Tribunners / Citizen Journalism
Prabowonomics Mentransformasi Market Share Menjadi Market Power
Presiden Prabowo paparkan kebijakan fiskal 2027, soroti lemahnya market power SDA meski kuasai pangsa pasar global.

PRESIDEN PRABOWO baru saja menyampaikan pidato tentang pokok kebijakan fiskal serta postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2027 pada Rabu, 20 Mei 2026 di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Pada momen tersebut, presiden Prabowo menyampaikan keresahan mengenai posisi Indonesia sebagai produsen terbesar beberapa komoditas Sumber Daya Alam (SDA). Bahkan Indonesia memiliki market share atau penguasaan pasar hingga lebih dari 50 persen dari total produksi global.
Meskipun memiliki market share besar tetapi market power sangat kecil. Market power adalah kemampuan menentukan harga jual ke pasar internasional. Harga komoditas SDA, seperti Crude Palm Oil (CPO), karet alam, nikel dan lainnya didikte oleh negara pembeli (oligopsony).
Pelajaran dari OPEC
Fenomena serupa pernah terjadi untuk komoditi minyak bumi. Harga minyak bumi dunia dikontrol oleh hanya beberapa perusahaan raksasa eksplorasi minyak bumi yang disebut The Seven Mayors. Perusahaan tersebut bermarkas di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat (AS).
The Seven Mayors beroperasi di negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi sangat besar, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela. Perusahaan tersebut berasal dari Inggris, Jepang, AS, dan Jerman.
Market share dan market power besar oleh The Seven Mayors membuat minyak dunia dijual pada harga tidak wajar. The Seven Mayors melakukan abused of market power, yaitu menyalahgunakan posisi dominan di pasar dengan menetapkan harga jual minyak bumi di pasar internasional secara sepihak. Merugikan negara produsen.
Abused of market power oleh The Seven Mayors mendorong negara-negara eksportir minyak bumi membentuk “kartel minyak bumi dunia”. Kartelnya dilembagakan dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).
Organisasi kartel minyak dunia, OPEC didirikan di Baghdad, Irak, pada tahun 1961. Pada awalnya, OPEC beranggotakan lima negara produsen minyak terbesar dunia, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela.
Pembentukan kartel minyak bumi, OPEC bertujuan untuk melawan kartel The Seven Mayors dalam mengendalikan harga minyak dunia. OPEC bertugas mengatur produksi, harga dan hak konsesi dengan perusahaan eksplorasi minyak dunia.
Sejak tahun 1961, seiring dengan pendirian OPEC, harga minyak dunia menjadi lebih tinggi dan stabil. Negara produsen minyak bumi, dikenal dengan petro dollar menikmati pendapatan minyak besar yang kemudian diinvestasikan dalam berbagai instrumen keuangan di negara maju.
Sebagai contoh, sejak tahun 1961, dampak dari kenaikan pendapatan minyak, pemerintah Kuwait membentuk Kuwait Investment Authority (KIA) yang ditugaskan mengelola dan menginvestasikan dana hasil penjualan minyak bumi Kuwait. Dikenal dengan Future Generation Fund (FGF).
Kerugian Indonesia
Saat ini, Indonesia adalah produsen CPO terbesar dunia dengan total produksi sekitar 43 – 46 juta ton. Market share sebesar 57 persen dari total produksi CPO global. Di posisi kedua, Malaysia yang memproduksi sekitar 19 – 20 juta ton dengan market share 25 persen.
Artinya, Indonesia dengan market share sebesar 57 persen untuk CPO seharusnya menjadi price maker (penentu harga) CPO dunia. Market share Indonesia jauh lebih besar dibandingkan market share OPEC yang hanya 40 persen dari total produksi minyak dunia. Tetapi OPEC memiliki market power di pasar minyak bumi dunia.
Hasil studi Next Indonesia yang dipublikasikan pada 10 April 2026 menunjukkan bahwa margin penjualan CPO Indonesia lebih banyak dinikmati oleh Singapura.
Hal ini tercermin pada harga impor Singapura dari Indonesia untuk produk sawit olahan umumnya di kisaran 600 - 1.300 dollar AS per ton, sementara harga re-ekspor Singapura ke negara lain di kisaran 1.000-1.900 dollar AS per ton.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/muhammad-syarkawi-rauf-1777472877817.jpg)