Pemilik Toko di Asakusa Tokyo Jepang Menjerit Harga Sewa Melonjak 16 Kali Lipat

Mulai Januari 2018 uang sewa toko mendadak akan naik 16 kali lipat dari semula 23.000 yen, ditetapkan akan menjadi 370.000 yen per bulan.

Pemilik Toko di Asakusa Tokyo Jepang Menjerit Harga Sewa Melonjak 16 Kali Lipat
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Daerah Pariwisata Asakusa Tokyo dengan deretan toko-tokonya di kanan kiri. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Mulai Januari 2018 uang sewa toko mendadak akan naik 16 kali lipat dari semula uang sewa bulanan sebesar 23.000 yen, ditetapkan akan menjadi 370.000 yen per bulan.

"Keterlaluan sekali, masa kita dikenakan uang sewa yang sangat mahal di sini mulai tahun depan karena jauh semakin banyak turis datang ke sini akhir-akhir ini," kata Ota, salah seorang pemilik toko di Jalan Belanja Nakamise di Distrik Asakusa yang bersejarah di Tokyo menghadapi krisis, kepada Tribunnews.com, Jumat (1/12/2017).

Perubahan kepemilikan bangunan, yang terletak di antara Gerbang Kaminari-mon dan Kuil Senso-ji, diatur untuk meningkatkan uang sewa yang mereka bayar dengan kenaikan marjin yang signifikan.

Baca: Kaisar Jepang Resmi Turun Takhta 30 April 2019, Digantikan Putra Mahkota Akishinomiya

"Saat itu sekitar bulan September, setiap pemilik toko menerima dua lembar kertas," tambahnya.

Pemberitahuan itu dengan jelas menuliskan bahwa mulai bulan Januari, uang sewa di sepanjang jalan akan melonjak dengan kelipatan 16.

"Toko saya ada di sini sejak akhir perang, tapi saya tidak dapat membayar 16 kali lipat lebih banyak. Dan kenyataannya, saya berpikir sebagian besar pemilik toko yang ada di sini juga saya yakin tak bisa," kata dia.

Sebanyak 89 toko yang menjajakan t-shirt dan barang lainnya, saat ini membayar uang sewa bulanan sebesar 23.000 yen.

Mulai Januari 2018 nanti, angka tersebut ditetapkan menjadi 370.000 yen per bulan.

Baca: Prihatin Letusan Gunung Agung, Kaisar Jepang Akihito Batalkan Perayaan Ulang Tahun di Bali

Menurut Yujun Moriyama, yang memimpin Senso-ji, alasan untuk lompatan sewa dapat ditelusuri kembali ke revisi undang-undang yang dibuat oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo pada tahun 2011.

Perubahan ini mengakibatkan Senso-ji dipaksa untuk membayar pajak untuk Nakamise karena toko-toko itu untuk usaha nirlaba.

"Tanah di Nakamise dimiliki oleh Senso-ji, namun toko-toko itu dimiliki oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo," vendor yang sama melanjutkan.

"Jadi kami bayar sewa kepada pemerintah. Tapi di bulan Juli, kuil Senso-ji membeli bangunan dari Tokyo," katanya.

Itulah sebabnya kini semua toko di sana sepenuhnya menjadi milik Kuil Senso-ji dan harus bayar ke Kuil Senso-ji.

Pada 2016, jumlah turis asing yang tiba di Jepang naik 21,8 persen menjadi 24,04 juta dolar, menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang.

Baca: Pangeran Jepang Akishinomiya Masih Bingung Bersanding dengan Naruhito Gantikan Kaisar Akihito

Pengeluaran melonjak 7,8 persen menjadi 3,75 triliun yen, yang juga merupakan titik tertinggi sepanjang masa.

Itulah sebabnya pemda Tokyo menjualnya dan cuci tangan dari sana, dapat uang dari penjualan bangunan toko-toko tersebut untuk mengurangi beban kas pemda selama ini dari Asakusa.

Salah satu tujuan populer bagi wisatawan mancanegara adalah Asakusa.

"Sebuah fakta yang tidak dapat dihindarkan. Saya memeriksa harga pasar dalam meninjau uang sewa," kata Moriyama.

Kemudian seorang pengacara memberi tahu serikat pekerja di sana dan juga kepada para pemilik toko pada bulan September.

Jika para pemilik toko mengosongkan bangunan, maka diperkirakan perusahaan besar dapat memindahkan bisnis mereka ke dalam, seperti kedai kopi Starbucks menjadi satu contoh masuknya toko besar ke dalam wilayah turis tersebut.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help