Kamis, 11 Juni 2026

Rumah Sakit Bantah Mesin Cuci Darah Tularkan HIV

Sebanyak 50 pasien cuci darah di rumah RSUCM Aceh Utara diduga tertular virus HIV. Namun pihak rumah sakit membantah

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Sebanyak 50 pasien cuci darah di rumah RSUCM Aceh Utara diduga tertular virus HIV. Namun pihak rumah sakit membantah penularan tersebut melalui mesin pencuci darah.

Demikian disampaikan penanggung jawab Ruang Hemodialisa (HD) RSUCM Aceh Utara, dr Rahmawati SpPD, ketika diminta keterangan oleh Sekretaris Komisi E DPRK Aceh Utara di gedung dewan setempat, Jumat (30/12/2011). Acara itu juga dihadiri Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), perwakilan LSM, dan dinas terkait.

Menurut Rahmawati, penularan HIV tidak mungkin terjadi melalui mesin pencuci darah bagi pasien yang rutin cuci darah (hemodialisa) di Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara.

Kemungkinan terjangkitnya justru dari luar, sebab pasien yang menderita hepatitis B, alat pencuci darahnya dipisahkan dengan pasien nonhepatitis, begitu juga pasien non-HIV.

DPRK Aceh Utara sengaja memanggil manajemen RSU Cut Meutia ke gedung dewan untuk dimintai penjelasan terkait informasi di media massa yang menyebutkan sejumlah pasien cuci darah di RSUCM terinfeksi HIV.

“Saya terkejut membaca di media yang memberitakan bahwa ada sekitar 50 pasien yang terjangkit HIV melalui alat cuci darah. Itu tidak benar, karena pasien yang menjalani cuci darah rutin saja jumlahnya kurang dari 50 pasien. Selain itu mereka ditangani petugas medis yang telah mempunyai sertifikasi,” terang dr Rahmawati.

Menurutnya, dari sekitar sepuluh mesin cuci darah di rumah sakit itu, sembilan di antaranya digunakan untuk pasien cuci darah dengan riwayat HIV dan hepatitis C, juga umum.

Ia menyatakan, virus HIV dan hepatitis C bisa mati dengan alat tersebut pada suhu sekitar 80 derajat Celcius. Sedangkan pasien hepatitis B tidak, sehingga mesin cuci darahnya harus dipisahkan.

“Lebih berbahaya hepatitis B, karena penyakit tersebut sangat cepat prosesnya dan pasiennya bisa menyebabkan kanker hati. Sedangkan HIV prosesnya lambat. Namun, orang tetap beranggapan HIV lebih bahaya,” katanya.

Sementara itu, Direktur RSU Cut Meutia, drg Anita Syafridah menyebutkan, ke depan pihaknya akan melakukan upaya preventif sesuai dengan prosedur tetap yang telah ada.

“Untuk menanggulangi jika ada pasien positif AIDS, kita sudah siapkan klinik, petugas siap memberi pelayanan. Mereka hanya memberikan pelayanan tapi penyuluhan, mereka turun, ke desa yang terindikasi terjangkit positif AIDS,” katanya.

Manager Program Yayasan Permata Atjeh, Khaidir meminta supaya pihak RSUD Cut Meutia tidak menutup-nutupi kasus terinfeksi HIV terhadap pasien cuci darah rutin, karena akan berbahaya bagi pasien lain.

“Pihak RSU Cut Meutia harus bersikap terbuka dalam kasus HIV. Semua pasien yang sudah terinfeksi HIV harus diberitahukan kepada bersangkutan. Kalau tidak, ini sebuah dosa besar, karena dampaknya akan tertular kepada orang lain,” katanya. (C37)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved