• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 30 Juli 2014
Tribunnews.com

Ini Kata Mereka yang Pernah Mengonsumsi Permen Karet Cinta

Rabu, 6 Februari 2013 03:53 WIB
Ini Kata Mereka yang Pernah Mengonsumsi Permen Karet Cinta
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Permen karet pembangkit libido wanita sudah beredar dan digemari di Surabaya.

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Jemari Astrid (bukan nama sebenanrya) membolak-balikkan bungkusan warga perak berisi permen karet perangsang libido.

Dia ingin lebih teliti melihat. Sudah lama perempuan 26 tahun penasaran dengan permen keret itu, namun baru sekarang dia mendapatkannya.

Kata Astrid, permen karet beraroma buah strawberry bisa menambah libido perempuan. Dia mendapatkannya dari seorang teman sekantornya di sebuah bank swasta di kawasan Jalan Pemuda, Surabaya. Temannya menyebut permen karet 'Cinta'.

Sudah dua hari Astrid menyimpan permen karet itu. Dia tidak langsung mencobanya. Rasa penasarannya belum ingin dia obati, karena khawatir ada efek samping langsung yang akan dia terima setelah mengonsumsi permen ini. Astrid baru mengonsumsi permen itu setelah dua hari menyimpannya.

“Saya sedikit ragu terkait efek permen ini. Tapi setelah mencobanya, efeknya memang ehmm,” katanya sembari tertawa kepada Surya (Tribunnews.com Network) pekan lalu.

Keraguan Astrid bahwa obat ini berefek buruk bagi tubuhnya, tidak terbukti. Dia mengaku permen karet itu bekerja persis seperti yang digambarkan temannya di kantor.

Menurut Astrid, efek erotis permen itu mulai terasa 15 menit setelah mengunyahnya. Dia merasakan ada dorongan yang kuat untuk berhubungan intim. Kondisi yang agak sulit dia alami selama ini.

“Saya pekerja, suami saya juga pekerja. Jadi kalau pulang, kadang saya yang tidur dulu, kadang suami saya. Biasanya hanya akhir pekan kami berhubungan,” ungkap ibu satu anak.

Kebetulan saat itu suaminya juga baru kembali dari kantor. Tanpa menunggu akhir pekan, Astrid melampiaskan hasratnya.

“Suami saya sampai kaget, karena tidak seperti biasanya saya seperti itu,” ucapnya terkekeh.

Namun, dia mengakui bukan hanya permen karet yang memengaruhi libidonya. Faktor dengan siapa dia akan berhubungan, juga menjadi yang utama. Astrid mengatakan, dia tidak akan melampiaskan hasratnya jika tidak dengan sang suami.

“Kalau saya mengonsumsi permen itu kemudian di sebelah saya bukan suami saya, jelas tidak akan mungkin saya melakukan itu. Libido naik, tapi tidak bisa saya lampiaskan ke orang yang bukan suami saya,” jelasnya.

Astrid juga mengakui cerita-cerita di balik permen karet Sex Love memberikan sugesti baginya. Cerita dari temannya, membantu mempercepat kerja permen karet, hingga hanya 15 menit dia sudah bisa merasakan efeknya.

Dia menceritakan, permen karet itu bekerja sangat cepat, namun terasa slow. Astrid berujar, jantungnya tidak berdebar saat mengonsumsi permen karet ‘cinta’.

“Setelah mengunyah permen karet itu, ya seperti biasa saja. Secara fisik, jantung tidak sampai ndrodok,” ungkapnya.

Esoknya, Astrid menceritakan pengalamannya kepada teman sekantor. Dengan cepat, permen karet ini menjadi perbincangan hot, terutama pegawai perempuan di kantor.  

“Teman-teman lain penasaran semua. Tapi, karena permen karet ini tidak dijual di toko bebas, jadi sulit mendapatkannya. Permen ini hanya bisa dibeli lewat internet, itupun tidak langsung mendapatkannya,” beber Astrid.

Meskipun permen ini bisa membantu keharmonisan rumah tangga, Astrid mengaku tidak akan menjadi konsumen tetap permen karet ini. Dia ingin kehidupan seksnya berjalan alami.

“Kalau dikasih lagi sih saya mau. Tapi kalau sampai berburu di internet, kayaknya tidak ya. Mungkin permen itu lebih cocok untuk perempuan berusia 40 tahunan,” paparnya sembari tertawa.

Astrid mengingatkan, permen ini tidak bekerja untuk ketahanan fisik. Dia tetap merasakan lemas setelah berhubungan seks, kondisi yang lazim dia rasakan sebelumnya.

“Permen karet ini hanya meningkatkan libido, dan bukan untuk penambah daya,” terangnya.  

Siska, wanita asal Medan, juga mengaku bahwa permen karet tersebut tokcer.  

“Memang ada rasa mual saat merasakan permen itu. Makanya enggak saya kulum lama. Sesaat saja terus saya buang,” katanya.  

Namun, lanjut Siska, beberapa menit kemudian ada rasa beda dalam dirinya. Tubuhnya terasa bergetar lantaran tak bisa menahan hasrat yang muncul di bawah sadarnya.

Namun, ternyata efek permen karet sex love tidak selalu sama untuk setiap perempuan. Terbukti, Feny Hartono mengaku tidak merasakan apa-apa usai makan permen karet tersebut.  

“Yang ada malah mual. Apa karena saya memang tidak pernah makan permen karet ya,” celetuk istri drummer Kunto Hartono.  

Setelah merasa mual, ibu satu anak ini tidak merasakan dampak lain dalam tubuhnya.

“Biasa-biasa saja kok,” ujarnya.

Warga Surabaya mengaku juga pernah ditawari permen sejenis oleh temannya yang tinggal di Gresik.

“Jenisnya sama seperti yang ditawarkan oleh teman saya itu. Cuma harga yang dia tawarkan lebih mahal, Rp 110 ribu per bungkus (isi lima permen),” ujar Feny.

Tawaran temannya itu tak ditanggapi Feny, karena selama ini ia tak mengalami masalah saat berhubungan intim dengan suaminya.

“Selama ini kami masih sangat hangat kok,” cetusnya sambil bersandar mesra pada bahu Kunto, yang menyambut dengan kecupan di keningnya.

Soal reaksi yang berbeda ini, Dini, seorang distributor permen karet cinta, punya jawabannya.

Menurut Dini, perempuan yang makan permen karet sex love sebaiknya tidak tahu bahwa dirinya sedang menikmati permen yang bisa meningkatkan libidonya.

Karena, secara psikologis perempuan ini akan menanti reaksi yang bakal terjadi pada dirinya.

“Saya memang tak paham istilah medisnya, tapi bisa jadi karena menanti efek yang terjadi, malah tidak merasakan apa-apa. Jadi, sebaiknya tidak tahu kalau permen yang dikonsumsi itu mengandung ‘sesuatu’,” saran Dini. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1409522 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas