang proporsional menempel di tubuh Senpi.
"Seluruh Senpi ini rakitan Jabung. Kalau yang milik MA ini, satu-satunya yang membedakan dengan Senpi pabrikan adalah adanya baut di tubuh Senpi. Kalau Senpi pabrikan tak pakai baut," kata Hendy.
Sementara itu, selain MA, 3 anggotanya yang juga diringkus polisi, antara lain IBR (27). Dalam tim dia bertugas mengemudikan motor membonceng eksekutor.
Kemudian IS (22), karyawan toko sepeda yang memiliki akses untuk menjual motor curian ke penadah. IS punya banyak kenala penadah di Pandeglang, Banten.
Terakhir adalah TYI (28), seorang buruh yang juga punya jaringan ke penadah di Pandeglang.
Dari tangan mereka polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 8 juta. Kunci later 'T' dengan berbagai bentuk. Serta 4 unit sepeda motor. (*)