Pertama Kalinya Badan Meteorologi Jepang Gelar Kontes Memanfaatkan Data untuk Masyarakat Umum

Untuk pertama kali Badan Meteorologi Geofisika Jepang membuat kontes pemanfaatan data besar (big data) dari badan tersebut untuk masyarakat umum.

Pertama Kalinya Badan Meteorologi Jepang Gelar Kontes Memanfaatkan Data untuk Masyarakat Umum
NHK
Para pemenang kontes cuaca dalam kontes meteorologi Jepang pertama, Jumat (19/1/2018). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Untuk pertama kali Badan Meteorologi Geofisika Jepang membuat kontes pemanfaatan data besar (big data) dari badan tersebut untuk masyarakat umum.

"Tiap hari kami mengupload data kira-kira 1600 gigabyte. Terkait seperti ramalan cuaca, gempa bumi, informasi gunung api, dan lain-lain," ungkap seorang petugas Badan Meteorologi Jepang, Jumat (29/1/2018).

Sebuah kontes bagi masyarakat diikuti 40 orang di Minato, Tokyo dilakukan pertama kali untuk memunculkan berbagai ide bagaimana data meteorologi bisa dimanfaatkan lebih baik lagi bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Baca: Di Jalan Sini, ya Cuma Bambang Soesatyo yang Punya Mobil-mobil Keren

"Kontes ini merupakan pembukaan pertama Badan Meteorologi untuk memperluas kesempatan memanfaatkan data dalam jumlah besar tersebut. Kelompok dibagi 8 tim sehingga tiap kelompok terdiri dari 5 orang," tambahnya.

Beberapa peserta mengusulkan dan menampilkan aplikasi meliputi aplikasi smartphone yang menyarankan rencana perjalanan yang optimal untuk mengakomodasi perubahan cuaca dan suhu yang diharapkan.

Dan dengan menunjukkan cuaca yang diharapkan pada hari itu agar mudah dilihat dengan gambar payung berwarna di pagi hari berbeda dengan di malam hari.

Baca: Warga Pasar Tembung Mengutuk Keras Aksi Pembunuhan Keji Siswi SMA

Sebuah sistem yang dapat dengan mudah memeriksa apakah lebih baik sedia (membawa) payung hari itu sebelum ke luar atau tidak perlu.

Ada pula proposal dengan mereproduksi bumi seukuran telapak tangan, kita bisa melihat gerakan awan dan bagaimana hujan turun sekaligus.

Misalnya jika menyentuh daerah di mana salju turun, maka kita bisa merasakan dinginnya "bola awan".

Sebuah sistem yang sama sekali baru diusulkan.

Baca: Tak Bersedih Aset Berharganya Disita KPK, Rita: Tidak Apa-apa, Harta Dunia Itu

"Saya tidak berpikir bahwa informasi meteorologi telah sepenuhnya digunakan masyarakat. Namun saya ingin dan berusaha untuk mengembangkan layanan baru agar banyak manfaat bagi masyarakat," kata seorang peserta laki-laki baru mahasiswa tingkat ke-3.

Peramal cuaca Toshiyuki Minami, yang bertanggung jawab atas ramalan cuaca di NHK, mengatakan, "Sangat membantu mengetahui bagaimana memanfaatkan data besar cuaca dengan konten yang menarik. Saya merasa bahwa hal itu akan menyebabkan kemudahan hidup kita masing-masing."

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help