Tidak Ada Obat yang 100 Persen Ampuh
Boleh saja makan obat yang kita rasa tokcer, tapi tentu wajib membaca komposisi dan aturan pakainya.
TRIBUNNEWS.COM - Sakit, sebagai bagian dalam kehidupan kita sebetulnya sebuah warning. Ada sesuatu yang salah pada tubuh kita, bisa psikis atau fisik. Peringatan ini tak boleh kita abaikan. Solusinya, boleh saja makan obat yang kita rasa tokcer, tapi tentu wajib membaca komposisi dan aturan pakainya.
Kita harus mafhum, obat itu zat kimia yang bersifat racun. Namun, jangan khawatir. Dalam jumlah tertentu ia memang bisa mengobati penyakit. Penggunaan obat yang tidak wajar hanya akan menciptakan masalah, bukan solusi. Orang pun bisa meninggal hanya karena sekali minum Paracetamol, tentunya dengan dosis yang sangat besar.
"Setiap penggunaan obat mengandung risiko, baik efek samping atau yang tidak bisa kita kenali," papar Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, Sp.FK.(K), spesialis Farmakologi dan Terapeutik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rianto seperti dikutip Tribunnews.com dari Intisari-Online.com mencontohkan antihistamin yang efek sampingnya bikin kita mengantuk. Sayangnya, kata Rianto, kita tidak bisa membedakan apakah rasa mengantuk itu disebabkan obat atau penyakitnya.
Makanya bila memang tidak begitu perlu, tak usahlah memaparkan diri ke aneka macam risiko pemakaian obat. Bahkan, menurut pemaparan Rianto, tidak ada obat yang 100% efektif dan aman. Hampir semua obat punya efek samping. Kebijaksanaan menggunakan obat pun menjadi penting.
Penggunaan obat yang baik tentunya harus sesuai dengan indikasi, lama penggunaan, dan dosis. Dengan begitu kita bisa memetik manfaat obat secara optimal dengan efek samping yang relatif kecil. Sesuai dosis, misalnya. Dosis yang terlalu kecil tidak akan memberikan manfaat bagi tubuh. Sebaliknya, dosis yang terlalu besar juga bisa berefek toxic. Misalnya obat untuk menurunkan kadar gula darah. Bila dosisnya melebihi yang seharusnya, tentu saja bisa bikin kadar gula turun drastis. Malah saking rendahnya bisa bikin pingsan. Waduh!
Rianto mengingatkan, makin banyak obat yang kita makan, makin banyak pula efek sampingnya. "Gunakan obat seperlunya. Obat itu bukan kacang goreng!" tegas Rianto. (Intisari-Online.com/Nur Resti Agtadwimawanti)
=================