Seleksi Pimpinan KPK
Kisah Cinta Abraham: Modal Nekat saat Melamar Putri Bupati
KISAH cinta Dr Abraham Samad, (45) sungguh unik. Ika yang kini jadi istrinya adalah wanita cantik,ke kampus bermobil, putri tentara.
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - KISAH cinta Dr Abraham Samad, (45) sungguh unik. Ika yang kini jadi istrinya adalah wanita cantik, ke kampus bermobil, putri tentara yang saat itu menjabat Bupati Mamuju tiga periode.
Abraham muda hanyalah seorang pria kurus dengan rambut yang panjang. Tapi ia cerdas.
Indriana Kartika, begitu nama lengkap gadis pujaan yang kini menjadi istri Ketua KPK terpilih itu, semula hanya berteman saja dengan Abraham.
Ika, mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, ketika itu sudah punya pacar. Seorang pria yang ganteng, putih bersih, dan tinggi besar. Abraham, aih, tidak ada apa-apanya.
Satu yang dipunyai Abraham, aktivis mahasiswa Fakultas Hukum Unhas. Ia berani. Suatu waktu, Abraham menelepon Ika dan menyatakan ingin melamar.
Ika tidak percaya dan menantang, "Silakan saja kalau berani." Tentu saja Ika bercanda.
Namun tanpa diduga Abraham datang bersama keluarganya untuk melamar Ika. Tentu saja hal ini membuat Ika dan keluarganya kaget.
Akhirnya lamaran pun diterima. Saat itu banyak teman-teman Ika yang tidak menyangka dirinya akan menikah dengan Abraham mengingat saat itu Ika memiliki pekerjaan yang cukup bagus di Bukaka dan dia juga berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Kaya pula.
Pernikahan yang digelar di Hotel Sahid, Makassar, waktu itu terbilang meriah dan dihadiri sejumlah tokoh penting mengingat ayah Ika adalah Bupati Mamuju beberapa periode.
Meski banyak yang menyangsikan pernikahan mereka, namun siapa sangka pernikahan mereka langgeng hingga saat ini dan dikaruniai tiga orang anak.
Dan siapa pula yang menyangka kalau lelaki pendiam dan sederhana ini terpilih menjadi Ketua KPK.
Sejak kawin sampai saat ini, pasangan Abraham-Ika tinggal di rumah mewah nan besar di Jalan Mappala, Makassar. Itu rumah mertua.
Sebagai pengacara, Abraham bukanlah orang berduit. Ia menolak membela klien yang mungkin akan merusak reputasinya dengan menyogok aparat penegak hukum.
Walhasil, sikap kerasnya itu menjauhkannya dari klien berduit. Yang dia bela justru klien-klien yang lemah, yang tak sanggup membayar, tapi menghadapi tuduhan serius. Ia beberapa kali membela tersangka kasus pengeboman.