Rabu, 27 Mei 2026

Bambang Prihatin Kasus DBD Rambah Daerah Pinggiran

Enam Kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang dinyatakan sebagai daerah rawan dan endemis Demam Berdarah Dengue (DBD

Tayang:
Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM MAGELANG, - Enam Kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang dinyatakan sebagai daerah rawan dan endemis Demam Berdarah Dengue (DBD). Kepala bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Bambang Sugiyanto menjelaskan wilayah yang rawan terhadap DBD adalah wilayah jalan besar dan perkotaan. Namun demikian, saat ini wilayah pinggiran juga rawan terhadap DBD.

“Beberapa wilayah seperti Secang, Kota Magelang, Bandongan, Mertoyudan, Borobudur, Muntilan, Salam, yang berada di jalur jalan raya merupakan daerah endemis DBD,” jelas Bambang kepada Tribun Jogja beberapa hari lalu.

Daerah tersebut dinyatakan endemis DBD karena banyak kasus DBD ditemukan di wilayah tersebut. Selain itu juga, menurutnya mobilitas di daerah tersebut cukup tinggi.

“Namun sekarang daerah pinggiran pun juga berpotensi menjadi endemis karena pola hidup masyarakat yang kurang bersih,” jelasnya.

Daerah pinggiran, menurut Bambang sudah mulai terjangkit DBD di awal musim penghujan ini. Seperti Dusun Kanci I dan II, Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan dipastikan sebagai daerah positif endemis penyakit Demam Berdarah (DBD). Sebanyak empat warga di Dusun tersebut dinyatakan positif terjangkit penyakit tersebut. Hingga akhirnya membuat petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang melakukan pengasapan beberapa waktu lalu.

Di daerah tersebut, empat warga terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan dua warga yang terjangkit penyakit ini masih berumur di bawah tiga tahun (balita). Keempatnya sempat dirawat di rumah sakit.

Sementara dua diantara korban yang terjangkit penyakit tersebut adalah Nur Laila (14) dan Fahmi (10). Kedua korban itu diketahui kakak beradik dan tinggal serumah.

“Ini yang perlu kita waspadai. Saat ini DBD sudah menjangkau pinggiran,” jelasnya.

Sementara itu, ia juga menjelaskan fokus fogging akan dilakukan pada tempat yang benar-benar terindikasi endemis. “Terutama jika ada temuan DBD yang benar-benar indigenous (berasal dari tempat itu), bukan impor,” jelasnya. Pemkab saat ini telah menyiapkan 97, 5 liter obat untuk 65 fokus pengasapan (fogging).

Menurutnya, sejauh ini ada dua kasus DBD yang ditemukan yaitu impor (berasal dari daerah lain) dan indigeneous. Jika DBD itu bersifat impor, kata dia, pihaknya hanya berusaha untuk mewaspadai. Namun, bila kasus DBD tersebut memang ditemukan merata di sebuah tempat, pihaknya akan menyiapkan fogging.

“Jadi jika daerah itu diketahui sebagai breeding place (pertumbuhan nyamuk) kita akan lakukan fogging. Ini sangat berbahaya,” katanya.

Kepala seksi (Kasi) Pencegahan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kabupaten Magelang, Darsiwan menjelaskan terdapat sembilan temuan kasus demam berdarah dengue (DBD) tercatat sejak awal bulan Januari 2013. Sembilan kasus DBD tersebut, ditemukan di empat kecamatan di Kabupaten Magelang.

Menurutnya, empat wilayah yang sudah terserang DBD adalah, wilayah Kecamatan Bandongan, Grabag, Mertoyudan dan Salam.
“Ada beberapa titik yang sudah kami fogging (pengasapan),” jelasnya.

Darsiwan juga menyebutkan kasus di tahun 2012 mencapai 59 kasus DBD. Untuk mengantisipasi penularan DBD, pihaknya langsung menyiapkan langkah taktis yaitu dengan menyiapkan fogging (pengasapan).

“Untuk tahun ini, kita ada 65 fokus fogging. Untuk satu fokus, rata-rata kita menghabiskan sekitar 1,5 liter obat. Kami kira stok obat aman sampai tahun ini,” jelasnya. (ais)

Baca  Juga  :

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved