TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Hasyim Muzadi Kritik Dialog SBY-Tokoh Lintas Agama
Tribunnews.com - Selasa, 18 Januari 2011 21:42 WIB

TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Tokoh lintas agama berdialog dengan Presiden SBY di Istana Negara, Senin (17/1/2011)
Berita Terkait: SBY Dituding Bohong
Laporan Wartawan Tribunnews.com,Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi menyambut baik pertemuan Presiden SBY dengan tokoh lintas agama. Baginya, pertemuan itu hanya silaturahmi dan bukan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa.
"Sebagai pertemuan silaturahmi tokoh-tokoh lintas agam sangat baik. Tidak ada silaturahmi yang tidak baik.Akan tetapi, kalau niatnya menyelesaikan masalah bangsa yang berat-berat, masih jauh panggang dari apinya," sindir Hasyim Muzadi kepada Tribunnews, Selasa (18/1/2011) malam.
Hasyim menegaskan, saat ini Indonesia sudah terlanjur menjadi tricky country. Penuh dengan trik, siasat, pengalihan masalah dan rekayasa. Sehingga sesungguhnya, sindir KH Hasyim Muzadi secara halus, tidak ada masalah berat yang diselesaikan kecuali diselesaikan sebagai spektrum politik pencitraan.
"Inpres (intruksi presiden) yang banyak, sehubungan dengan protes lintas agama, harus dilihat, apakah dijalankan atau tidak. Jadi, bukan masalah pertemuan di Istana itu terbuka atau tertutup," tandasnya.
"Kalau terbuka, juga bukan jamin. Pembahasan terbuka soal Century oleh DPR selama dua bulan nonstop melalui TB yang bermula semangat melalui jargon marilah kita buka seterang-terangnya, marilah kita tutup segelap-gelapnya," sindir Hasyim Muzadi.
Kasus Gayus Tambunan yang sesungguhnya adalah masalah pajak, kini, bergeser ke masalah paspor. Sementara rakyat, imbuh Hasyim, tidak mungkin berbuat yang berarti karena dimiskinkan oleh sistem kapitalisme liberal yang absolut sehingga ada keuntungan absolut pada kekuasaan, juga pemegang uang.
Demokrasi dalam kondisi ini, akan menjadi industri. "Kita lihat saja, apakah yang hadir pemuka agama atau pengurus agama? Pemuka agama tidak perlu lagi kemasyuran karena tujuannya hanya keluhuran. Sedangkan pengurus perkumpulan agama, isi ranselnya masih aneka rasa," tuturnya.
Namun Hasyim memberi apresiasi, karena tokoh agama berkewajiban menyampaikan, manis atau pahit. "Sebaiknya, umat wait and see, sambil melihat seterusnya," KH Hasyim Muzadi mengingatkan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi menyambut baik pertemuan Presiden SBY dengan tokoh lintas agama. Baginya, pertemuan itu hanya silaturahmi dan bukan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa.
"Sebagai pertemuan silaturahmi tokoh-tokoh lintas agam sangat baik. Tidak ada silaturahmi yang tidak baik.Akan tetapi, kalau niatnya menyelesaikan masalah bangsa yang berat-berat, masih jauh panggang dari apinya," sindir Hasyim Muzadi kepada Tribunnews, Selasa (18/1/2011) malam.
Hasyim menegaskan, saat ini Indonesia sudah terlanjur menjadi tricky country. Penuh dengan trik, siasat, pengalihan masalah dan rekayasa. Sehingga sesungguhnya, sindir KH Hasyim Muzadi secara halus, tidak ada masalah berat yang diselesaikan kecuali diselesaikan sebagai spektrum politik pencitraan.
"Inpres (intruksi presiden) yang banyak, sehubungan dengan protes lintas agama, harus dilihat, apakah dijalankan atau tidak. Jadi, bukan masalah pertemuan di Istana itu terbuka atau tertutup," tandasnya.
"Kalau terbuka, juga bukan jamin. Pembahasan terbuka soal Century oleh DPR selama dua bulan nonstop melalui TB yang bermula semangat melalui jargon marilah kita buka seterang-terangnya, marilah kita tutup segelap-gelapnya," sindir Hasyim Muzadi.
Kasus Gayus Tambunan yang sesungguhnya adalah masalah pajak, kini, bergeser ke masalah paspor. Sementara rakyat, imbuh Hasyim, tidak mungkin berbuat yang berarti karena dimiskinkan oleh sistem kapitalisme liberal yang absolut sehingga ada keuntungan absolut pada kekuasaan, juga pemegang uang.
Demokrasi dalam kondisi ini, akan menjadi industri. "Kita lihat saja, apakah yang hadir pemuka agama atau pengurus agama? Pemuka agama tidak perlu lagi kemasyuran karena tujuannya hanya keluhuran. Sedangkan pengurus perkumpulan agama, isi ranselnya masih aneka rasa," tuturnya.
Namun Hasyim memberi apresiasi, karena tokoh agama berkewajiban menyampaikan, manis atau pahit. "Sebaiknya, umat wait and see, sambil melihat seterusnya," KH Hasyim Muzadi mengingatkan.
Penulis: Rachmat Hidayat | Editor: Yulis Sulistyawan
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Nasional Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan

