Minggu, 31 Agustus 2025

Pemilu 2014

Pemilih Muda Tertarik Tokoh yang Tampil di Televisi

Pemilih pemula dinilai akan sangat tertarik dengan tokoh yang kerap muncul di televisi.

Penulis: Danang Setiaji Prabowo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemilih pemula dinilai akan sangat tertarik dengan tokoh yang kerap muncul di televisi.

Karena itu, kemasan iklan sangat menentukan untuk mendapat simpati pemilih muda, pada Pemilu 2014.

Ini diutarakan Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali. Ia mengatakan, pemilih muda sangat tergantung pada kemasan iklan, seperti iklan-iklan di tengah kota dan televisi, sehingga kalangan muda sangat tergoda untuk memilihnya.

"Seperti yang dilakukan Pak Hary Tanoe Soedibjo yang mulai sering masuk iklan, dan Prabowo Subianto. Tokoh-tokoh politik saat ini lebih menjadi selebriti agar bisa masuk TV dan iklan, sehingga dapat dipilih oleh masyarakat saat pemilu," kata Effendi saat menjadi pemateri 'Pelatihan Nasional Kominfo Tidar' di Hotel Ibis Arcadia, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2013).

"Begitu juga kebalikannya. Para selebriti kini lebih mudah masuk dunia politik. Puncaknya saat Pemilukada Jawa Barat kemarin, di mana para kandidatnya kebanyakan dari kalangan selebriti seperti Dedi Yusuf, Dedy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka," tutur Effendi.

Dalam konteks menaikkan popularitas agar dipilih kalangan muda, lanjutnya, maka lawan politik dari para tokoh tadi, juga sangat mudah mengubah pandangan politik dan persepsi masyarakat, khususnya kalangan muda, dengan membuat sinisme politik untuk menjatuhkan lawan, melalui media social, talk show televisi, radio, serta media massa lain.

Menurut Effendi, jika ingin menjual caleg atau pemimpin tertentu supaya dipilih oleh kalangan muda, maka harus memunculkan karakter tokoh yang akan dipilih, dan bukan figurisasi. Ia mencontohkan, karakter kuat seorang tokoh bisa dilihat pada sosok Gubernur DKI Jakarta Jokowi.

"Jadi, saat ini seharusnya partai politik seperti Gerindra, memasukkan orang-orang baik. Karena, saat ini susah menjadikan orang baik menjadi pemimpin," bebernya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Pusat Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Aryo Djojohadikusumo, meminta seluruh calon kepala daerah dari Partai Gerindra, tidak lagi mengunakan konsep kotak-kotak Jokowi-Basuki.

Kekalahan cagub Gubernur yang didukung Gerindra seperti di Sumut dan Jabar, membuktikan 'pengkopian' kotak kotak tidak berhasil.

"Caleg, calon kepala daerah tingkat provinsi, kota/kabupaten, harus punya kreasi sendiri dan baru. Jangan tiru gaya kotak-kotak, kegagalan Sumut dan Jabar bukti itu tidak berhasil," jelasnya.

Aryo meminta semua kader Gerindra meningkatkan sosialisasi kegiatan positif yang selama ini sudah dikerjakan, namun kurang dipublikasikan. (*)TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemilih pemula dinilai akan sangat tertarik dengan tokoh yang kerap muncul di televisi.

Karena itu, kemasan iklan sangat menentukan untuk mendapat simpati pemilih muda, pada Pemilu 2014.

Ini diutarakan Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali. Ia mengatakan, pemilih muda sangat tergantung pada kemasan iklan, seperti iklan-iklan di tengah kota dan televisi, sehingga kalangan muda sangat tergoda untuk memilihnya.

"Seperti yang dilakukan Pak Hary Tanoe Soedibjo yang mulai sering masuk iklan, dan Prabowo Subianto. Tokoh-tokoh politik saat ini lebih menjadi selebriti agar bisa masuk TV dan iklan, sehingga dapat dipilih oleh masyarakat saat pemilu," kata Effendi saat menjadi pemateri 'Pelatihan Nasional Kominfo Tidar' di Hotel Ibis Arcadia, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2013).

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan