TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
Tanpa Boaz Pun Indonesia Bisa!
Tribunnews.com - Selasa, 16 November 2010 00:52 WIB

Istimewa
Baang Jamal kacau.............balau
tanpa boas tapi tindakan pelatih sudah benar..........harus di tindaki
pemain yg tdk di sipilin sehebat apapun dia.
Syahrul Panigoro ga' pngaruh, ada atau ga ada sm aja, tetap begini...
Asrarruddin Asari ada ga ada tetap ga bisa apa2.. bubarin aja, buang2 uang!
Mashari Must Say SANGAT SANGAT KECEWA RASANYA.. pengurus PSSI sudah bobrok tak pny malu, ditambah timnas tanpa boaz..
.
Rasanya timnas tidak di hati lg..
Bocah Ireng Elek mendingan diganti gayus aja.... larinya kenceng tuch orang.... jakarta bali aja bentar nyampe...........
Beny AfriadySungguh suatu khlgn aset terbesar dlm timnas PSSI, pemuda yg py talenta. Skill & speednya sgt dibutuhkn dlm tim.
Sgt disygkn disaat Chris.Gonzales dinaturalisasi, okto maniani msk tim senior, boaz malah keluar.....
Ini Persoalan internal Pem...ain ttg keluarganya / arogannya pelatih???
Bijaksana lh Boszzz Alfreid Riedl??? Bangsa ini msh perlu BOAZSee More
Darmansyah Ds Kecewa!!! Aksinya di tim nas bagaikan CR7 .... tp semoga kolektivitas menjadi kunci sukse Timnas ...
Su-djati Jogja Darmane' Bisa kalah...
Mafakhir Nova hi..hi..setuju ma komen diatas tuh ganti ama GAYUS biar wasit2 pada disuap smua...
Berita Lainnya
- Bio dan Zah Rahan Menyusul ke Australia, Ortizan Tinggal
- Enam Pemain Persipura Terancam Tak Berangkat ke Australia
- Andi Mallarangeng Sumringah Persipura Main di LCA
- Doa Menpora untuk Kemenangan Persipura
- Persipura Undang Ketua KPSI Nonton Laga Lawan Adelaide
- Akibat Ulah PSSI Persipura Kocar-kacir Urus Keberangkatan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertanyaan mampukah target juara Piala AFF 2010 yang dipatok PSSI bisa tercapai, seiring keputusan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl, mencoret satu di antara pemain andalan Merah Putih, Boaz Solossa, terus mencuat. Kekhawatiran kembali jebloknya prestasi Timnas tanpa Boaz di ajang yang tadinya bernama Piala Tiger tersebut menjadi satu alasan mengapa polemik itu muncul.
Begitu pentingnya peran Boaz sebagai penggedor jala lawan memang amat terasa. Meski Timnas memiliki nama lain yang tak kalah sakti, seperti Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono, nama Boaz selalu menjadi harapan ribuan pecinta Timnas Indonesia. Bahkan PSSI melalui Sekjennya, Nugraha Besoes, berharap Riedl bisa bijaksana menyikapi pencoretan Boaz. Tak hanya itu, deputi bidang teknis Badan Tim Nasional (BTN) PSSI Iman Arif akan terbang ke Jayapura. Selain melihat perkembangan striker muda Lukas Mandowen, Iman juga dikabarkan ingin melakukan dialog dengan Boaz.
Tapi keputusan telah dibuat. Besoes pun mengatakan PSSI tak bisa turut campur dalam masalah tersebut. Pencoretan Riedl sepenuhnya kewenangan Riedl selaku pelatih.
Boaz memang jago, cukup hebat untuk membawa asa bangsa ini untuk memperoleh pengharapan prestasi Timnas akan terangkat lewat skill individunya yang memukau. Pun sikap indisiplinernya rupanya tak kunjung surut. Hal ini yang membuat Riedl, apapun alasan Boaz, mencoret kapten Persipura tersebut dari skuad Timnas di Piala AFF 2010.
Gentarkah Riedl menghadapi turnamen tersebut tanpa seorang Boaz? Jawabannya tidak! Dengan tegas berujar mencoret Boaz. Sepertinya ia yakin kolektifitas tim berada di atas segalanya ketimbang mengandalkan seorang pemain.
