Kamis, 28 Mei 2026

Angkringan Panjer Wengi Hadirkan Kehangatan Nuansa Jawa

Sejumlah mahasiswa terlihat duduk lesehan bergerombol di salah satu angkringan di kawasan Margonda Depok.

Tayang:

Laporan Riana Dewi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah mahasiswa terlihat duduk lesehan bergerombol di salah satu angkringan di kawasan Margonda Depok. Mereka menikmati malam ditemani segelas susu jahe hangat dan sepiring sego kucing.

Panjer Wengi nama angkringan di pinggiran ibukota ini. Kehadirannya seolah mengobati kerinduan mahasiswa perantauan dari Jawa. Maklum, pemandangan yang biasanya kita temukan ketika pergi ke kota-kota di Jawa Tengah seperti di Yogyakarta.

Meskipun sudah larut, suasana tetap ramai dipadati pengunjung. Pengunjungnya yang kebanyakan mahasiswa yang kost di sekitar Margonda, Depok.

Angkringan yang beroperasi sejak pukul 8 malam hingga 2 pagi ini menurut Parjo, penjualnya, selalu ramai tak mengenal hari. "Nggak ada waktu khusus, setiap hari ramai saja mahasiswa pada datang."

Makanan yang ditawarkan di angkringan ini adalah makanan asli Indonesia yaitu sego/nasi kucing. Sego kucing merupakan nasi bungkus yang dijual dengan kemasan yang sangat kecil. Karena porsinya yang kecil dan menyerupai menu untuk makanan kucing, maka dinamakanlah sego kucing.

Sego kucing di angkringan ini ada yang dibubuhi ikan teri, tempe dan suiran ayam. Disediakan juga lauk untuk menemani sego berupa tempe dan tahu bacem, ceker ayam, dan sate-satean (sate usus, jamur, ati ampela, telur puyuh, bakso, otak-otak, dan sosis). Untuk memesannya, pembeli tinggal memilih sepuasnya lalu menaruhnya dalam piring kemudian pelayan akan menyajikannya dengan cara dibakar.

Sementara itu, minuman khas yang ditawarkan yaitu kopi joss dan susu jahe. Kopi joss merupakan kopi panas dan kental dengan sebongkah arang membara yang mengapung di permukaannya. Dinamakan kopi joss karena ketika arang membara dimasukkan ke dalam air kopi yang panas, langsung terdengar bunyi "Josssss" dari air kopi tersebut.

Angkringan Panjer Wengi ini sebenarnya tak mentah diadopsi dari budaya Yogyakarta. Pemiliknya sendiri berasal dari Solo. Di Solo, angkringan lebih dikenal dengan sebutan Hidangan Istimewa Kecil (HIK). Namun, pemilik sepakat menamainya angkringan karena lebih cocok dengan tujuan dibentuknya yaitu untuk tempat nangkring (nongkrong). "Karena kita mau buat emang untuk tempat nangkring (nongkrong) jadilah namanya angkringan," tutur Parjo.

Salah satu pengunjung, Arya, mahasiswa Universitas Indonesia mengaku angkringan Panjer wengi ini memiliki keistimewaan dibandingkan angkringan lain. "Rasa makanannya disini lumayan lebih enak, dibandingkan angkringan lain,"tuturnya.

Namun, diakui Arya, harga makanan yang ada di angkringan ini cenderung lebih mahal dibandingkan angkringan lainnya. Untuk sego kucing harga dipatok Rp 2000 dan lauknya yaitu sate-satean juga dihargai Rp 2000. Sementara untuk susu jahe harga dipatok Rp 4000.

Meskipun tergolong cukup mahal, karena lokasi yang strategis, angkringan ini tak pernah sepi pengunjung. Menurut Parjo, setiap malamnya ia bisa mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 500.000

Mahasiswa biasanya tak menjadikan makan sebagai prioritas utama saat datang ke angkringan ini. "Selain makan biasanya ngopi sih tapi utamanya ya memang ngobrol, makan cuma selingan aja," tutur Beringin Andara, mahasiswa yang juga sering datang ke angkringan ini.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved