Pelaksana Hukuman Mati di Jepang Ternyata Bergaji Sekitar Rp 1,4 Miliar per Tahun

Selama pekerjaannya di penjara, 27 tahun, Sakamoto menyaksikan sendiri pelaksanaan hukuman mati kepada 150 orang.

Pelaksana Hukuman Mati di Jepang Ternyata Bergaji Sekitar Rp 1,4 Miliar per Tahun
Richard Susilo
Toshio Sakamoto (71) mantan Direktur penjara Hiroshima Jepang dan pelaksana hukuman mati yang diputuskan Menteri Kehakiman Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pelaksana hukuman mati di Jepang, petugas penjara Jepang ternyata bergaji sekitar Rp.1,4 miliar (10 juta yen) per tahun. Belum lagi subsiti, biaya tambahan khusus apabila melakukan hukuman mati per orang mendapat 20.000 yen atau sekitar Ro.2,8 juta.

"Jumlah petugas penjara di Jepang saat ini sekitar 20.000 orang dan memang terdiri dari berbagai peringkat mulai bos teratas sampai dengan pelaksana di bagian paling bawah. Saya sendiri saat sebelum pensiun mendapat gaji sekitar 10 juta yen per tahun (Red. sekitar 1,4 miliar rupiah)," papar Toshio Sakamoto (71) khusus kepada Tribunnews.com sore ini (14/9/2018).

Sakamoto kelahiran 15 Desember 1947 sekolah SMA di Hiroshima Motomachi,  melanjutkan ke  Universitas Hosei jurusan hukum tetapi tidak lulus. Mulai 1 Januari 1967 menjadi karyawan penjara Osaka, pindak ke Kobe, kembali lagi ke Osaka, ke penjara Tokyo, penjara Nagano, penjara Kofu, penjara Kurobane di perfektur Tochigi di mana ketemu isterinya sekarang yang berbeda 18 tahun lebih muda dan akhirnya kembali ke penjara Hiroshima dengan pangkat terakhir Direktur penjara Hiroshima.

Selama pekerjaannya di penjara, 27 tahun, Sakamoto menyaksikan sendiri pelaksanaan hukuman mati kepada 150 orang.

"Stres juga saya tapi apaboleh buat inilah pekerjaan saya," paparnya lagi.

Untuk mengurangi stres tersebut pihak penjara membuat pelaksanaan kepada terhukum mati dilakukan tiga orang petugas tetapi tidak melihat penghukuman tersebut, hanya berhadapan dengan tiga tombol yang masing-masing orang secara bersamaan, setelah mendapat aba-aba, memencet tombol tersebut.

"Tiap orang tidak tahu siapa yang terkait dengan penghukuman mati terhadap terpidana. Hal ini untuk mengurangi stres apabila tombol dipencet oleh satu orang," tambahnya.

Lalu tombol itu tombol apa ya?

"Itu terkait lantai  yang terbuka otomatis apabila tombol dipencet pelaksana hukuman mati. Lalu terhukum yang sudah diikatkan tali akan jatuh sedalam kurang lebih lima meter, benar-benar mati tergantung dengan berat badan dia sendiri. Tangan terikat mata tertutup dan kaki juga terikat."

Setelah proses hukuman mati dilangsungkan sekitar 15 menit dokter memeriksa detak jantung terhukum. Apabila memang telah meninggal maka diangkat lalu dilakukan prosesi pembersihan jenazah dan dimasukkan ke peti mati.

Sejak dulu hingga sekarang proses hukuman mati di Jepang dengan menggunakan tali.

"Tidak ada yang menggunakan pistol atau ditembak, atau pakai gas atau pakai suntik, semua pakai gantungan tali diikatkan ke leher. Tali pun dengan diameter sekitar dua cm jadi besar sekali tidak akan putus seberat apa pun manusia itu."

Di Jepang sendiri hanya tahun  1964, 1968, 1990-1992 yang tidak ada hukuman mati.

Data dari tahun 1908 hingga kini, hukuman mati di Jepang paling banyak terjadi di tahun 1915 dengan 94 orang dilakukan hukuman mati selama setahun.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help