Tradisi Nyotaimori, Makan di Atas Tubuh Wanita Telanjang

Jumat, 12 April 2013 20:17 WIB

Tradisi Nyotaimori, Makan di Atas Tubuh Wanita Telanjang
www.123rf.com
Sushi

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Satu dari gaya jamuan makan malam kalangan khusus di Jepang, termasuk kalangan Yakuza - mafia Jepang. Satu orang termasuk minuman keras harus bayar sekitar 15.000 yen atau sekitar Rp 1,4 juta (kurs Rp 98 per yen). Makan sushi atau sashimi yang ada di atas "piring" berupa tubuh wanita telanjang.

Itulah Nyotaimori, artinya makan di atas tubuh wanita, termasuk salah satu budaya Jepang yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, hanya di kalangan tertentu, kalangan eksklusif saja, seperti kalangan lingkungan raja-raja di masa lampau. Lalu akhir tahun 1990-an populer di Jepang. Namun kini dilarang di Jepang.

Mekipun demikian secara sembunyi-sembunyi, hanya kalangan eksklusif tertentu saja, biasanya bisa menikmati Nyotaimori. Lawannya, lelaki telanjang, disebut Nantaimori. Namun hal ini tak pernah ada, karena dianggap sangat merendahkan derajat lelaki di Jepang (yang notabene negara lelaki).

Tanggal 14 Februari 1998, sebanyak 33 orang dari Junior Chamber International Japan
 di sebuah restoran bawah tanah, pada suatu hotel yang berada di depan stasiun Asahikawa, Hokkaido, mengadakan pesta Valentine dengan santapan Nyotaimori tersebut.

Gadis berusia  16 tahun telanjang bulat sebagai tokoh Nyotaimori, dan di atasnya diletakkan sushi maupun sashimi, lalu disantap para bos, termasuk pimpinan chamber tersebut dan seorang anggota DPRD Hokkaido. Mereka akhirnya ditangkap polisi karena melanggar UU Anti Prostitusi dan UU Perlindungan anak di bawah umur. Kasus itu dimuat majalah Flash, tanggal 3 November 1998.

Pelaku wanita Nyotaimori sebenarnya tidak bisa sembarangan. Harus ada pelatihannya. Harus tahan geli, bisa tenang sehingga dapat mengatur suhu badan tetap dingin. Jadi sebelum melakukan dia harus mandi, bersih, semua rambut tubuh, termasuk rambut yang di bawah, harus bersih (dicukur).

Halaman
123
Editor: Widiyabuana Slay
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help