Selasa, 22 Mei 2012
Tribunnews.com

Dirut PT KAI: Bicarakan Kereta Seperti Orang Buta Bahas Gajah

Tribunnews.com - Kamis, 24 Februari 2011 16:09 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Dirut PT KAI: Bicarakan Kereta Seperti Orang Buta Bahas Gajah
kontan.co.id
ilustrasi
"Biasanya orang-orang kalau membicarakan permasalah kereta api, seperti orang buta membicarakan gajah,"
Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia, Ignatius Yonan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Membahas permasalahan kereta api di Indonesia, tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja. Pasalnya manajemen kereta api adalah sesuatu yang kompleks, yang harus dilihat dari berbagai macam sudut pandang.

"Biasanya orang-orang kalau membicarakan permasalah kereta api, seperti orang buta membicarakan gajah," ujar Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia, Ignatius Yonan,  pada diskusi  Lukman Hakim pada diskusi "Penerapan Standar Menuju Peningkatan Mutu Transportasi Perkeretaapian Indonesia" yang di gelar di Widya Graha LIPI, Jakarta Selatan, Kamis (24/02/2011).

Menurutnya, disiplin ilmu yang membahas masalah perkeretaapian sangatlah banyak. Baik di pelayanan penumpang, sarana dan prasarana, kualitas pelayanan, keselamatan  dan lainnya. Oleh karenanya masyarakat tidak bisa mengecam salah satu aspek yang diketahuinya saja tanpa melihat permasalahan secara keseluruhan.

Ignatius mencontohkan permasalahan tersebut dengan polemik kenaikan tarif kereta. Padahal pihaknya selama ini sudah memberikan subsidi hingga ratusan miliar, agar kereta dapat beroperasi dengan harga tiket yang terjangkau oleh masyarakat. Padahal selama ini naik turunnya tarif cenderung dipengaruhi oleh politik.

PT KAI agar dapat menyelenggarakan perjalanan kereta yang layak dan aman bagi masyarakat, mendapatkan subsidi dari jasa pengiriman barang mereka di Sumatera.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Ditjen Perhubungan, Tunjung Indrawan dalam kesempatan yang sama, mengaku mempercayai bahwa kereta api harus dikembangkan di Indonesia. Apalagi jika mengacu pada apa yang terjadi pada perkembangan infrastruktur jalan, dan jumlah kendaraan beroda dua maupun beroda empat yang semakin banyak setiap tahunnya.

"Kereta api itu solusi, bukan alternatif," imbuhnya.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo  |  Editor: Johnson Simanjuntak
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup