Mahfud MD Bicara di Depan Pelajar Indonesia di Jepang, Singung Nasionalisme Generasi Millenial

Mahfud MD., S.H., S.U.(61 memberikan wejangan kepada para pelajar Indonesia di Tokodai kampus Ookayama kemarin malam (8/12/2018) mengenai nasionalisme

Mahfud MD Bicara di Depan Pelajar Indonesia di Jepang, Singung Nasionalisme Generasi Millenial
TRIBUNNEWS.COM/Richard Susilo
Mahfud MD berfoto bersama dengan para pelajar Indonesia yang ada di Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U.(61 memberikan wejangan kepada para pelajar Indonesia di Tokodai kampus Ookayama kemarin malam (8/12/2018) mengenai nasionalisme Indonesia.

"Kekayaan alam Indonesia menurut KPK, hanya dari pertambangan saja, kalau dikelola negara dengan baik, maka sebenarnya rakyat bisa memperoleh uang dari negara tiap orang Rp.20 juta per bulan. Belum lagi kekayaan perikanan kita, dan lainnya," papar Mahfud MD.

Menurut  mantan Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 dan anggota pengarah Badan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu, apabila kekayaan negara tersebut tidak bisa dikelola dengan baik, maka ditakutkan nasionalisme khususnya para anak millenial akan luntur di masa depan.

Baca: Ceramah di Universitas Tokodai Jepang, Mahfud MD: Saya Tak Mau Tanggapi Twit Sampah

"Anak saya pulang dari New York setelah di wisuda dari Universitas Columbia. Saya sekolahkan di sana dia. Pulang ke Indonesia saya minta jadi dosen tidak mau karena gaji dosen cuma 4 juta sedangkan di sana saja belum lulus sudah diminta kerja dengan gaji besar. Anak millenial ya bitu itu. Kalau pemerintah tak bisa mengelola sumber daya alam dengan baik, bisa luncur nasionalismenya," paparnya.

Mahfud MD yang baru pulang dari Australia juga menceritakan pengalamannya di sana.

"Saya baru pulang dari Australia. Ternyata kerja satu jam bisa dapat 12 dolar Australia. Di Indonesia, banyak orang miskin, banyak kekayaan alam tidak dikelola baik. Nah itu tugas kita untuk membangun bangsa agar semua kekayaan alam nantinya bisa dikelola dengan baik bagi kesejahteraan rakyat kita sendiri," paparnya lagi.

Mahfud MD pun menyinggung pula kisahnya saat mau menjadi wakil presiden.

"Di dalam politik tidak ada kawan abadi tidak ada lawan abadi, semua ada kepentingan. Biasa suatu waktu ada belokan terjadi perubahan di saat terakhir. Lihat saja saya saat mau jadi wakil presiden. Ya tidak apa tidak jadi wakil presiden memangnya saya harus marah? Mau apa sih? Lalu saya berpikir begini. Saya berpikir kepada Tuhan, mungkin suatu saat saya dapat yang lebih baik dari sekarang," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan sangat meriah dari semua yang hadir.

Saya kan tidak diumumkan sebagai wakil presiden ya tidak apa-apa. Coba lihat saja pendahulu kita yang pernah jadi presiden, saya tak rugi apa-apa kok.

"Lihat Bung Karno sudah jadi presiden diusir dari istana, Soeharto sudah jadi presiden diusur dari istana, Gus Dur jadi presiden diusir dari negara. Mereka berkorban luar biasa. Saya tak diumumkan jadi wakil presiden ya sudahlah, mau ngapain?"

Selain itu Mahfud MD juga mengaku sebagai orang desa yang tak pernah bayangkan sebagai pejabat.

"Saya orang desa tak pernah bayangkan sebagai pejabat. Sejak kecil hidup jadi petani di Madura, kemudian sudah banyak yang diberikan oleh Tuhan, menjadi Menteri Menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi menjadi Anggota badan pengarah BPIP, masak ngambek karena tidak jadi wakil presiden? Kita harus bersyukur semua karena kita dapat rahmat telah merdeka bisa seperti sekarang dan kalian bisa berada di Jepang saat ini.

Politik menurutnya, memang suka tidak masuk akal bisa terjadi suatu secara mendadak, jadi harus siap, tekannya.

"Dulu ada orang yang pernah mengatakan begini, Aku berlindung kepada Allah dari politik dan politikus agar dijauhkan dari setan. Politik dan politikus itu tak bisa dihindarkan maka ada politik dan politikus yang lain yang kadang jadi korban, ya tak apa kan," langsung disambut tawa lagi para peserta diskusi.

Diskusi dengan pelajar Indonesia di Tokodai kemarin malam dihadiri sedikitnya 70 orang dengan moderator Prof Mohammad Aziz yang juga dosen Tokodai, Institut Teknologi Tokyo (TIT).

Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved