Profesor Alex Bennett: Beladiri Jepang Kendo Terpenting Sikap, Bukan Soal Menang atau Kalah

Dia juga mencontohkan beserta film adanya sebuah pertandingan internasional kendo

Profesor Alex Bennett: Beladiri Jepang Kendo Terpenting Sikap, Bukan Soal Menang atau Kalah
Richard Susilo
Profesor Alex Bennett PhD, Profesot Universtas Kansai Jepang yang 30 tahun mempelajari Kendo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM Tokyo - Seorang profesor New Zealand yang 30 tahun mempelajari sejak usia 18 tahun masih di SMA di Jepang, kini di peringkat Kendo Kyoshi 7-dan, mengungkapkan bahwa terpenting dari Kendo adalah sikap (attitude) seseorang.

"Pada sebuah turnamen nasional di Jepang, seorang peserta kendo saat bertanding bersikap angkuh ternyata langsung mendapat teguran dari wasit walaupun dia memenangkan sesi pertandingannya," papar Profesor Alex Bennett PhD, Profesot Universtas Kansai Jepang yang 30 tahun mempelajari Kendo malam ini (15/3/2018) di Universitas Lakeland Tokyo.

Dia juga mencontohkan beserta film adanya sebuah pertandingan internasional kendo, di mana si pemenang justru malah merasa tidak puas setelah usai pertandingan.

"Lihat itu pemenangnya, dengan sopan membungkuk dan berterima kasih setelah usai pertandingan. Tapi setelah ke luar ruangan tampak seolah mengeluh, aduh kenapa sih say amenang seperti itu," jelasnya lagi.

Ternyata kerendahan hati, tidak boleh sombong, harus bisa menjaga emosi kita, menjaga sikap sopan santun, malahan hal terpenting dalam olahraga tradisional Jepang, Kendo ini.

Permainan Kendo tampaknya berusaha menyatukan hati dan perasaan pelakunya kepada pemain lawan. Ke mana arah tongkat bambu akan diayunkan dan juga kecepatan gerak.

Setelah saling mendalami perasaan lawan, kita membuat strategi untuk memukul tangan, lengan atau badan tubuh atau kepala lawan dengan strategi dan kecepatan yang jitu tepat waktu, sambil mengerahkan semua kekuatan lewat teriakan mulut (suara) saat menyerang sebagai salah satu strategi melawan pesaing kita.

"Saat saya belajar kendo sejak di SMA, langsung tak lama saya minta ke luar tidak mau latihan lagi karena membosankan. Tapi sensei (guru) saya melarang. Dalam hati, kehidupan saya, dan saya yang ingin berhenti, kok dia yang mengatur saya dan melarang saya sih," tekannya.

Tapi akhirnya profesor ini terus menerus mempelajari Kendo tujuh hari seminggu, seolah tak ada hari istirahat.

"Lain dengan di Selandia Baru negeri saya, kalau Sabtu dan Minggu pasti libur."

Demikian pula latihan kendo di Jepang atau beladiri lain di Jepang seperti latihan militer saja.

"Di Jepang kalau latihan beladiri seperti latihan militer, untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mental benar-benar, habis-habisan deh pokoknya kita di tekan untuk bisa kuat mental dan fisik," ungkapnya lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help