Sarung Majalaya Belum Tergarap Optimal
Jawa Barat kaya akan bahan baku kain tradisional. Sebut saja batik, tenun, bordir, dan sarung
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Jawa Barat kaya akan bahan baku kain tradisional. Sebut saja batik, tenun, bordir, dan sarung. Namun khusus untuk sarung belum tergarap optimal dalam hal fesyen.
Fery Sofwan Arif, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, mengatakan, Jabar memiliki potensi dalam kain sarung. Sentra pembuatannya ada di Majalaya. "Tapi memang belum tergarap sehingga kain sarung hanya digunakan begitu-begitu saja. Beda dengan batik, tenun dan bordir yang sudah tersentuh fesyen," katanya di sela pembukaan Jabar Fashion & Craft 2012 di Graha Manggala Siliwangi Bandung, Rabu (26/12).
Menurut Fery, kain sarung asal Majalaya, Kabupaten Bandung sebenarnya bisa dijadikan bahan baku untuk produk fesyen. Dijadikan baju, celana, rok dan sebagainya dengan sentuhan fesyen yang tengah tren akan terlihat lebih cantik dan punya nilai ekonomi tinggi. Agar terlihat fashionable, kata Fery, kain sarung bisa dipadupadankan dengan kain lain.
"Dulu pernah ada bupati Bandung yang mewajibkan pegawai di lingkungan Pemkab Bandung mengenakan baju dari kain sarung Majalaya. Saya pikir itu bagus, guna mendorong industri daerah. Tapi sayang sekarang kok tidak ada lagi," kata Fery.
Oleh karena itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar akan mendorong agar kain sarung Majalaya bisa digarap menjadi produk fesyen yang punya nilai ekonomi tinggi. Sebab sayang jika kain sarung Majalaya yang begitu terkenal hanya dijadikan sebagai kain sarung yang hanya difungsikan begitu-begitu saja.
Terkait mendorong usaha kecil dan menengah, Fery mengatakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dari semua pihak, termasuk perusahaan BUMN yang ada di sentra usaha kecil dan menengah Jabar. Peran BUMN, kata Fery, bukan sekadar memberi dana CSR sebagai modal usaha, tapi juga dalam hal pelatihan bagi perajin usaha kecil dan menengah.
Pelatihan dianggap penting agar perajin memiliki kemampuan yang mumpuni. Keahliannya terus terasah sehingga produk yang diciptakan tidak kalah bersaing di pasaran.
Selama ini, CSR perusahaan terutama BUMN di Jabar telah berhasil di bidang kesehatan dan pendidikan. Ke depan, BUMN juga harus memperhatikan keberadaan usaha kecil dan menengah (UKM).