Tribunners / Citizen Journalism
CSIS Dirikan Pusat Kajian Sumitro Djojohadikusumo
The Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Pusat Studi Strategi Internasional
- The Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Pusat Studi Strategi Internasional di Washington DC, Amerika Serikat meresmikan berdirinya Pusat Kajian Sumitro Djojohadikusumo Untuk Kebangkitan Ekonomi Asia Tenggara atau Sumitro Djojohadikusumo Center for Emerging Economies in Southeast Asia (SDCEESEA). Ernest Z. Bower, yang saat ini sedang menjabat sebagai penasehat senior dan direktur di Inisiatif Rekanan Program Asia Tenggara dan Pasifik di CSIS telah ditunjuk sebagai ketua pusat studi tersebut. Pusat Kajian yang didedikasikan atas nama Sumitro ini merupakan wadah kajian masalah-masalah Asia Tenggara termasuk Indonesia.
- Acara dilaksanakan di Gedung CSIS Washington DC dihadiri sekitar 100 orang tokoh antara lain Duta Besar negara Asia Tenggara termasuk Dino Pati Djalal, Dubes RI untuk AS. Sejumlah tokoh intelektual dan politisi AS juga hadir Senator William Brock yang juga pernah menjabat Menteri Buruh di zaman Presiden Ronald Reagen dan John J. Hamre, Presiden dan CEO CSIS. Hadir juga penulis dan analis Michael J. Green, Murray Hiebert, Chris Johnson, Robert Pringle, Larry Bailey, dan lain-lain. Dari Indonesia hadir Prof. Suhardi (ahli lingkungan UGM), Fadli Zon (Direktur Institute for Policy Studies - IPS), Dr. Rachmat Pambudy (Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukutan Tani Indonesia - HKTI).
- Pendanaan Pusat Kajian ini didukung oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo, yang didirikan pengusaha Indonesia Hashim Djojohadikusumo untuk mengingat perjuangan almarhum ayahnya, Professor Sumitro Djojohadikusumo, seorang begawan ekonomi Indonesia dan sering disebut sebagai arsitek ekonomi Indonesia modern. Dr. Sumitro bekerja sama dengan Yayasan Ford tahun 1950-an dalam mengirim ekonom Indonesia ke Amerika Serikat untuk studi S3 di bidang ekonomi. Sumitro juga pernah menjadi wakil misi Indonesia tahun 1947-1949 di AS ketika kemerdekaan Indonesia masih harus diperjuangkan di Konferensi Meja Bundar dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- “Ikatan antara Amerika Serikat dan Asia Tenggara menjadi dasar dari seluruh tujuan strategi Amerika,” ungkap Dr. John Hamre, presiden dan CEO dari CSIS. “Kami hargai dukungan Bapak Hashim terhadap karya yang dilakukan oleh Ernie Bower dan tim Asia Tenggara kami. Fokus mereka pada isu kebangkitan ekonomi merupakan aspek penting pada wilayah ini dan akan menjadikan CSIS sebagai pemain utama pada diskusi kebijakan terkait Asia Tenggara.”
- “Ini merupakan momen penting dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Model baru untuk pembangunan ekonomi dan pemerintahan sedang didirikan, dan saya ingin memberikan rasa hormat pada ayah saya dengan memberikan perhatian pada institusi kelas dunia yang tidak hanya memberikan ide, tetapi menjadikannya kebijakan yang relevan dan aplikatif,” tutur Hashim Djojohadikusumo. Melalui SDCEESEA, dialog Indonesia dan AS khususnya dapat dibangun lebih baik, konstruktif dan produktif.
- SDCEESEA akan melakukan penelitian tentang hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat dan Asia Tenggara serta mengikutsertakan program proaktif untuk mendukung pengertian lebih dalam dan hubungan lebih dekat dengan Amerika Serikat dan Asia Tenggara. Elemen penting tersebut termasuk:
- Studi komprehensif terhadap hubungan masa depan antara A.S.-Indonesia, termasuk rekomendasi di bidang keamanan, politik, ekonomi, ilmu dan teknologi, serta kerjasama people to people untuk 2020 dan selanjutnya.
b. Kunjungan tahunan dari anggota Kongres A.S. dan staf ke Indonesia, juga kunjungan oleh Parlemen Indonesia dan staf ke Amerika Serikat.
- Pendanaan terhadap warga Indonesia, baik akademisi maupun pejabat, yang akan menjadi kontributor tetap CSIS di Washington, D.C.
d. Studi tentang integrasi ekonomi ASEAN, perdagangan regional dan arsitektur keamanan dan jalur untuk kerjasama perdagangan yang menyambung ASEAN ke pasar global.
Terima kasih,
Fadli Zon
TRIBUNNERS POPULER
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.