Perawat Jepang Diduga Kuat Membunuh Sedikitnya 20 Pasien Lansia Jepang

Pembunuhan dengan memasukan cairan racun ke dalam cairan infus mereka sehingga malam harinya keduanya meninggal dunia.

Perawat Jepang Diduga Kuat Membunuh Sedikitnya 20 Pasien Lansia Jepang
Richard Susilo
Ayumi Kuboki (31) perawat yang diduga kuat sebagai pembunuh sedikitnya 20 pasien lansia Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo  di Jepang

TRIBUNNEWS Tokyo -  Seorang perawat Jepang diduga telah membunuh sedikitnya 20 pasien yang dirawatnya di rumah sakit Oguchi Yokohama perfektur Kanagawa tahun 2016 dan kini ditangkap dengan semakin banyak bukti pembunuhan yang dilakukannya.

"Ayumi Kuboki (31) perawat yang diduga kuat sebagai pembunuh sedikitnya 20 pasien lansia Jepang minggu lalu telah ditangkap kembali dengan semakin banyak bukti pembunuhan yang dilakukannya sejak tahun 2016," ungkap sumber Tribunnews.com Rabu ini (11/7/2018).

Bulan September 2016 Sozo Nishikawa (88) dan Nobuo Yamaki, juga 88 tahun meninggal di kamar perawaannya lantai 4 rumah sakit Oguchi.

Pembunuhan dengan memasukan cairan racun ke dalam cairan infus mereka sehingga malam harinya keduanya meninggal dunia.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap pasien lansia lainnya dan perbuatannya dilakukan sekitar jam 3 siang.

Polisi telah membuktikan menemukan zat beracun tersebut di dalam saku baju seragam perawat Kuboki di samping bukti lain seperti rekaman kamera CCTV rumah sakit tersebut sehingga jelas perbuatannya terlihat saat memasukan cairan racun ke dalam cairan infus kepada pasien.

Motif pembunuh diduga kuat karena merasa kesal dan membosankan pasien lansia yang ditanganinya sehingga ingin segera dihabiskan nyawanya biar pekerjaannya semakin ringan.

Kuboki mendapatkan lisensi sebagai perawat tahun 2008 dan bekerja di beberapa rumah sakit sebelum memasuki rumah sakit Oguchi bulan Mei 2015.

Desember 2017 Kuboki sempat mengatakan kepada Asahi Shimbun, "Saya bekerja sangat berat untuk membantu pasien agar mereka dapat meninggal dalam kedamaian. Jadi saya sangat kaget sebenarnya dengan mendengar adanya insiden meninggalnya para pasien tersebut yang disebutkan sebagai pembunuhan."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved