Kasus Langka, Mahkamah Agung Jepang Bebaskan Bos Yakuza Tapi Pengadilan Negeri Putuskan Bersalah

Kasus langka di Jepang, seorang pimpinan mafia Jepang (yakuza) Yamaguchigumi diputus bebas di Mahkamah Agung Jepang.

Kasus Langka, Mahkamah Agung Jepang Bebaskan Bos Yakuza Tapi Pengadilan Negeri Putuskan Bersalah
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Pengadilan Negeri Osaka Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kasus langka di Jepang, seorang pimpinan mafia Jepang (yakuza) Yamaguchigumi diputus bebas di Mahkamah Agung Jepang.

Kasus ini kemudian ditinjau ulang dan diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri Osaka, tetapi akhirnya dibatalkan karena tersangka meninggal di Shizuoka akibat penyakit kronis sirosis hati.

"Ini memang kasus sangat langka tak pernah terjadi sebelumnya. Tersangka pimpinan Yamaguchigumi diputus bebas tidak bersalah oleh Mahkamah Agung. Tapi Maret 2017 tersangka dituntut kembali oleh Pengadilan Osaka, diputuskan bersalah dan penjara 6 tahun," ungkap sumber Tribunnews.com, Kamis (10/5/2018).

Kasus seperti ini menurutnya pertama kali terjadi di Jepang karena pengadilan menganggap tidak mungkin tersangka tidak tahu kalau kedua anak buahnya memiliki 2 pucuk pistol.

Baca: Jenazah Iptu Yudi Rospuji Dimakamkan di TMP Bumiayu Bersamaan dengan Hari Kelahiran Sang Putra

"Namun setelah tersangka mengajukan naik banding dan ingin disidangkan kembali yang ke-8 kali tanggal 9 Mei kemarin, sidang pengadilan akhirnya memutuskan membatalkan semua keputusannya karena tersangka meninggal di rumah sakit di Shizuoka akibat penyakit kronis sirosis hati," tambahnya.

Kasus pimpinan Yamaguchigumi, Takashi Takizawa yang akan berusia 81 tahun tanggal 20 Juli 2018 itu, berawal sekitar 17 tahun lalu.

Pengadilan Negeri Osaka 17 tahun lalu menyidangkan Takizawa karena dianggap mengetahui adanya 2 pucuk pistol yang dipakai anak buahnya dan kemudian dipakai membunuh pimpinan anggota yakuza lain.

Baca: Wakapolri: Ledakan Kamis Pagi Berasal dari Bom yang Dirakit Napi

Pengadilan negeri memutuskan bersalah, demikian pula pengadilan tinggi Jepang juga menyatakan bersalah.

Tahun 1997 dua bodyguard Takizawa ditangkap polisi karena memiliki pistol.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help