“Boaz keluar! Saya pastikan itu. Kesempatan telah diberikan, namun ia tidak memanfaatkannya. Saya yang buat keputusan ini, bukan dia yang memilih keluar. Sudah lima hari dia tak datang dan saya tak butuh alasan lagi dari dia,” cetus Alfred.
Optimisme tanpa Boaz ini pun terlontar dari sebagian Facebooker Tribunnews.com. Toh, dengan Boaz pun Indonesia belum mampu berbicara banyak di kancah pesepakbolaan. Memang mengecewakan, tanpa Boaz di Timnas bagai sayur tanpa garam -bahkan tanpa sayuran!
Amat disayangkan memang saat Chris.Gonzales dinaturalisasi dan Okto Maniani masuk Timnas senior, Boaz malah out. Tapi Indoensia tetaplah Indonesia, dengan atau tanpa Boaz. Sepak bola bukan hanya soal kalah-menang, terlebih soal kebanggaan dan nasionalisme. Hal ini yang tampaknya coba dibungun Riedl
Pun banyak pelajaran yang diambil termasuk pembenahan di pembinaan. Andai saja ada empat atau lima pemain macam Boaz di Indonesia, mungkin pencoretan tersebut tak sampai menuai polemik. Kontroversi ini juga membuktikan ketergantungan Timnas akan sosok individu, bukan kolektif -sepertinya mata rantai itu yang coba diputus oleh Riedl.
Begitu pentingnya peran Boaz sebagai penggedor jala lawan memang amat terasa. Meski Timnas memiliki nama lain yang tak kalah sakti, seperti Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono, nama Boaz selalu menjadi harapan ribuan pecinta Timnas Indonesia. Bahkan PSSI melalui Sekjennya, Nugraha Besoes, berharap Riedl bisa bijaksana menyikapi pencoretan Boaz. Tak hanya itu, deputi bidang teknis Badan Tim Nasional (BTN) PSSI Iman Arif akan terbang ke Jayapura. Selain melihat perkembangan striker muda Lukas Mandowen, Iman juga dikabarkan ingin melakukan dialog dengan Boaz.
Tapi keputusan telah dibuat. Besoes pun mengatakan PSSI tak bisa turut campur dalam masalah tersebut. Pencoretan Riedl sepenuhnya kewenangan Riedl selaku pelatih.
Boaz memang jago, cukup hebat untuk membawa asa bangsa ini untuk memperoleh pengharapan prestasi Timnas akan terangkat lewat skill individunya yang memukau. Pun sikap indisiplinernya rupanya tak kunjung surut. Hal ini yang membuat Riedl, apapun alasan Boaz, mencoret kapten Persipura tersebut dari skuad Timnas di Piala AFF 2010.
Gentarkah Riedl menghadapi turnamen tersebut tanpa seorang Boaz? Jawabannya tidak! Dengan tegas berujar mencoret Boaz. Sepertinya ia yakin kolektifitas tim berada di atas segalanya ketimbang mengandalkan seorang pemain.
“Boaz keluar! Saya pastikan itu. Kesempatan telah diberikan, namun ia tidak memanfaatkannya. Saya yang buat keputusan ini, bukan dia yang memilih keluar. Sudah lima hari dia tak datang dan saya tak butuh alasan lagi dari dia,” cetus Alfred.
Optimisme tanpa Boaz ini pun terlontar dari sebagian Facebooker Tribunnews.com. Toh, dengan Boaz pun Indonesia belum mampu berbicara banyak di kancah pesepakbolaan. Memang mengecewakan, tanpa Boaz di Timnas bagai sayur tanpa garam -bahkan tanpa sayuran!
Amat disayangkan memang saat Chris.Gonzales dinaturalisasi dan Okto Maniani masuk Timnas senior, Boaz malah out. Tapi Indoensia tetaplah Indonesia, dengan atau tanpa Boaz. Sepak bola bukan hanya soal kalah-menang, terlebih soal kebanggaan dan nasionalisme. Hal ini yang tampaknya coba dibungun Riedl
Pun banyak pelajaran yang diambil termasuk pembenahan di pembinaan. Andai saja ada empat atau lima pemain macam Boaz di Indonesia, mungkin pencoretan tersebut tak sampai menuai polemik. Kontroversi ini juga membuktikan ketergantungan Timnas akan sosok individu, bukan kolektif -sepertinya mata rantai itu yang coba diputus oleh Riedl.
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Superball Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

