'Bintang' Cap Go Meh Ini Tak Kunjung Sejahtera
diharapkan semua warga Singkawang dapat hidup damai, aman, sehat, dan selamat dari segala bahaya yang dapat datang kapan saja.
TRIBUNNEWS.COM - Hebohnya Perayaan Festival Cap Go Meh Singkawang setiap tahun, mampu menarik wisatawan domestik maupun manca negara untuk menyaksikan lebih dekat. Dampaknya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), okupansi hotel meningkat, maupun penghasilan usaha kecil menengah bertambah. Sebaliknya, keuntungan dan sisi positif dari Cap Go Meh belum pasti memberikan kesejahteraan bagi keluarga Tatung Cong Thiam Fuk (22), yang menempati rumah sederhana bersama sembilan anggota keluarga lainnya.
Bangunan terbuat dari papan beratapkan daun sagu berukuran 4x12 m, terdapat ruang tamu yang dijadikan altar Tatung, dua kamar tidur, dan dapur. Itulah rumah yang ditempati Tatung Cong Thiam Fuk bersama istri dan seorang anak, ibu dan bibi, beserta abangnya bersama istri dan tiga anak.
Ketika Tribunpontianak.co.id mendatangi rumahnya, ia sedang membersihkan tandu pedang yang akan digunakan untuk beratraksi pada Festival Cap Go Meh, Senin 6 Februari besok di teras rumahnya.
Sementara di bangku panjang depan rumah duduk dua orang wanita yaitu ibu dan bibinya yang sedang istirahat setelah menjajakan kue keliling di pemukiman sekitar. Ng Nyuk Jap (63), ibunda Tatung Cong Thiam Fuk, mengawali ceritanya tinggal di rumah sederhana itu yang sudah berlangsung selama enam tahun.
Ia mengaku, sebelumnya mereka satu keluarga kontrak di daerah Perumnas Singkawang Timur, sedangkan tempat tinggalnya yang sekarang di Jl Burhani atau lebih dikenal dengan daerah Pondok Manggis adalah pemberian tumpangan dari sanak keluarganya. Sementara tanah yang ia tempati adalah bagian dari tanah pemakaman warga Tionghoa, sebab daerah sekitar merupakan komplek pemakaman Tionghoa.
"Rumah ini pemberian dari keponakan, sebelumnya kami kontrak di Perumnas daerah Roban. Tanah sini masih bagian dari tanah pemakaman. Kondisi rumah mulai bocor dan rusak, besok lusa kami tak tahu tingal di mana lagi," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id di kediamannya.
Kendati demikian, kesejahteraan keluarga, Tatung Chong Thiam Fuk yang kerasukan roh Ng Fu Chiong Khiun, sejak berusia tujuh tahun tidak sampai di situ. Ia menuturkan, di dalam keluarganya untuk bisa membeli beras satu karung mustahil baginya.
"Keluarga kami kalau mau membeli beras satu karung sangat tidak mungkin, paling mampu hanya bisa membeli 5 kg. Dan tidak jarang kami dua hari tidak makan nasi, sedangkan anak-anak hanya diberikan mie dan kue saja karena kehabisan beras," ujarnya.
Keluarga mereka hanya Chong Thiam Fuk dan abangnya yang bekerja. Ia sebagai mekanik, sedangkan abangnya membantu orang jual arang di pasar Singkawang. Kendati demikian, mereka selalu bersyukur agar senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan. "Sebagai orang yang bisa Tatung, kita selalu berharap satu keluarga bisa hidup sehat, meski ada kesulitan ekonomi. Ya caranya kita hemat, dapat banyak makan lebih, dapat sedikit bagi-bagi," bebernya.
Selain hidup dengan himpitan ekonomi yang pas-pasan tidak mengurungkan niatnya untuk tetap turun beraktraksi pada Cap Go Meh nanti. Thiam Fuk yang juga dirasuki roh Datuk Panglima Setan, mengatakan tanggal 14 dan 15 bulan satu penanggalan Imlek, ia sudah mulai turun ke Pekong untuk sembahyang dan melakukan ritual mengusir roh jahat yang suka mengganggu warga Singkawang, baik etnis Tionghoa maupun etnis lainnya. Dengan demikian, diharapkan semua warga Singkawang dapat hidup damai, aman, sehat, dan selamat dari segala bahaya yang dapat datang kapan saja.
Apakah Tatung?
Tatung, dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Konon raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara roh leluhur atau dewa tersebut. Dengan menggunakan Mantra dan Mudra tertentu roh dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga orang tersebut.
Para Dewa atau roh leluhur biasa dipanggil dengan kepentingan tertentu, misalnya untuk melakukan kegiatan pengobatan atau meminta nasihat yang dipandang perlu. Kebanyakan para roh dewa dipanggil untuk kegiatan yang berhubungan kepercayaan Taoisme, antara lain pengobatan, pengusiran roh jahat, pembuatan Hu ,dan lain-lain. Setelah kegiatan yang dilakukan selesai, roh akan meninggalkan tubuh orang tersebut.
Di China, tradisi tatung sudah punah, sementara daerah-daerah di Indonesia yang masih memiliki tradisi ini adalah Singkawang Kalimantan Barat dan Bangka Belitung, seperti dikutip dari Wikipedia.