Pemilihan Gubernur DKI

Faisal Berharap Pengelolaan Air Bersih Kembali ke Warga

Calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen Faisal Basri dalam kunjungannya ke kawasan Jakarta Utara di kampanye hari keempat

Faisal Berharap Pengelolaan Air Bersih Kembali ke Warga
Mochamad Faizal Rizki/Tribun Jakarta
Faisal Basri

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen Faisal Basri dalam kunjungannya ke kawasan Jakarta Utara di kampanye hari keempat menyerukan remunisipalisasi atau pengembalian pengelolaan air bersih ke tangan warga.
Faisal selama ini menerima keluhan warga dan juga melihat sendiri kesulitan mereka untuk mendapatkan akses ke air bersih.

"Lokasi yang dekat dengan laut menyebabkan air tanah di wilayah utara, khususnya Penjaringan, Cakung dan Cilincing tidak layak untuk digunakan," kata Faisal di Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (28/6/2012).

Dia menambahkan, mereka yang berlangganan air dari PT. Palyja, salah satu operator yang mengoperasikan air bersih, sering mengalami masalah karena air hanya mengalir pada jam-jam tertentu.

"Bahkan pada pagi hari atau sore hari, air hanya menetes," kata Faisal.

Akibatnya, tambah Faisal, warga harus mencari akses lain untuk mendapatkan air bersih.
Salah satu caranya adalah dengan membeli air dalam satuan jirigen, dan harga per jirigen rata-rata Rp.3.000-Rp 5.000.

"Setiap hari warga membutuhkan 3-4 pikul jirigen sehingga pengeluarannya untuk air bersih per hari adalah Rp.15,000. Bagi warga yang umumnya pekerja informal dan buruh dengan penghasilan kurang dari Rp.30.000 per hari, kesulitan air bersih adalah bencana untuk mereka," kata Faisal.

Bahkan, kata Faisal, di Taman Sari, Jakarta Barat, warga harus mengeluaran uang Rp.100.000 per hari untuk air bersih, Faisal menilai, ada dua masalah yang selalu muncul yakni pembangunan infrastruktur pipa dan water loss.

"Masalah ini sebetulnya adalah alasan mengapa pemda Jakarta selama 15 tahun mengundang operator-operator swasta untuk mengelola air bersih," kata dia.

Namun hingga kini, walaupun telah berganti-ganti kepemilikan, PT PAM Lyonnaise Jaya (PT Palyja) yang mengelola bagian timur Jakarta dan PT Thames PAM Jay (sekarang PT Aetra) di bagian barat, belum menunjukkan kinerja yang memuaskan.

Faisal juga menuntut keterbukaan dalam penentuan tarif air. Saat ini, misalnya, tarif air di Jakarta untuk wilayah kerja Palyja mencapai Rp 7.800/m3 dan untuk wilayah kerja Aetra sebesar Rp 6.800/m3.

"Yang pasti harga itu lebih mahal dari daerah lain," kata Faisal.

Faisal mengatakan bahwa dia tidak rela jika warga yang sudah miskin diperas keringatnya hingga kering oleh swasta hanya untuk membayar air. Untuk mengatasi hal ini, Faisal mendukung upaya renegosiasi yang dilakukan untuk menghadapi operator yang bandel tersebut.

"Banyak hal yang perlu direnegosiasi, namun yang utama adalah evaluasi target kinerja khususnya pembangunan dan perawatan infrastruktur pipa. Para operator harus memenuhi rasio cakupan pelayanan dan target layanan," kata dia.

Faisal Basri menegaskan bahwa dalam kurun waktu 3 tahun, para operator itu harus bekerja keras menjangkau dan memperbanyak pelanggan mendekati 100%.
Bila para PT.PAM dan PT. Aetra tidak sanggup memenuhi target itu, Faisal Basri mengatakan tidak ada cara lain lagi selain remunilisasi pengelolaan kedua operator itu ke tangan warga.

Cara ini, kata dia, memang tidak lepas dari tuntutan risiko hukum karena perjanjian yang dibuat lima belas tahun lalu memang dibuat sedemikian rupa agar kerjasama itu tidak dapat dibubarkan.

"Ada ganti rugi yang jumlahnya sekitar Rp.5-6 triliun yang harus dibayar oleh pemerintah daerah bila hal itu terjadi," kata dia.

Meski demikian, Faisal tetap optimis, bila warga berdaya bareng-bareng dan setuju agar pengelolaan air di Jakarta diambil dari swasta dan dikelola kembali oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta, risikonya akan lebih kecil.

Ia memberi contoh warga di kota Varages, Durance-Luberon di Perancis, warga kota Wontara dan Atlanta di Amerika, dan warga di luar negeri lainnya yang telah berhasil me-remunilisasi pengelolaan air bersih dari operator swasta kepada warga kota.

Penulis: Mochamad Faizal Rizki
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved