Cemburu Karena SMS, Azis Tikam Pacar
Hidup di tengah kecanggihan teknologi informasi ada kalanya justru serba tak enak
TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Hidup di tengah kecanggihan teknologi informasi ada kalanya justru serba tak enak. Endang (32), seorang pramusaji di Kafe Gaul Dua di Komplek Bintan Plaza Kota Tanjungpinang, merasakan bagaimana hubungannya dengan pacar justru meletup hanya gara-gara komunikasi via handphone yang tak berjalan lancar. Sang pacar marah karena kesal SMS yang dikirimkan tak terbalas.
Endang mengalami penganiayaan berat. Ia menderita lima tusukan senjata tajam dari Azis (40), pacarnya yang tiba-tiba datang ke tempat kerjanya dengan perangai marah-marah. Endang diseret dan ditikam berkali-kali hingga terluka. Ia akhirnya dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kota Tanjungpinang, Sabtu (5/1/2013) dinihari.
Rekan-rekan satu kerja Endang menduga tindakan kasar itu dilakukan Aziz karena cemburu. Gara-garanya hanya masalah pesan pendek yang tak ditanggapi. "Mungkin dia cemburu pada Endang. Dia (Azis) sempat bilang kenapa di‑SMS tak pernah dibalas. Ngak ada pulsa ya. Dasar miskin," ucap Wiwin, teman Endang menirukan ucapan Azis saat menghardik pacarnya.
Aziz kala itu terus menggertak. Ia memaksa Endang mau diajak masuk ke kafe, namun ditolak. Azis pun menyeret Endang sampai di depan tempat loundry yang beberada beberapa meter dari Kafe Gaul Dua. Di situlah Azis menikam Endang secara gelap mata.
Wiwin mengaku dirinya dan kawan‑kawan lainnya tidak bisa membantu Endang karena mereka takut amukan Azis menyasar kepadanya. Setelah Aziz pergi barulah Endang dilarikan ke rumah sakit.
Usai mendapatkan perawatan medis, Endang lebih banyak tertutup. Ia menutupi wajahnya dengan handuk saat berada di ruang Dahlia. Tak sedikitpun keterangan diperoleh darinya mengenai latar belakang kejadian itu. "Sudahlah. Tidak ada apa‑apa," kata seorang wanita yang selalu mendamping Endang.
Ada lima luka bekas tikaman yang terdapat di beberapa bagian tubuh Endang, yakni punggung kiri, kepala bagian kanan, siku tangan kiri, jari‑jari tangan kiri, dada sebelah kiri. Sebelum dibawa ke ruangan Dahlia, Endang mendapat perawat intensif di ruang tindakan IGD selama hampir dua jam.
Wiwin dan rekan-rekan kerja Endang menuturkan bahwa Azis malam itu datang dengan menggunakan sepeda motor Revo. Entah ada masalah apa, namun raut muka Aziz tampak kecewa.
"Dia memang sering datang ke Kafe Gaul. Tetapi selama ini dia tidak pernah buat masalah. Malam ini dia agak lain. Dari wajahnya saja, kita bisa lihat. Dia datang dengan kondisi mabuk. Karena mabuk maka Endang tak mau diajak masuk ke dalam kafe. Dia selalu paksa, sampai diseret-seret, namun tetap ditolak," katanya.
Wiwin menyatakan enggan mencampuri urusan pribadi antara Azis dan Endang. Lagi pula sepengetahuan Wiwin dan kawan‑kawan lainnya, Endang sudah kerap diperlakukan kasar oleh Azis. Kini Endang kian terkejut, tak hanya perlakuan kasar namun justru sampai pada tindak kekerasan.
"Kami baru tahu setelah Endang menjerit. Kami semua langsung berlari ke sana. Sampai di sana kami lihat dia sudah berdarah. Sedangkan Azis langsung lari dengan sepeda motornya. Kami akhirnya bawa Endang ke rumah sakit," papar Wiwin.
Hubungan antara Endang dan Aziz diketahui sudah lama terjalin. Namun kabar yang beredar, hubungan keduanya tidak disetujui oleh adik Endang. "Adik korban ini tidak suka pada pelaku. Yang saya dengar, Aziz bekerja pada pertambangan bauksit di Dompak," tutur Wiwin.
Aziz belum memberikan keterangan terkait aksinya itu. Ia masih kabur usai melihat pacarnya terkapar. Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang, AKP Memo Andrian dengan tim buru sergap (Buser) terus melacak keberadaan Azis. Namun hingga petang kemarin, Aziz belum diketahui keberadaannya. (Tribun Batam/tom)
Baca juga:
- Perwira Polres Murungraya Hilang Saat Kapal Tenggelam
- Lanjutan Sekolah Di Melawi
- Pemkot Butuh 9,7 Hektare Lahan Untuk Perluasan Runway Sepinggan
- Pemkot Samarinda Sampaikan Tindak Lanjut LHP BPK