Jumat, 29 Mei 2026

Pedagang Daging Akan Mogok Lagi

Situasi itu menyebabkan harga jual daging sapi pada level eceran pun terus naik.

Tayang:
Editor: Sanusi

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Dalam beberapa pekan terakhir, harga jual sapi potong melambung. Situasi itu menyebabkan harga jual daging sapi pada level eceran pun terus naik.

Bagi para pedagang sapi, melejitnya harga pada Rumah Pemotongan Hewan (RPH) membuat mereka harus menaikkan harga jualnya. Efeknya, daya beli melemah, sehingga pembeli makin berkurang.

"Dalam satu pekan, harga daging pada tingkat RPH terus naik. Angkanya Rp 3.000 per kilogram untuk karas (daging dan tulang)," kata Ketua DPD Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia (Apdasi) Jabar, Dadang Iskandar, saat dihubungi Tribun, Minggu (20/1).

Dadang mengatakan, saat ini, harga jual karas pada level RPH menembus Rp 70 ribu per kilogram. Angka itu, melebihi harga jual pada saat Ramadan dan Idulfitri lalu, yaitu sekitar Rp 60-65 ribu per kilogram.

Tingginya harga karas menyebabkan harga jual daging pada tingkat pasar tradisional pun naik. Tidak tertutup kemungkinan, dalam beberapa hari mendatang, harga jual daging pada level pasar tradisional melebihi Rp 100 ribu per kilogram. "Ini memberatkan, tidak hanya kami, para pedagang, tetapi juga konsumen," ujar Dadang.

Karenanya, kata Dadang, Apdasi menuntut pemerintah, pusat, provinsi, sampai kota-kabupaten, untuk mengendalikan harga jual daging sapi. Dia mengatakan, sebenarnya sudah beberapa kali mengajukannya kepada pemerintah. Namun, belum ada tindak lanjutnya.

Sebagai bentuk protes, imbuh Dadang, para pedagang daging di Bandung Raya, Sumedang, Ciamis, dan lainnya, bersepakat untuk melakukan aksi mogok berjualan pada Senin (21/1) ini.

"Rencananya, aksi itu kami lakukan selama tiga hari. Tapi, jika pemerintah tetap tidak ada langkah kongkret untuk menyikapi tingginya harga jual daging sapi pada tingkat RPH, bisa saja, aksi itu kami lakukan lebih lama," ujarnya.

Dadang menduga, tingginya harga sapi potong itu karena ada ulah kalangan pemodal besar. Memang, di check point Jabar, yaitu di Banjar (Kota Banjar) dan Losari (Kabupaten Cirebon), banyak sapi yang masuk ke Jabar dari Jateng dan Jatim, serta Nusa Tenggara. "Tapi, permasalahannya, setelah dari check point, sapi-sapi itu tidak sampai ke RPH. Kalaupun masuk, jumlahnya tidak sesuai kebutuhan," ujar Dadang.

Saat ini sapi yang tersedia di RPH seluruh Jabar sekitar 30 ribu ekor, padahal agar kebutuhan jumlah sapi potong di Jabar terpenuhi, perlu 55 ribu-60 ribu ekor per bulan.

Tidak tertutup kemungkinan, ucap Dadang, kekurangan sapi potong itu dimanfaatkan pemodal besar untuk mempermainkan harga. Misalnya, menimbun sapi potong atau menjualnya ke daerah lain dan mendatangkan sapi impor.

Bagi para pedagang bakso kelilingm tentunya, mogoknya para pedagang daging sapi itu menyulitkan mereka memperoleh daging sapi.

"Pasti jadi susah berjualan. Sekarang saja, saya harus mengurangi porsi karena harganya (daging sapi) mahal, sekitar Rp 80 ribu-90 ribu per kilogram. Bagaimana kalau mogok? Tambah susah saja," ujar Ujang, pedagang bakso keliling yang ditemui Tribun di kawasan Jalan Surapati, Bandung.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved