Chrystal Wibisono Cari Tantangan dan Berhasil di Jepang

Nama saya sih sebenarnya Sempurno tetapi tertulis Wibisono, ya gak apalah

Chrystal Wibisono Cari Tantangan dan Berhasil di Jepang
Richard Susilo
Chrystal Wibisono karyawan Mitsubishi Hitachi Power Systems (MHPS) yang telah bekerja 4 tahun 6 bulan, berkarir sukses di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Usianya akan menjadi 27 tahun tanggal 18 Desember mendatang tapi keberhasilan sudah melekat kepadanya, bekerja di perusahaan besar Jepang MHPS (Mitsubishi Hitachi Power Systems), berhasil dipercaya berbagai hal penting di tempatnya bekerja sejak empat tahun enam bulan lalu.

“Nama saya sih sebenarnya Sempurno tetapi tertulis Wibisono, ya gak apalah,” kata Chrystal Wibisono kelahiran Jakarta, memulai pembicaraan khusus dengan Tribunnews.com belum lama ini di Takasago Perfektur Hyogo Jepang.

Chrystal lulusan sebuah universitas di Beppu Jepang bulan Oktober 2012, “Setelah lulus saya menunggu setengah tahun lalu melalui test yang diikuti 200 orang, lima WNI, saya dan satu lelaki diterima di MHPS (Mitsubishi Hitachi Power Systems).

“Satu lelaki Indonesia di terima dipekerjakan di kantor pusat di Yokohama dan saya di pabrik yang ada di Takasago Hyogo ini dan menekankan gas turbin di sini,” tambah gadis Katolik ini yang mengaku sebelumnya ditentang mamanya saat ke Jepang di masa lalu.

“Wah dulu sih rebut juga kata mama ngapain sih belajar jauh-jauh. Mama mau saya belajar di Singapura atau Malaysia, tapi saya mau yang jauh mencari tantangan yang ada dan awalnya mau ke Kalifornia, akhirnya malah ke Jepang.”

Itu pun setelah ayahnya datang ke sebuah Education Fair di Jakarta ketemu universitas di Jepang itu, sekolah tak perlu pakai bahasa Jepang dan ada beasiswa lagi, “Ya barulah diperbolehkan ke Jepang.”

Setelah belajar dan lulus dari universitas itu janjinya akan pulang ke Indonesia.

“Tapi saya lihat teman-teman cari kerja di Jepang ya saya ikutan cari kerja dan ternyata lulus diterima MHPS langsung masuk ke perusahaan itu hingga kini.”

Apakah orangtuamu tak kaget kamu tidak pulang bahkan diterima bekerja di perusahaan Jepang?

“Ya awalnya sih kaget juga tapi yang paling kaget adalah lembur kerja di perusahaan ini kerja sampai malam. Tapi juga dapat uang lembur sih sehingga penghasilan lumayan sekitar 300.000 yen sebulan,” jelasnya lagi.

Terus uang itu tidak kamu kirim ke mama?

“Tidak saya simpan sendiri dan mama juga bilang untuk investasi hidupmu di masa depan,” tambahnya.

Chrystal empat tahun lebih bekerja di MHPS dan memang kangen juga pulang ke Indonesia. Rupanya keinginan tersebut terkabulkan juga akhirnya sehingga mulai 1 November lalu Chrystal bekerja di MHPS Indonesia.

“Wah mama happy banget deh saya bekerja di Indonesia akhirnya.Kita tinggal di Sunter, tapi ya mungkin kerjaannya bisa dobel triple mungkin sih,” ungkapnya lagi memperkirakan sendiri.

Apabila saat di Takasago Chrystal bekerja untuk focus ke gas turbin di Jakarta diakuinya harus banyak belajar segala macam nantinya karena menghadapi konsumen, tambah sang gadis yang mengaku belum punya pacar itu.

Namun setelah tiga tahun tampaknya Chrystal harus balik kembali ke Jepang.

“Kalau balik ke Jepang siapa tahu ingin cari suasana berbeda bagaimana cara me-manage orang. Masuk paling bawah cukup lama memang untuk karir orang Jepang, itu budaya Jepang sih,” papar pemegang sertifikat kemampuan bahasa Jepang N-2 tersebut.

Di Jakarta posisinya sebagai Asisten Manajer bagian Sales. Bekerja dari bawah di mana sebelumnya di bagian EPC (Engineering procurement construction).

Lalu bagaimana suasana kerja di perusahaan Jepang ini?

“Bagus tak ada diskriminasi karena banyak orang asing juga. Terutama di Sales ada orang Bangladesh, China banyak banget dan juga Korea. Lalu Uzbekiztan, Filipina, Mongolia, Norway, Australia dan Irlandia juga banyak, jadi memang sangat mengglobal.”

Bagi dirinya yang menjadi tantangan selama ini sebenarnya lebih kepada kepercayaan diri.

“Saya mungkin agak minder. Di sini kan lelaki semua saya cewek sendiri jadi kalau rapat ya deg-degan juga sih. Kalau ada orang PLN datang misalnya, mungkin mereka melihat saya cewek, masih muda lagi, ngapain nih cewek di sini. Kesannya takut aja sih,” jelasnya.

Lalu bagaimna dengan masa depan Chrystal?

“Jujur saja belum piker apa-apa jalani aja yang tiga tahun di Jakarta deh. Dulu saya mau ikin perusahaan sendiri Event Organizer tapi kan putuh nework kerja parter juga. Tapi saya juga senang sekali kalau bisa jadi model ya.”

Kalau mama tak boleh kamu ke jepang lagi bagaimana?

“Iya, Mama sudah sering banget bilang begitu. Mama ingin cariin kerja buat saya di Indonesia dan gaji di Indonesia memang lebih bagus daripada di Jepang sih.

Tapi, ungkapnya lagi, kalau ada yang bisa dipelajari di Jepang ya kenapa tidak ke Jepang. Kerjaan mungkin sama tiap hari. Tetapi sering ada hal baru o itu belum pernah, ini belum pernah, cara nego begini ada juga ya, ada saja hal baru bermunculan,” paparnya lagi.

Pada prinsipnya Chrystal melihat apa yang akan terjadi di Indonesia tiga tahun mendatang.

“Tapi kaau ternyata punya suami dan anak ya pingin kerja lebih santai sih,” tekannya terus terang.

Penggemar makanan Sukiyaki ini juga suka baca buku mengenai pengembangan diri terkait Human Resources. Juga suka baca buku shojo manga, drama anak-anak SMA dan juga suka nonton film Marvel Hollywood.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help