Jumat, 12 Juni 2026

Mantan Anggota DPRD Cekik Warga di Hadapan Polisi

Mantan Anggota DPRD,TTS, NTT, Nope GDI Nabuasa diketahui memukul Warga Desa Polo, Kecamatan Amanuban Selatan, Nikodemus Manao.

Tayang:
Editor: Romualdus Pius

Laporan Wartawan Pos Kupang, Thomas Duran

TRIBUNNEWS.COM,SOE - Mantan Anggota DPRD Kabupaten TTS, NTT, Nope GDI Nabuasa diketahui memukul Warga Desa Polo, Kecamatan Amanuban Selatan, Nikodemus Manao (31. Niko dipukul hingga pingsan saat membersihkan lahan di kawasan hutan Besipae. Pemukulan ini disaksikan dua anggota polsek setempat tanpa mengambil tindakan.

"Saya dipeluk dan dicekik oleh mantan anggota DPRD TTS, Nope GDI Nabuasa. Dan dipukul oleh Apris Tallo pada bagian pelipis dan batang hidung hingga jatuh pingsan. Teman-teman menggotong saya dan melarikan ke salah satu rumah warga tak jauh dari TPK," kata Manao di kediaman Koordinator Organisasi Ataimamus (OAt), Aleta Baun, Sabtu (4/2/2012).

Nikodemus Manao mengatakan, akibat penganiayaan itu dirinya hendak melapor ke polsek, namun tidak ada anggota dan ketika dihubungi via telepon kapolsek berada di SoE.

"Malam itu juga sekitar pukul 24.00 Wita, saya bersama keluarga langsung membuat laporan ke Polres TTS dan langsung divisum. Saya langsung di BAP dan sementara kasus ini ditangani polres," katanya.

Manao menuturkan, kasus penganiayaan terhadap dirinya itu pada tanggal 2 Februari 2012 sekitar pukul 15.00 Wita, ketika dia bersama 50 warga  sekitar Besipae membersihkan lahan di kawasan itu.

Menurut Manao, dia bersama rekan-rekannya tidak menyangka terjadi penganiayaan, karena saat itu mereka sementara berdialog dengan anggota Satpol PP dari kabupaten. Tiba- tiba, Camat Amanuban Selatan, Albert Nabuasa bersama Sekcam, Yohanes Asbanu, membawa 10 orang warga disusul dua anggota polsek mendatangi mereka.

"Camat turun dari mobilnya langsung berteriak Niko kamu bajingan sambil menunjuk ke arah saya. Saat itu juga Nope Nabuasa memeluk saya dan meminta agar parang semua disimpan. Kami semua menyimpan parang. Dan Nope langsung mencekik saya dan meminta Apris Tallo memukul saya hingga jatuh pingsan," katanya.

Manao bersama rekan-rekannya membersihkan kawasan hutan Besipae dengan alasan kontrak Pemerintah Australia dengan tokoh adat setempat untuk pengembangan ternak sapi selama 25 tahun sudah berakhir 2007 lalu.

Menurutnya, sejak tahun 2008 warga setempat mulai melakukan aktivitas di lokasi itu, bahkan sudan membangun ratusan rumah.

"Kami tidak setuju dengan pembabatan hutan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten dan Dinas Peternakan Propinsi NTT.  Mereka menebang pohon yang sudah ada lalu menanam kembali anakan pohon yang sama. Kami merasa dirugikan, karena debit pada sumber air di sekitar itu menurun," katanya.

Koordinator Organisasi Ataimamus (Oat), Aleta Baun, meminta agar pemerintah arif menyikapi persoalan ini agar tidak terjadi bentrokan di masyarakat.

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved