Pasar Modal Indonesia dinilai Masih Terbelakang
Pasar modal di indonesia dinilai masih terbelakang jika dibandingkan dengan pasar modal di beberapa negara.
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar modal di indonesia dinilai masih terbelakang jika dibandingkan dengan pasar modal di beberapa negara. Padahal, ekonomi indonesia sedang tumbuh terbaik kedua setelah Cina dengan pertumbuhan 6,5 persen per tahun.
Ahmad Deni Danuri, pengamat pasar modal, sekaligus presdir Center for Banking Crises, menilai bahwa ada kalanya pertumbuhan pasar modal tidak diikuti dengan kualitas transparansi yang baik dan hal ini yang terjadi dalam kasus PT Sumalindo Jaya Lestari Tbk dan BUMI.
"Kedua kasus ini menandakan aturan regulator dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak bertujuan untuk melindungi investor," katanya dalam dalam diskusi Mengenai Transparansi dan Akuntabilitas Perusahaan Publik di Hotel Ambhara di Jakarta, (17/12/2012).
Ia mengatakan sebaiknya regulator mengatur tegas antara komisaris yang berpolitik dan non politik. Kalaupun ada kasus yang diduga melibatkan interversi politik keluarga Cikeas, seperti kasus PT Surmalindo Jaya Lestari seharusnya BEI bisa menyelsasikannya di dalam internal karena hal itu bisa mencerminkan perlindungan terhadap investor yang kuat.
"Seharusnya regulator dan pengawas bisa memberikan kepastian hukum, seperti misalnya di keluarkan sebagai anggota bursa atau di suspend, bukannya malah harus diselesaikan di ranah Mahkamah Agung (MA)," katanya.
Hal ini perlu dilakukan mengingat, jumlah emiten di indonesia hanya sebanyak 469 perusahaan. Masih kalah dengan Malaysia yang mencapai 924 emiten. Dan hanya sepersepuluh ketimbang India.
Perihal Jumlah penawaran saham perdana (IPO) pun masih sebatas 23 emiten, masih dibawah target BEI sebanyak 25 emiten. Padahal, negara tetangga, Malaysia, berhasil menduduki peringkat kedua setelah AS, sebagai negara IPO terbanyak pada tahun ini.(*)