Gempa Ijen Terasa hingga 3 Kilometer
Belasan pekerja PT Candi Ngrimbi, perusahaan tambang belerang di kawah Ijen, lari pontang-panting
TRIBUNNEWS.COM, BONDOWOSO - Belasan pekerja PT Candi Ngrimbi, perusahaan tambang belerang di kawah Ijen, lari pontang-panting menyelamatkan diri, saat gempa mengguncang Pos Bunder, sekitar 2 kilometer dari kawah, Minggu (18/12) malam.
Warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, itu hendak bermalam di Pos Bunder, karena masih ada yang harus dikerjakan esok hari. Namun, mereka kaget saat ada gempa.
Berdasarkan rekaman seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen di Desa Taman Sari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, gempa itu bisa dirasakan hingga radius 3 kilometer dari Kawah Ijen, pada Minggu (18/12) sekitar pukul 22.00 WIB.
Bahkan, gempa yang cukup besar itu dapat dirasakan warga Kecamatan Sempol, Bondowoso. Gempa itu terjadi tiga kali, hingga Senin (19/12) pagi. Masing-masing berselang sekitar 30 menit. "Waktu gempa yang kedua, mereka semua lari turun menyelamatkan diri. Ada belasan orang," ujar Konik, petugas di Pos Paltuding.
Para pekerja itu kemudian dievakuasi menggunakan truk ke Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Pascagempa tektonik itu, kini kawasan Bunder hanya dihuni petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim III di Pos Paltuding.
Gempa itu diikuti gemuruh suara dari kawah. Hal itu membuat warga yang akan menebang pohon milik Kebun Blawan PTPN XII ketakutan. "Terpaksa berhenti dan balik kanan, wong ada gempa dan suara gemuruh kayak air mendidih itu. Daripada tidak bisa pulang," ujar Ali, seorang penebang, kepada Surya.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Gunung Ijen Bambang Heri Purwanto mengatakan, gempa kemarin itu berkekuatan 46 milimeter amplitudo overskill. "Tadi malam terjadi tiga kali dan hari ini masih terjadi," ujar Heri.
Gempa tektonik lokal merupakan fenomena baru dalam status Ijen. Sebelumnya, yang terdeteksi hanya gempa tremor dan vulkanik. Menurut Kepala Sub Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan, pusat gempa tektonik lokal itu tidak jauh dari Paltuding. "Masih terus kami awasi," ujar Hendra.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Kawah Ijen, Bambang Heri Purwanto melalui anggotanya yang saat itu bertugas, Mukijo (29), mengatakan, dalam 24 jam terakhir, gempa vulkanik A terdeteksi 45 kali, vulkanik B 84 kali, harmonik tremor 2 kali, tektonik jauh 5 kali, dan tektonik lokal 3 kali.
Tak hanya warga Tamansari, Licin, yang kaget. Sebagian warga Kecamatan Sempol, Bondowoso, juga kaget setelah secara tak sengaja melihat televisi yang menyiarkan berita bahwa Ijen telah mengancam permukiman mereka. Tak ada yang memberitahu mereka sebelumnya.
Ny Suhawati (50), warga Dusun Margahayu, Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Bondowoso, misalnya, baru mengetahui Ijen berstatus Siaga dari televisi. Padahal, rumahnya hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari kawah gunung setinggi 2.386 mdpl itu.
Demikian pula Haerudin Samsul Arifin, Kepala Dusun Margahayu, menyatakan, setelah melihat berita di TV, ia mengecek situasi di Pos Paltuding. “Ternyata di sana sudah sepi," ujar warga dusun yang terletak di tepi Sungai Banyupait itu.(uni/st39/izi)