Calon Pilot Indonesia Tertipu di Amerika
Rangga Semula Dilarang Orangtuanya Ikut Calon Pilot
Orangtua Rangga sempat melarangnya agar tidak membayar uang 30 ribu dolar untuk biaya sekolah penerbang
Laporan Wartawan Tribunnews.co, Willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Rangga adalah anak bungsu dari lima bersaudara, keempat kakaknya kini bekerja sebagai pengusaha di Batam, ada pula yang menjadi Psikoterapis di sebuah rumah sakit di bilangan Cengkareng, Banten.
Sementara sang ayah adalah seorang pensiunan karyawan Pertamina dan tinggal di Solo, Jawa Tengah. Ibunya adalah ibu rumah tangga biasa serta memiliki rumah di Klender, Jakarta Timur. Rangga awalnya berniat ikut sekolah penerbang di Amerika Serikat karena melihat sebuah promosi iklan di Facebook, kala itu di Februari tahun 2011 Rangga sempat tertarik.
Dalam iklan itu isi penawarannya mengatasnamakan seseorang bernama Irfan Renaldi dan Freddy Bangsawan yang keduanya merupakan perwakilan sekolah pilot Indonesia milik OM di Amerika Serikat.
"Saya awalnya tahu dari Facebook mengenai sekolah itu yang promosiin, mau enggak sekolah pilot biayanya 54.000 US dolar, lalu saya accept dan sempat chatting sama orang-orang sekolah tersebut, saya nanya ada keringanan biaya enggak? Dia bilang enggak, saya bilang enggak usah dulu deh. Tapi enggak lama dia nawarin program 30 ribu US dolar, saya ikut dan akhirnya ada orang yang datang ke Jakarta buat ngurus saya dan teman-teman lain waktu itu," jelas Rangga.
Beberapa minggu kemudian setelah pertemuan kata Rangga dirinya diberi sebuah dokumen yang menerangkan soal ujian-ujian dan tes yang harus dilalui untuk masuk sekolah tersebut. Ketika itu Rangga yang satu angkatan dengan Deri dan Prasodjo menerima sebuah dokumen berwarna merah. Merah adalah indikator bahwa calon siswa yang bersangkutan tidak lulus dan tidak berhak mengikuti pendidikan.
"Beberapa teman ada yang dapat buku putih artinya lulus dan bisa pergi ke Amerika Serikat menjalani pendidikan, ada yang dapat buku kuning artinya pending, saya, Deri dan Prasodjo dapat buku merah alias tidak lulus. Alasannya waktu itu karena kurang kualifikasi visa, dokumen-dokumen syarat waktu itu kita sudah kasih ke Kedutaan Besar AS di Indonesia," katanya.
Saat pendaftaran awal itu Rangga beserta teman-temannya juga sudah didesak pihak sekolah penerbang agar mentransfer sejumlah uang ke sebuah rekening atas nama Aviation Pacific Flying School, namun tidak dikirimkan.
Karena masih penasaran Rangga dan teman-temannya kemudian mengajukan visa kembali, apalagi pihak sekolah mengklaim mereka bekerjasama dengan satu penerbangan nasional. Kali ini visa sudah lengkap dan lagi-lagi ada permintaan agar mentransfer uang sebesar 30 ribu dolar AS. Akan tetapi saat itu uang harus ditransfer ke rekening atas nama Aero Tech Academy.
"Orangtua sempat melarang waktu itu, tapi akhirnya karena teman-teman lain sudah bayar dan pihak sekolah terus mendesak agar dikirimkan uang, ya akhirnya ditransfer," kata Rangga.
Keanehan demi keanehan pun terjadi, baik Rangga dan teman-temannya tidak diberangkatkan juga ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan pilot meski sudah membayar ratusan juta. Alhasil, kedua orang tua Rangga pun mencoba mencari informasi dan berbicaralah mereka kepada seseorang bernama OM.
Kala itu OM berjanji mengembalikan sejumlah uang yang dibayarkan, tidak diberangkatkannya Rangga dan teman-teman lain menurut OM lantaran sekolahnya sedang mengalami krisis keuangan sehingga banyak pula calon-calon pilot di Amerika Serikat keluar dan terkatung-katung tidak jelas nasibnya.
"Alasannya waktu itu lagi krisis keuangan, siswa banyak yang keluar dan harus mengembalikan biaya pendidikan beserta ongkos," ujar dia.
OM kemudian menepati janjinya,beberapa kandidat pilot dikembalikan uangnya secara penuh, seperti Prasodjo (39). Namun untuk Rangga baru dikembalikan sebesar 17.900 dolar AS, sisanya sebesar 12.100 dolar AS dijanjikan akan dikembalikan bulan Juni begitu pula Deri.
Rangga sendiri tidak mengetahui kabar calon-calon pilot yang kini masih berada di Amerika Serikat dan tidak jelas nasibnya. Kendati demikian, Rangga diinformasikan sudah ada pengembalian ke beberapa siswa dan beberapa sudah kembali ke Indonesia. "Ari BP itu siswa sudah di sini sekarang," kata Rangga.