Kamis, 11 Juni 2026

Portfolio Kredit BTN Tak Terpengaruh Tren Tunai Bertahap

Persaingan dalam pembiayaan properti sudah menempuh babak baru dengan mekanisme tunai bertahap

Tayang:
Penulis: Arif Wicaksono
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Persaingan dalam pembiayaan properti sudah menempuh babak baru dengan mekanisme tunai bertahap. Mekanisme ini sudah banyak digunakan masyarakat untuk membeli rumah. Lalu bagaimana respon bank dalam menghadapi hal ini ?

Maryono, Dirut PT Bank Tabungan Negara (BBTN), mengakui tidak adanya masalah atas maraknya tunai bertahap dalam kredit BTN. Hal ini karena menurutnya sebagian besar porfolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN masih dihuni oleh konsumen kelas menengah saja.

"Saya rasa hanya yang mampu saja dan memang hampir sebagian besar porfolio kami sekitar 60 persen itu di bawah Rp 250 juta, jadi gak ada pengaruhnya kalau itu dilakukan," katanya di Jakarta, Kamis (23/05/2013).

Ia juga menilai mekanisme tunai bertahap hanya cocok bagi nasabah yang memiliki kondisi finansial yang baik. Dan membutuhkan kematangan, karena dana itu hanya dapat dicicil sebanyak tiga tahun lamanya.

"Bagi yang dibawah Rp 250 juta memang masih banyak yang kredit ini kan masih banyak yg butuh pendanaan jangka panjang dan ini yang memang sasaran kita, sedangkan yang rumah diatas Rp 300 juta sudah banyak yang memasuki tunai bertahap," katanya.

Namun lanjutnya, KPR masih menghuni sebagian besar porfolio BTN, karena pembeli kebanyakan adalah pembeli rumah pertama. Sehingga tidak akan terpengaruh dengan mekanisme tunai bertahap yang kebanyakan menyasar segmen menengah ke atas.

Sebelumnya Direktur Residensial Colliers Internasional (konsultan properti internasional) Aleviery Akbar  mengatakan mayoritas warga Jabodetabek membeli apartemen dengan metode cash installment atau tunai bertahap.

"Pembeli apartemen dengan cash installment jumlahnya mencapai 57 persen, sedangkan untuk hard cash atau tunai langsung sebanyak 24 persen dan KPA 19 persen," kata Direktur Residensial Colliers Internasional (konsultan properti internasional) Aleviery Akbar.

Akbar menuturkan, alasan banyak orang memilih tunai bertahap karena banyak pembeli yang tidak sanggup membayar tunai secara langsung.

Selain itu, metode tunai bertahap juga lebih dipilih karena tidak dikenakan bunga seperti KPA. Apalagi, saat ini telah banyak pihak pengembang yang menawarkan cara pembayaran tunai bertahap dengan jangka waktu pembayaran lama.

"Bahkan, ada yang menawarkan pembayaran hingga 24 sampai 36 bulan," katanya.

Ia mengungkapkan, alasan lain memilih tunai bertahap adalah karena keengganan mereka untuk pergi ke perbankan yang memiliki banyak ketentuan dan keruwetan tersendiri.

Hal itu, menurut dia, menunjukkan bahwa para pembeli apartemen rata-rata adalah kelas menengah ke atas yang memiliki sumber daya untuk membeli unit apartemen secara tunai sehingga tidak membutuhkan kredit dari bank.

"Untuk rusunami atau rumah susun sederhana milik saja banyak yang memakai cash installment," katanya.

Fenomena ini, lanjut Akbar, berbeda dengan rumah tapak (landed house). Untuk rumah tapak, banyak warga yang lenioh memilih menggunakan kredit untuk membeli unit rumah.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved