Kucing-kucingan Tak Bayar Pajak, Pengusaha Perhotelan Resah Hadapi Bisnis Agen Travel Online

Karena itu, PHRI menyarankan agar Kantor Pajak maupun Kementerian Keuangan memanggil OTA asing ini.

Kucing-kucingan Tak Bayar Pajak, Pengusaha Perhotelan Resah Hadapi Bisnis Agen Travel Online
KOMPAS IMAGES
Hariyadi Sukamdani 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha perhotelan di dalam negeri mulai tak nyaman dengan kehadiran Online Travel Agencies (OTA) alias agen travel online yang dikelola oleh perusahaan asing lantaran kucing-kucingan soal pajak.

Karena itu mereka mengadukan masalah ini kepada Kementerian Keuangan. Laporan ini lantaran OTA asing tak kunjung membayar penghasilan atas Wajib Pajak Luar Negeri atau PPh Pasal 26.

Dalam laporan yang disampaikan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pengusaha kerepotan saat direktorat jenderal pajak menanyakan perihal penjualan pemesanan kamar hotel via online ini kepada pengusaha hotel.

Pengusaha merasa sudah patuh bayar pajak, dan selama ini telah memberikan fee yang cukup besar kepada OTA asing tersebut.

"Selama ini mereka memungut fee besar juga rangenya sekitar 20%-30%," kata Ketua PHRI Hariyadi B. Sukamdani Senin (13/10/207).

Fee kepada OTA asing ini tergolong gede lantaran OTA lokal hanya mendapatkan fee sekitar 2% saja dari tarif resmi kamar hotel yang mereka tawarkan.

Baca: AISI: Pemerintah Harus Segera Terbitkan Regulasi Sepeda Motor Listrik

Baca: Kena Sanksi Otoritas Bursa, Artis Cantik Zhao Wei Dilarang Bertransaksi Saham Selama 5 Tahun

Hariyadi mengakui selama ini jaringan OTA asing ini mendominasi permintaan pemesanan hotel di Indonesia melalui aplikasi dan web portal yang mereka miliki.

Namun, mereka tidak mampu memberikan manfaat yang besar bagi Indonesia khusunya pajak.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help